[CERPEN] - CERBUNG: Sebuah Tanda Lahir Bagian ke-4

[CERPEN] - CERBUNG: Sebuah Tanda Lahir Bagian ke-4

Setiap manusia punya cerita. Aku dan kamu juga dia. Melewati berbagai proses, menumbuhkan kekuatan melalui sulur-sulur hati yang lembut lagi kuat. Bersiap untuk  menahan dinginnya sebongkah es, atau panasnya bara api yang membakar. Semua proses hanyalah training yang Dia hadiahkan pada kita, untuk kita menjadi pribadi yang bukan sekedar menjadi mayat hidup.

Semua bayi dilahirkan cerdas 

9.999 dari setiap 10.000 bayi itu

Dengan begitu cepat dan sembrono dijadikan tidak cerdas lagi oleh orang-orang dewasa Buckminster Fullierun. 

Begitu tulisan yang aku temukan di lembar buku biru yang hampir usang. Aku suka menyebutnya Ibool, seperti nama kucingku saat aku masih kecil yang kini telah tiada. 

Menjelang tidur Ibool  selalu menemani renunganku. Tulisan itu tertulis beberapa  tahun lalu saat aku sadar bahwa aku memiliki orang tua yang luar biasa. Bagiku Ibu adalah matahariku, dan Bapak  adalah peraduanku.

Masih sering tersenyum geli jika teringat masa kecilku, sering  bicara sendiri di depan cermin.  Meniru gaya bicara siapapun yang aku suka maupun kebalikannya. Bapakku, artis sinetron, para guru dan masih banyak. Ah.. sampai sekarang juga sebenarnya masih.

 “Singh-singkanh lenganh bajuh.. ayoh kitah melajuh, pacuh kecepatanmuh.. yakinh kitah pastih bisah, jalanan terjalh berlikuh akanh aku hadapih meski harus terpelset dan terguling aku pasti bisah…”menyanyi sendiri gaya Roma Irama. Sambil berdandan depan cermin.

“Ya ampun, nyanyi tuch yang enak didenger dong.. coba ya tadi gue rekam, aku up load di Youtube elo bakalan terkenal,ngalahin Briptu Norman Ga…gue kasih judul, mahasiswi gila asal indonesia” Anna meringis senang. 

“Sini kamu minta tanda tanganku sekarang aja, kalau aku udah terkenal mahal lo tanda tanganku.. hahahaha”

 “Ya ampuunnn…. Capek dech..?”. 

“Hahaha… udah ah berangkat yuck keburu siang, bagaimana penampilanku hari ini?”  berdiri didepannya, kutunjukkan penampilanku. Rok jeans kupadukan dengan hem kotak-kotak hijau kombinasi putih, dilengkapi dengan sepatu warna hitam dan tas ransel hitam.

“Coba liat, tasnya engga match sama bajunya, pinjem punya gue dulu”

  “ Aduh.. lain kala aja.. mepet jamnya keburu masuk nich” jawabku

“Masih sepuluh menit kok…gue nggak seneng, kalo mereka selalu menganggap elo orang jadul, nggak keren, kuper dan juga Oon.. elo tuch cantik, Cuma penampilan elo aja yang amburadul” 

Dia memang selalu begitu. Pernah suatu hari aku tampil menjadi salah satu pembicara dalam seminar yang diadakan di kampus. Ia yang habis-habisan mendandaniku, ia bilang aku harus mengenakan model pakaian yang belum dipakai oleh siapapun di kampus

Aku tak keberatan asalkan masih dalam batas normal. Hanya saja yang membuat aku jengkel adalah  Spool Heels hak besar dan lebar di bawah dengan bagian atas yang lebih kecil dan ujungnya yang lancip bertali dan panjang hingga lima belas centi meter di atas mata kaki itu, membuatku tak dapat berjalan selama tiga hari. Beberapa menit pertama aku masih merasa nyaman tak ada masalah, namun saat berdiri di depan podium ketidak nyamanan itu mulai muncul, dan sayang aku tak bisa melepas Spool heels itu tanpa  bantuan Anna. Aahh… begitulah aku tanpa Anna, hal kecil begitu tak bisa kuselesaikan sendiri. Mungkin itu yang membuat persahabatan antara aku dan Anna sudah seperti candu, bahkan mungkin lebih dari saling membutuhkan, lebih dalam lagi karena kita saling menyayangi.

“Biarin aja na… mereka punya hak buat menilai orang kok..” ucapku sambil mengganti tas jinjing warna hijau tosca milik Anna.

“No…no..no…gue nggak terima”

Sejurus  kemudian Intan yang baru keluar kamar membeli sarapan datang.

“Eet…daah… ffiiuuhh…ada yang beda nih, kelihatan lebih rapi, kaga’ awut-awutan kaya biasanya” sambil menenteng tiga bungkus meehoun panas, Intan menerocos dengan bibir mencucu. 

“Nahh… beginikan enak diliatnya, orang liat elo jadi nggak sepet” ujar Anna yang terlihat sudah siap untuk kuliah,sambil menenteng beberapa buah buku dan laptop di tas punggungnya.

“ Ah… kalian ini, bisa aja kalo memuji , berangkat yuck, keburu telat, Jamnya Mr. Fadhly nich, telat nggak boleh masuk”ucapku

“Eit…eit… gimana nasib meehounya nich?” Tanya Anna

“Masukin dalam tempat makan saja,nanti kita makan waktu istirahat” ujar Intan, sambil berlari ke meja belajarnya,  mengambil meehoun dan ia masukkan ke dalam wadah.

Intan yang selalu berpikir santai saat dalam keadaan kalut seperti apapapun, cocok sekali mendampingiku yang mudah gusar dan gugup. Duniaku ramai diisi canda tawa bersama mereka,berburu buku,diskusi,mencari bahan tugas kampus, belajar bersama, nonton filem humor di gedung bioskop dan hunting makanan enak, meskipun kadang tak selalu aku mengikuti gaya hidup mereka.

“Udah yuk cap cus…” ajakku 

Sebelum menghambur keluar kamar, kami satukan tangan kanan dan meloncat sambil berteriak

“Semangattttttt…..!!!!!”

Sesampainya di kampus. Melihat ratusan-ribuan manusia berlalu lalang. Sibuk dengan urusan masing-masing. Ada beberapa duduk bergerombol di serambi kelas, bawah pohon rindang. Ada yang sibuk dengan hand phonenya, sibuk membaca buku, bahkan ada juga yang sibuk ngerumpi. Di media pengumuman banyak sekali tertancap berbagai pamflet mengenai seminar, tulisan-tulisan mahasiswa dan juga lowongan kerja. Dicari surveyor

“Eh..eh Na, ada sampingan  nich, buat ngisi waktu luang lumayan”

“Apaan?”

“Surveyor”

“Ikutan yuckkk”

“Hayukkk..”

“Gua juga ngikuuuttt…” sambung Intan

Perjodohan

Langit pagi ini cerah biru menyenangkan. Melihat silaunya akan sangat melukai mata tanpa perlindungan kaca mata hitam anti UV. Dua-tiga burung beratraksi terbang entah ke mana. Menghirup udara segar pagi yang memenuhi dada, membuat suasana hati lebih baik. Tapi sepertinya bukan karena udara pagi yang membuat pohon-pohon seakan berbunga penuh warna membuat mata segar memandang. Bukan juga karena udara pagi ini yang membuat burung-burung berkicau menyanyi seiring irama hatiku. Ada gelombang air yang beriak tenang namun mengusik hatiku. Si tompel hitam.

Beberapa waktu yang lalu, kami coba kirimkan lamaran untuk menjadi surveyor, alhasil kami diterima dan akan mulai aktif menyurvei hari ini. Ke sebuah tempat yang akan dijadikan target untuk pembangunan hotel bintang lima sekaligus life style mall. Sebuah perusahaan developer yang ingin mencoba tahu lebih dalam bagaimana tanggapan mereka jika tempat mereka bermukim saat ini akan dijadikan hotel berbintang, sebagai gantinya mereka akan dipindahkan ke lain tempat.

Berpakaian serapi mungkin, aku pinjam kemeja putih milik Anna. Menenteng tas jinjing layaknya petuga sensus penduduk, berisi ratusan lembar kuesioner. Memasuki rumah demi rumah menyusuri tiap-tiap gang yang sempit. Sampai kering kerongkongan seharian tiada berhenti bicara, menjelaskan dan membantu mengisi kuesioner sebab kebanyakan mereka adalah orang tua yang masih belum lancar dalam menulis.  

Tiga hari telah kami habiskan waktu untuk survey habis memasuki tiap rumah. Dan malam ini adalah saat kami harus melembur untuk pengolahan datanya, untuk kemudian besok pagi hasilnya kami kirim.

***

Pagi-pagi HandPhoneku berdering. Notifikasi sms banking. Telah terima transfer dari  Wijaya Erlangga, Sdn.Bhd. Lumayan buat tambahan uang jajan.

Bersiap beraktivitas lagi hari ini penuh semangat!.

Menunggu lagi di halte bis. Dengan beberapa penumpang lain. Duduk-duduk malas, sambil menikmati es krim rasa coklat. Sekejap rasa bosan melenyapkan diri. 

“tiiin….tiinnnn..” suara klakson mobil. Tepat di depan mataku. Mobil itu lagi. Wajah itu. 

“Naiklah..”

“Mau ke mana?”

“Ke mana saja”

“Oke,,,” aku membuka pintu. Memasukinya disambut lagi oleh dinginnya pendingin mobil. Musik itu terdengar lagi. Memenuhi ruang dengar. Begini adanya selama satu minggu terakhir. Bagai jadi sopir pribadiku. Dan kabarnya banyak para wanita yang patah hati dengan kejadian ini. pengeran pujaan hati mereka, tiba-tiba sering menghilang bersamaku di taman asik bercerita seru.

Aku mematikan pendingin mobil.

“Kenapa pula dioffkan?”

“Coba semua jendela mobilnya dibuka” Adam menurut. Membuka semua jendela mobilnya. Membiarkan udara segar alam lingkungan kampus yang masih ditumbuhi pepohonan rindang di beberapa tempat. Tangan kiriku terlentang menyambut segarnya udara. Menyentuh sela-sela jari. Mengibarkan rambutku. 

“Lebih menyenangkan bukan?” tangan kanan Adam mengikutiku. Menyambut segarnya udara.

“Iya bestnye. Really comfort”

“AC 600 watt yang menyala selama satu jam setiap harinya selama satu tahun menghasilkan emisi sebesar 160 kilo gram CO2 per tahunnya. Ketika kita ramah dengan alam. Alam akan jauh lebih ramah pada kita. Tapi jangan salah, acuh tak acuh pada alam. Alam akan lebih buas menendang manusia dari muka bumi ini.”

Sebelum mengantarku pulang. Kami duduk di food court depan asrama. Menikmati ice cream, sambil melihat atraksi lempar bola, yang dipantul-pantulkan raket tennis oleh beberapa orang. Dari tempat kami duduk, sangat jelas lapangan tenis itu terlihat.

“Siapa idola kau semasa kecil ga?”

“Idola? Bapak Ibuku dong”

“Why?”

Aku menceritakan banyak hal padanya tentang bapak dan ibuku.

Bapakku Supendi adalah bapak terhebatku. Selalu digendongnya aku di pundak beliau. Berlari memutari halaman sekolah.Aku  selalu menjadi murid yang berangkatnya paling awal. Bapak mengajarkanku untuk selalu menjadi yang pertama. Bangganya bapak mengantarku sekolah. Sebelum aku masuk kelas bapak menekuk kedua lututnya, hingga kedua mata kami bertemu sejajar. Bapak menatapku lama. Pandangan lembut. Sebait kata majik yang selalu ia sampaikan menjadi sarapan dahsyat untukku nak.. dalam setiap jiwa manusia memiliki kehebatan yang tidak dimiliki orang lain, maka temukan dia dalam jiwamu, dan katakan pada dunia, aku bisa,… kata-kata majik yang penuh sihir menjadi  bahan bakar yang menggerakkan dynamo dalam tubuhku untuk selalu berprestasi. Setiap menerima rapor, bapakku selalu menggendongku keliling kampung dan mengatakan  anakku rangking siji. 

Ibuku, Indah Suryani, adalah surya yang selalu menerangi hidupku. Ibu selalu mengajarkan kesederhanaan, kesabaran,kerja keras tapi tidak ngoyo  dan Ibu selalu katakan, Allah tidak melihat kerja seseorang dari hasilnya melainkan dari prosesnya. Yang di dalamnya menuntut kesabaran, perjuangan, keikhlasan dan kerja keras serta tawakal. Ibu juga mengajarkanku arti hidup. Setiap sebelum tidur, dalam pelukannya, ibu selalu mendongengkan cerita-cerita yang membuatku paham, tentang arti kasih sayang, tentang nilai kejujuran, amanah yang harus kita jaga, kemandirian dan rasa percaya hanya pada Allah. Dalam keadaan seperti apapun kita tidak perlu takut, karena Allah selalu berada di sisi kita.

“Heeeehhh…  bahagianya hidup memiliki orang seperti mereka” aku tersenyum simpul.

“ Memiliki orang tua seperti mereka pasti sangat menyenangkan..”

“Memiliki orang tua sepertimu pasti juga sangat menyenangkan kok” ucapku mencoba menghiburnya.

“Hhhh.. entah, sampai sekarang rasanya saye belum lagi dapat merasakannya”

“Tak merasakannya, sebab kau tak mencoba menyukuri apa yang ada. Bagaimana mau bersyukur, orang liat punya orang selalu baik, kalau punya sendiri jelek. Cara pandangmu yang mungkin perlu dirubah bang, kalau istilah jawanya, orang itu sukanya wang sinawang”

“Wang sinawang? Apa itu?”

“Jadi kalau manusia itu sukanya melihat apa yang dipunya orang lain, dan bahayanya melihat mereka itu lebih baik dibanding kita, padahal belum tentu. Menerima dengan ikhlas apa yang kita punya itu yang terbaik”. Adam mengangguk-anggukan kepalanya. Sesekali lidahnya menjilat-jilat es krim yang tinggal seperuh di batangnya.

“Sudah punya pacar?” Pertanyaan ini meluncur begitu saja tanpa aku sadari.

“Hhhhgg..huuggg..” Adam tersedak. Aku mengambilkannya air mineral dari dalam tasku

“Are You okay?”

“Maaf.. ”. Aku mengeluarkan tisu, lantas aku berikan padanya untuk mengelap bibirnya yang belepotan oleh es krim coklatnya.

“Pacar? Sepertinya aku tak punya lagi kebebasan untuk mempunyai pacar”

“Kenapa?”

“Sejak kecil aku sudah dijodohkan dengan Hazelin anaknya pak Erlangga, sahabat Ayahku. Pak Erlangga banyak berjasa dalam kehidupan keluargaku. Ia sudah lama meninggal. Sebelum meninggal dia berwasiat untuk perjodohan ini. Aku tak bisa berbuat apa-apa.“. Sejenak aku terhenyak mendengar lontaran kalimat demi kalimat, berusaha mencernanya. Semakin lama mencernanya rasanya desir darah mengalir sangat cepat. Panas membakar dadaku. 

Hazelin, siapa dia. Mendengar namanya saja aku lemah lunglai, bagai layang-layang terhempas lepas dari benangnya.

***

Lelaki Bertopi Merah

Perasaan seperti apalah ini yang mampu membuat lidahku terasa pahit. Tubuh seperti kehilangan rangkanya. Lemah lunglai oleh perasaan yang tak aku fahami. Hari-hari terasa jadi sangat melelahkan, oleh pikiran yang terus bergelanyut tak tentu arah.

Di siang yang panas mataharinya seakan menggigit-gigit kulit aku berjalan kaki bertemankan udara.  Menyusuri jalan menuju perpustakaan Dr. Abdul Latiff. Jalanan cukup lengang aku sebrangi jalan pelan, tanpa sadar sebuah Chevrolet hijau muda berkecepatan tinggi menuju ke arahku.

“Ttiiiiiiinn…. Tiiinnnn….tiiinnnn…”aku kaget bukan kepalang

“Aaaaaahhhhhhh……” aku teriak  sekencang mungkin, menggigit bibir dan refleks menutup wajah dengan  kedua telapak tanganku. Secepat kilat, sebuah tenaga dahsyat mendorongku ke tepian hingga aku terpungkur jatuh dalam rerumputan pendek trotoar. Nyaris menabrakku. Aku pikir aku sudah tertabrak, ternyata aku diselamatkan seorang pria berjaket kulit hitam. Topi warna merah sedikit menutup wajahnya. Sekilas aku melihat siluet wajah itu.  Aku cepat-cepat berdiri dan mengucapkan terimakasih, namun lelaki itu cepat-cepat berjalan menjauh.

“Hai…. Nama Anda siapa?” ucapku setengah teriak, ia tak menoleh sedikitpun

“Terimakasih banyak telah menolongku, ” ucapku teriak, ia hanya terus berjalan sambil melambaikan tangan tanpa menoleh,

“Tak akan aku lupakan jasamu sampai kapanpun,,” ia terus berjalan hingga hilang di tikungan ujung jalan. Misterius sekali lelaki itu, sepertinya bukan hanya kali ini aku mengalami kejadian yang sama, aahhh… entahlah kapan.

Aku ingin pergi ke suatu tempat, melepaskan semua rasa yang tak wajar yang tak seharusnya aku pelihara. Dari kejauhan terlihat mobil Adam mendekat

“Mega naiklah”

“Mmmm… tidak aku ada acara , lain kali saja ya. Terimakasih”

“Tumben-tumbenan ada acara?”

“Iya. Mendadak juga kok..”

“Baiklah, take care. Bye.”

“Bye..” aku melambaikan tangan. 

Ke KL central aku menuju loket digital. Menekan tombol stasiun bukit bintang. Memasukan uang. Karcis keluar dan uang kembalian otomatis keluar dari loket mesin digital.

Di pinggir jalan aku duduk menikmati makanan kesukaan jambu biji dingin yang renyah dibubuhi bubuk asam. Beberapa orang juga duduk di sana menikmati sajian musisi jalanan yang tengah beraksi. Aku lantas mengeluarkan Ibool.

Terimakasih Tuhan, kau telah kirimkan lelaki bertopi merah hari ini yang menyelamatkan aku yang nyaris tertabrak mobil. 



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 8, 2020, 10:43 AM - Deni Riyandi
Apr 23, 2020, 3:26 PM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma