[CERPEN] - CERBUNG: Sebuah Tanda Lahir Bagian ke-3

[CERPEN] - CERBUNG: Sebuah Tanda Lahir Bagian ke-3

Perjalanan dari Bangi ke Kelantan terasa hanya sekejap. Zannet yang awalnya berwajah tegang, sekejap ketegangan itu sirna. Entah ada magnet apa yang ada dalam diri Adam. Kata-katanya bagai majik. Obrolan-obrolan menyenangkan meluncur dari mulutnya sepanjang jalan.

Tiba di sebuah rumah berhalaman luas, bercat hijau muda dan taman yang dipenuhi dengan bunga, warna-warni menyegarkan mata. Gemericik air yang mengalir ke kolam ikan memberi kesan damai. Tangan Zannet yang gemetaran membuka pintu, pelan-pelan ia memasuki rumah. Kami membuntuti dari belakang.

“Abah…” seketika seorang pria berkumis putih, yang tengah duduk di depan mesin jahitnya tergirap bangkit. Sedikit menurunkan kacamatanya hingga bertengger di hidungnya.

“Oiq.. Zannet?”

“Abah….” Zannet menghampiri Ayahnya. Memeluknya

“Amak..Zannet datang..” Ayahnya berteriak kegirangan. Tak berapa lama datang seorang wanita separuh baya, masih mengenakan celemeknya. 

“Zannet… kau datang nak?”

“Amak.. iya, Zannet datang.. Zannet rindukan amak” mereka berdua berpelukan. Menangis bahagia

“Mereka berdua siapa?” Tanya Ayahnya pada Zannet sambil memandangi Aku dan Adam yang masih berdiri tak jauh dari pintu masuk.

“Mereka, orang yang sudah membantu Zannet Abah, nanti Zannet ceritakan”

“Oh.. begitu, mari silahkan duduk” kami semua lantas duduk di sofa ruang tengah kecuali ibunya ia kembali ke dapur

“Raffi tak datang?”

“Tidak abah?”

“Kenapa? Ia selalu sibuk, abah pikir kau sudah teracuni pikirannya oleh suamimu itu. Dah berapa lama kau tak balik?”

“Maafkan Zannet Abah… Zannet juga rindu, tapi…” Zannet yang duduk persis di samping Ayahnya, lalu meletakkan kepalanya di pundak Ayahnya. Aku dan Adam saling berpandangan, tersenyum melihat tingkah Zannet yang bisa lagi akrab dengan Ayahnya. Tak seperti yang ia bayangkan sebelumnya.

“Abah.. maafkan Zannet, dulu tak dengarkan nasehat Abah..”

“Kenapa kamu bilang begitu?”

“Ternyata benar apa yang dikatakan Abah”  

Zannet memperlihatkan beberapa luka lebamnya akibat kekerasan yang dilakukan Raffi. Lega sekarang akhirnya Zannet bisa kembali ke orang tuanya tanpa masalah. Kami pamit pulang. Kembali pulang, menyusuri jalan yang berbeda.

“Mega aku mau pergi ke suatu tempat. Kau keberatan jika kita mampir sebentar”

“Jauh?”

“Tidak,,, paling lima menit dari sini”

“All Right No Problem”

 

Dalam hitungan menit mobil sudah berhenti di depan bangunan. Ia bilang ini rumah, tapi bukan selayaknya rumah. Lebih mirip dengan kandang kuda. Bangunan bertembok kayu yang bangunannya sudah miring ke kanan. Penerangan remang-remang menyinari teras rumah yang tak ada apa-apa melainkan kursi panjang dari kayu bercat kuning. Di depannya ada pekarangan kecil, beberapa melati tumbuh di sana. Adam mengetuk pintu berkali-kali. Tak ada jawaban.

 

“Mungkin makcik pergi ke seberang jalan, biasanya jam segini sudah pulang, menunggu sebentar apa kau keberatan Mega?” aku menggelengkan kepala, sambil tersenyum. Kami berdua duduk di kursi panjang itu. 

“Makcik siapa?”

“Ibuku, maksudku aku sudah menganggapnya seperti ibu kandungku sendiri?”

“Owh…”

“Kami sangat dekat. Dulu aku tak pernah mengenal kasih sayang ibu. Ibu selalu sibuk dengan urusan bisnisnya, tak ada bedanya dengan ayah. Aku diasuh oleh orang suruhan ibu. Makciklah yang mengasuh, sudah seperti ibuku sendiri”

“Oh… berarti kebalikan denganku ya” 

“Maksudmu?” tanyanya, mengernyitkan dahi. Aku menghela nafas. Ia memainkan kunci kontaknya berputar-putar di jemarinya.

“Secara finansial aku tak seberuntung dirimu, tapi kasih sayang orang tuaku luar biasa. Meskipun perjuangan saat itu memang tak ringan. Saat aku masih SD aku terbiasa mengenakan  sepatu bekas pemberian tetangga. Sepatu yang kondisinya sudah  tak sempurna. Terkadang talinya yang lepas, warnanya yang sudah pudar atau berlubang dibagian bawah. Saat hujan, kaos kakiku pastilah akan basah”. Dia memandangiku dengan seksama, kini jemarinya tak memainkan kontak mobil. Aku terdiam

“Kenapa diam? Lanjutkan”

“Tertarik dengan ceritaku?” Ia mengangguk sambil tersenyum. Senyum yang manis sekali. Aku senang dia mau menyimak ceritaku, aku biarkan alam pikiranku menjamah masa lalu. Kadang buatku tersenyum, tak jarang juga buatku menangis.

“Mega Suryani mereka menyematkan harapan dan do’a dalam namaku. Berharap agar kelak aku bisa menjadi wanita tangguh,yang kehadirannya selalu berarti untuk yang lain. Seperti matahari yang selalu dibutuhkan oleh setiap makhluk hidup. Kami tinggal di rumah kecil bertembok anyaman bambu dan beralas tanah..” 

 

Aku pindah posisi duduk, berlendehan.  Menyaksikan panorama langit yang luar biasa indah. Angin segar menghembus pelan membawa harum aroma melati di pekarangan rumah.

“Tak bisa dihindari,terkadang rasa iri menyelusup sela-sela hati, menyentuh sisi negatif manusia, hingga mulai tumbuh protes pada Tuhan. Merasa Tuhan tidak adil padaku, ketika aku melihat temanku yang selalu memamerkan sepatu  barunya, boneka baru,  nonton doraemon di bioskop, bisa membeli jajanan apapun yang mereka suka. Semua itu tidak bisa terpenuhi oleh orang tuaku yang seorang buruh bangunan dan buruh cucian. Namun aku sadari pelajaran baru dalam hidup di Sabtu sore saat musim hujan”

“Pelajaran apa itu?”

“Saat itu, aku masih duduk di bangku SD. Melly temanku yang selalu memamerkan sepatu dan barang-barang barunya, merengek ingin tidur di rumahku yang sempit, tak seperti rumahnya yang berlantai dua besar dan mewah. “Aku benci pulang” ucapnya selalu begitu. Terang saja, bagaimana mau betah di rumah kalau di rumah Ia selalu mendengar Ayahnya meneriaki ibunya. Mereka selalu bertengkar, terdengar barang-barang  dilempar dan rumah menjadi berantakan karena itu, kemudian suara pintu yang ditutup keras-keras, pertanda Ayahnya pergi dan kembali saat pagi.Mulai hari itupun tak aku ijinkan rasa iri menggelitik hatiku, karena bersyukur dengan apa yang kita miliki itu jauh lebih indah, tidak percaya? Silahkan buktikan sendiri”

 

“Hehhehe” ia tertawa kecil

“Kenapa ketawa?”

“Oh.. tak ada”

“Ada yang lucu?”

“Tak..”

Kami berdiam diri cukup lama. Kepalaku menghadap ke tanah. Rindu orang tua di tanah air. Kota Solo yang damai, suara burung-burung dan naik dokar di Minggu pagi. Dari sisi mataku terlihat Adam terus memandangiku.

“Kenapa terus memandangiku?”

“Kapan?”

“Tadi.. hayo?” . Dia hanya tersenyum. Menggaruk-garuk kepala.

 

Kami masih menunggu kedatangan makcik selama beberapa menit ke depan. Ia tak juga datang. Kamipun memutuskan pergi tanpa menunggunya. Adam meninggalakan amplop ia selipkan di bawah pintu.

“Yakin tak akan hilang”

“Tidak, dia tinggal sendiri”. Aku membuka HP. Ada pesan masuk dari Zanet. 

“Apa smsnya?”

“ Dia tulis, terimakasih banyak untuk semuanya. Dia tak akan melupakan jasa kita”. Aku menutup HPku lantas memasukannya lagi dalam tas gendong hitamku.

“Kamu punya tato ya?” Adam memperhatikan punggung tangan kiriku. Aku menjelaskan padanya, ini bukan tato melainkan tanda lahirku.

“Kok gambarnya hampir sama dengan punyaku?” aku tersentak sejenak. Adam menyingkapkan lengan bajunya. Lengan tangan kanannya, nampak sebuah tanda lahir yang mirip sekali dengan tanda lahirku. Aku menelah ludah, kata-kata itu mulai muncul lagi, menggerayangi pikiranku. Jodohmu itu nantinya adalah orang yang memiliki tanda lahir yang sama denganmu.

“Kok bisa sama ya?”

 

Kembali memasuki mobil meninggalkan rumah yang layaknya kandang kuda itu. berhenti sejenak di masjid.

***

Sejak hari itulah, banyak hari aku lalui bersamanya. Duduk di taman. Menikmati Es krim dan bercerita tentang segala hal yang menurut kami seru. Hubungan kami dekat. Bahkan sangat dekat. Entah kenapa, atau karena tompel hitam? Aku tak tahu. 

 

Jalan raya mulai penuh, kendaraan berlalu lalang menyumbang emisi gas. Semakin mengeroposkan lapisan ozon. Bumi memang betul semakin panas, di mana-mana panas. Pendingin ruanganpun semakin memperbesar sumbangan pengeroposan lapisan ozon. Jadi sesungguhnya kita tenang sejenak, namun sejatinya kita tengah menunggu datangnya bencana besar. Manusiapun juga semakin panas. Sedikit-sedikit cepat marah. Sedikit omongan tak mengenakkan menjadi pemantik api yang siap melahap segalanya.

 

Akupun tak bisa berbuat apa kecuali sedikit. Bis menemani kemanapun aku pergi. Setidaknya jika semakin banyak kendaraan pribadi yang terkurung di rumah dan menggunakan angkutan umum sumbangan pengeroposan ozon akan berkurang, BBM akan sedikit terpakai. Volume jalanan sedikit terkurangi. Sayangnya memang manusia banyak mencari alasan. Atau memang mengada-adakan alasan. Mungkin memang benar teknologi telah beralih fungsi. Membuatnya jadi manusia malas.

 

Menunggu lagi di halte bis. Aku buka buku Quatum Ikhlas karangan Erbe Sentanu dari ransel hitamku. Setenggak air mineral dari botol minum membasahi kerongkongan. Tampak lagi Rapid KL dari kejauhan. Bablas. Penuh

 

 Menunggu kedatangan bis seperti ini adalah hal yang paling menyebalkan bagiku, lihat berapa banyak waktuku terbuang hanya untuk menunggu bis. Ini juga alasan bagi mereka yang enggan menggunakan transportasi umum.

 

Setelah belasan menit aku menunggunya, ia hadir membawa penumpang. Tak terlalu penuh, aku duduk di kursi paling belakang. Menikmati sajian program TV. Aku tersenyum melihat tayangan sinetron Indonesia. Beberapa produk entertainment Indonesia, khusunya sinetron banyak diputar di sini. Seperti yang saat ini aku lihat “Matahari” yang dibintangi oleh Agnes Monica, Sinetron “Intan” yang dibintangi oleh Naysila Mirdad dan masih banyak lagi. Di dunia entertainment Malaysia masih kalah jauh dengan Indonesia. Sama juga dengan provider komunikasi tak terlalu banyak hanya empat-lima lah. Di negeriku banyak. Membuat mereka harus perang  harga dan diskon. Gratis sms, gratis telpon yang sebenarnya sama saja, grastisannya di jam-jam orang sedang sibuk atau sudah saatnya istirahat tidur. 

 

  Jalan raya yang ramai, tak jauh beda dengan Jakarta, hanya saja tak ada kemacetan jalan. Mall-mall dan gedung pencakar langitnya tak sepenuh yang ada di Jakarta.

Melihat sekeliling jalan, di lampu lalu lintas tak terlihat para pengemis, pengamen, dan segerombolan anak punk. Ah.. tak seperti negeriku.

Hand Phoneku bergetar.

Mega.. ada acara siang ini? 

Mega keluar bang, mau ambil barang pesanan, ketemu relasi di KL Central

Naik apa?

Rapid KL bang..

Sampai jam?

Mungkin sekitar jam 4

Oke, nanti abang jemput di KL Central ya

Ada apa bang?

Abang mau ngajak Mega jadi panitia seminar internasional di kampus

Oke dech 

Tiba di KL Central, telat sepuluh menit dari jam janjian. Aku buru-buru naik eskalator menuju food court. Di tempat biasa kak Mila sudah menungguku.

“Kak… maaf menunggu lama..”

“Tak apa, kakak juga baru datang kok, ini barangnya coba hitung dulu”

“Oh iya kak..” aku sigap menyocokkan barang dengan list pesanan di buku agendaku.

12 botol madu, 10 minyak zaitun, 9 sari kurma, 15 botol habatus saudah dan 5 pack jahe merah.

“Udah pas kak..”

“Oke dech..”

“Uangnya transfer ke rekening biasa kan kak?”

“Iya, seperti biasa, maaf ya Mega, kakak harus segera pergi sudah ditunggu suami di rumah,”

“Oh.. iya tak apa kak”

“Wa’alaikumsalam,, hati-hati kak..”

“Iya.. kamu juga” tersenyum.

Setelah mengemasi barang pesanan. Aku duduk sejenak, memesan minuman pelepas dahaga. Aku ketikkan sms untuknya.

Mega sudah selesai. Menunggu @ food court.

All Right.. sekejap! Sepuluh sa’at ya..”

Oke )

Setengah jam berlalu. Sudah habis dua gelas teh tarik. Bosan menunggu. 

Lama sekali… 

Tak ada balasan. “Heeemmmmm”

 

Siluet itu terlihat dari kejauhan. Cara berjalan yang aku kenal. Jalan berlenggang santai. Tubuh tinggi, rambut pendek tanpa sentuhan sisir sepertinya. Gel rambut membuat rambutnya selalu nampak basah.Kedua tangannya bersembunyi dalam sakunya.

“Lama menunggu?”

“Nggak kok,,, Cuma satu tahun..”

“Heheheh,, iya maaf, tadi mendadak teman minta diantar ke bandara, maaf ya” aku malas tersenyum. Ia duduk di depanku. Dihadapan dua gelas kosong.

“Begitu saja merajuk.. senyumlah ..” aku masih enggan tersenyum

“Oh… jadi macam ni kalau merajuk, cantik juga, macam ni saja terus biar nampak cantik selalu..” Aku menunduk. wajahnya mengikuti ke mana wajahku bersembunyi. Menahan senyum. 

“Okelah jika nak merajuk, but jangan lama-lama tau. Lima sa’at saja” Aku masih terdiam. Sedikit mengangkat wajah.

“Abang hitung dari sekarang. Satu.. due.. tige..” aku sudah tersenyum tak tahan melihat dia berhitung sambil mengerucutkan bibirnya. Berlagak seperti balita tengah belajar berhitung.

“Tapi kalau senyum macam ni tambah cantik”

“Bisa saja. Harusnya kalau mau datang telat itu kasih kabar. Menungu itu sangat menyebalkan“

“Iya.. maaf..maaf.. abang janji tak lagi buat macam ini”

Memesan dua mangkuk salad buah dan dua minum. Setengah jam tak terasa berbincang-bincang dengannya. Dia mengajakku menjadi panitia seminar internasional di kampus.

“Okelah aku tak keberatan, dengan senang hati”

“Good..”

 

  Menjelang senja dia mengantarku pulang. Sepanjang perjalanan aku menjadi pendengar setianya. Bercerita bagai guru bahasa Indonesia mengajar murid-murid SDnya belajar mengarang. Membacakan contoh karangan hasil karya muridnya.

“Macam ni.. pada jaman dahulu kala..” sesekali aku tertawa juga terharu.

Kehidupan keluarganya tak harmonis. Orang tuanya sudah lama pisah ranjang tanpa perceraian. Merekapun sudah memiliki pasangan masing-masing tanpa ikatan pernikahan. Entah karena apa

“Bagiku, orang tua yang tak mampu memberikan contoh pada anaknya. Ia telah kehilangan kewibawaan di depan anaknya”. 

“Seharusnya kehadiran anak bisa jadi pemersatu. Mengingatkan mereka itu tugas abang”Suasana menjadi sunyi senyap. Saat ini ia tengah sibuk menggarap skripsi.

“Kalau butuh bantuan. Mega siap bantu kok..dengan senang hati”

“Ah nanti kau mengeluh, penatlah apalah..” 

“Tenang bang.. anti mengeluh kok”

Ia tersenyum manis sekali. Giginya sedikit kelihatan, dagunya terbelah. Wajahnya berseri. Menyenangkan. Jika melihat bola matanya, lagi-lagi ada sesuatu yang aneh terpancar di sana. Aku melihat binar mata yang selalu menenangkan itu lagi dan lagi. Selalu sama setiap kali aku melihat. Tak berubah

“Kenapa pandang abang?’

“Siapa?”

“Kaulah..”

 

“Masa? Kapan?” Ia tersenyum lagi. Manis sekali. Aku ikut tersenyum malu.

 



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Feb 7, 2020, 12:42 AM - Dzabillah Widza Rahmania
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Mar 18, 2020, 9:15 PM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma