[CERPEN] - CERBUNG: Sebuah Tanda Lahir Bagian ke-2

[CERPEN] - CERBUNG: Sebuah Tanda Lahir Bagian ke-2

11 asrama yang dimiliki UKM, sebagian di kampus Kuala Lumpur, sebagian di kampus Bangi. Di  salah satu kamar Kolej Pendeta Za’ba, yang biasa dipanggil KPZ atau Za’ba aku tinggal bersama Anna Augustin. KPZ asrama yang cukup luas, terdiri dari delapan blok. Tiap blok terdiri dari lima lantai dan dua unit. Bersama Intan Amalia, sang penghuni kamar sebelah, kami tinggal di satu kamar. Intan  hampir tiap malam tidur di kamar kami, walaupun dia harus menggotong matrisnya berpindah-pindah tak jadi masalah baginya. KPZ berbeda dengan asrama yang lain, biayanya lebih mahal dan peraturannya juga tidak seketat asrama yang lain. Tidak juga diwajibkan untuk mengikuti kegiatan asrama, karena sebagian bangunan KPZ, tepatnya blok B bukan milik UKM melainkan milik perseorangan.

 Anna seorang wanita cantik berdarah Chinese dari Ayahnya. Kulit kuning merona. Rambut hitam yang sedikit bergelombang di bagian ujung meniru ibunya orang Jakarta tulen. Bola mata hitam pekat membuat siapa saja yang melihatnya akan terpana. Anna seorang anak pengusaha kaya raya, yang semua keinginannya bisa saja terpenuhi, tapi dia anti untuk menjadi manja tak bergantung pada orang tuanya. 

Hari sudah petang. Langit tak lagi berwarna biru cerah. Warna jingga memenuhi sudut langit. Udara panas bergantikan hawa tenang, mengalirkan angin lembut sangat menenangkan. 

Berjalan hati-hati aku mendekati KPZ. Aku meminta Zannet masuk duluan, menungguku di ruang cuci. Aku masuk ke dalam pos penjagaan.

“Baru pulang..?”

“Iya pakcik, biasa nganterin orderan..”

“Waduh… makin laris aja nich kayaknya..”

“Ya.. lumayanlah pakcik,,,,Mega bawaian sesuatu buat pakcik Ahmad, dan Pakcik mm.. siapa namanya lupa”

“Pakcik Zamil maksudnya?”

“Ah.. iya. Cik Zamil..” aku menyerahkan bungkusan nasi dendeng sapi.

Wow.. sedapnya..”

“Ini masakan Indonesia Pak Cik.. dari Padang.. bukan dari Malaysia pakcik, Sekali lagi khas Indonesia.. ahahahahah”

“Ah..iyalah…”

“Makanlah pakcik, Mega pergi masuk kamar dulu ya… penat nich..” aku meninggalkan Cik Ahmad yang sedang membuka bungkusan nasi dendenganya

“Iya.. terimakasih, lain kali lagi ya… hahhahah”

“Oke dech.. siap pakcik..”

 

Aku cepat-cepat melangkahkan kaki ke ruang cuci. Masuk lantai tiga melalui pintu belakang. Jalan yang jarang dilalui oleh penghuni asrama. Aku berjalan di depan, mengawasi adakah orang yang sedang lewat. Bersembunyi di belakang sudut-sudut tembok. Kondisi aman, aku menyuruh Zannet cepat-cepat jalan. Berjingkat-jingkat kaki kami menyentuh lantai. Macam kucing berburu tikus. Sempat berkali-kali jantung mau lepas, ketika bertemu kamar satu lantai seakan bertemu hantu. 

“Mega tengah buat ape? Jalan macam perompak je?”

“Aduch.. kamu Nare, bikin kaget aja, hehe. Enggak apa-apa kok, ini lagi latihan acting buat pentas teater kok..” berlalu acuh tak acuh. Aku mengelus dada, melanjutkan perjalanan hingga ke lantai tiga. Bukan karena apa-apa, aku hanya malas saja nanti ditanya ini itu, siapa dia, mau bermalam di kamar berapa malam. Apalagi kalau ketahuan Encik Farida, bakal panjang urusannya. Ah.. biarlah tak ada yang tahu. Anggap saja tak ada yang menginap di kamarku malam ini.

  Tak berapa lama kemudian aku dan Zannet sudah sampai di depan pintu kamarku. Aku ketuk pintu pelan.

“Iya.. sebentar..” suara Anna terdengar. Tak lama kemudian pintu terbuka.

“Malam banget pulangnya..?” Anna melihat Zannet heran

“Siapa dia?” bola mata Anna membesar.

“Nanti aku ceritakan, biarkan dia masuk dulu” Aku persilahkan Zannet masuk. Intan tak kelihatan mungkin tidur di kamarnya. Setelah Zannet aku buatkan minum, Anna memanggilku ke belakang.

“Mega, jelasin dia siapa? elo nggak bisa sembarangan bawa orang masuk!!”

“Dia Zannet, tadi ketemu di bis, lagi butuh bantuan”

“Aduh.. apa lagi elo baru kenal. Kalau ternyata penjahat yang lagi nyamar gimana?. Hidup di negeri orang harus hati-hati. Gue nggak mau tahu… dia harus segera keluar dari sini titik..”

“Iya aku tahu, tapi untuk malam ini, biarkan dia tidur di sini ya,,please…” mohonku, pasang wajah memelas.

Just for tonight…”

“Oke siap laksanakan bu komandan”

“Inget Cuma malam ini doang tauk..”

 “Siap”

             Mandi air hangat akan membuatku lebih baik. Aku meminta Zannet untuk mandi selepasku. Memastikan tak ada orang yang tahu akan keberadaannya.

 Aku pinjami Zannet baju tidurku,aku tidur berasamanya satu ranjang, meski sempit namun cukup untuk berdua.

 “Maaf telah merepotkanmu..”

“Nggak kok, aku tak merasa direpoti. Bukankah Tuhan selalu menolong kita selama kita saling menolong?”. Ia menunduk tersenyum manis sekali.

“Kau tidurlah.. aku masih ada beberapa tugas..”

“Tugas apa?”

“Tugas kuliah..”

“Nak bantuan?”

“Tidak,,, kau istirahatlah, aku matikan lampunya” 

Anna sudah tertidur nampak sangat lelap. Ruangan ini sudah gelap. Hanya seberkas sinar lampu belajar menerangi sepetak meja menghadap jendela. Aku biarkan ia terbuka, merasakan angin sejuk malam hari memain-mainkan anak rambutku. Aku kebut mengetik beberapa tugas yang harus aku selesaikan minggu ini. Mengagendakan jadwal esok hari. Beberapa pesanan yang harus aku order besok. Beginilah kebiasanku tiap malam. Berusaha mengagendakan segala sesuatu dengan baik dan proporsional. Urusan ibadah, kuliah, bisnis, istirahat dan juga termasuk ritual kecil seperti buang hajat, mencuci juga membersihkan kamar agar selalu terlihat rapi juga perlu diperhatikan. Sebab semua yang tak berjalan dengan lancar, punya pengaruh pada suasana hati. Suasana hati yang buruk juga akan berdampak pada aktivitas yang lain menjadi buruk.

Dan sekarang mata tak lagi mampu aku ajak bergadang. Membuka lembaran buku usang warna biru.

Dear Ibool..

Hidup memang terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Terkadang kita dihadapkan dengan beberapa pilihan, yang membuat kita dilemma. Namun terkadang justru kita dimasukkan dalam kondisi yang mau tidak mau kita harus mau. Tapi bukankah pikiran kita ini punya kekuasaan penuh untuk memilih pikiran apapun. Jadi mengapa tidak kita ambil yang positif saja.

Life is adventure… dan perjuangan bukan pilihan, tapi kebutuhan.

***

 Sebuah Tonjokan 

Pagi begitu cepat menjelang, leherku sakit. Semalam tertidur di meja belajar. Semua sudah siap menjalankan aktifitas pagi ini. Termasuk Intan yang terkejut dengan hadirnya Zannet. Aku ceritakan semua yang terjadi padanya.

“Oh.. begitu, terus rencananya mau gimana ga?”

“Entah aku belum mikir, tapi tenang aja Tan, semua akan beres..”

“Iya… gua percaya . Tapi lu juga harus mikir diri sendiri dong. Badan ampe kurus kaya begeto..”

“Ah… ini emang sudah begini dari dulu kurus, makan banyakpun tetep kurus tan..”

“Hahahaha… dasar  Mega Icik Kowor kowor…”.

“Mandi sambil ndangdutan yuck pasti asik…”

“Eeeeeett daaahhhh..” Terkadang Intan memang memanggilku dengan sebutan Mega Icik kowor-kowor, karena bajuku yang sering terlihat kedodoran. Atau juga Mega Icik-icik dangdut, sebab aku sering menyanyikan lagu dangdut.

 

Di UKM Universiti Kebangsaan Malaysia, yang saat ini menjadi universitas terbaik nomor dua Malaysia aku menimba ilmu bersama Anna dan Intan. Adalah Anna yang sangat tidak rela dan ia bagai seekor kucing angora yang lucu nan imut akan berubah menjadi seekor macan tutul yang garang bila mendengar kata-kata orang yang mengejek atau menyindirku dengan sebutan orang desa miskin atau apalah. Ia yang selalu mengajarkanku bagaimana berpenampilan, cara berjalan, cara berbicara layaknya public speaker dan bergaya seperti orang kaya yang penuh etika. 

Intan Amalia,seorang wanita bertubuh tambun penyuka hamburger dan penyuka tembang-tembang lawas. Anna paling tidak suka mendengar tembang-tembang lawas itu. Setiap kali Intan terbaring di atas tempat tidurnya dan memasang headset di kepalanya Intan bernyanyi keras

“Wi….duri…. elok bagai lukisan…. Oh sa..yang… Wi.. Duri…”  atau terkadang ia merubah liriknya “Wi…. Du dur R-I Ri… Elok bagai rembulan ..oh sayang…” seketika itu Anna menjerit keras

“Intaaannnnn……..  berisik, nyanyi yang lain ngapa? bikin pusing tauk…” tapi Intan hanya menjawab

“Ah… lu Na… suara enak begini dibilang berisik” kemudian melanjutkan menyanyi, Intan yang paling khas dengan sebutan kata “Mantab…”nya,juga dengan logat kental betawi yang tak terlepas dari”bujubuneng” dan “eet… daahh..” 

            Kami bertiga berjalan cepat keluar asrama, menaiki bis yang tak lama datang menghampiri kami di bus stop. Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai ke Fakultas kami, Fakuliti sains dan Tekonologi. Atau jika ingin jalan kaki, kita harus merelakan selama dua puluh menit kaki menapak di jalanan sambil menahan terpaan sinar matahari yang menyengat di siang hari. Hanya orang-orang tertentu saja yang mengihlaskan kakinya terus menapak hingga dua puluh menit. Apakah sejatinya teknologi telah lepas dari fungsi meringankan? Teknologi yang memanjakan sejatinya membuat manusia menjadi pemalas? Ah.. tidak bergantung pada pribadi masing-masing.

 

Tersengal-sengal kami berlari menaiki tangga lantai tiga, sesampainya di kelas kami duduk sejajar. Tak beberapa lama kemudian nampak Mr. Fadly, seorang dosen separuh baya yang khas dengan gaya rambut klimisnya disisir sangat rapi tanpa poni. Rambutnya yang tipis dengan bubuhan gel rambut membuat larikan rambutnya bagai susunan rel kereta api. Membuatnya tampak sangat rapi dan jauh dari model rambut anak muda jaman sekarang.  Jauh dari rambut kerenya Si Won, Lee Minho, Kyuhyun atau bintang-bintang korea yang tengah mashur digandrungi para remaja putri. Mr Fadhly memasuki kelas diiringi seorang lelaki jangkung, berkulit kuning membawa laptop dan juga LCD proyektor. Setelah memasangkan perangkat, lelaki jangkung itu pergi meninggalkan Mr. Fadhly bersama mahasiswanya. 

            Mr. Fadhly memulai dengan salam. Pengantar belajar biasa menggunakan bahasa campuran Inggris dan Malaysia. Teringat saat aku pertama kali duduk di bangku kelas, membuatku canggung, tak begitu paham dengan bahasa melayu mereka, membuatku lebih banyak diam dan memerhatikan.

“Hari ini kita akan belajar tentang bagaimana bulan, satelit bumi terbentuk, saya membawa Video pembentukannya yang nanti akan saya tunjukkan, tetapi sebelumnya, adakah di antara kalian semua yang pernah tau, membaca atau mendengar penciptaan bulan?” ucap Mr Fdhly, seraya mengedarkan pandangan ke seluruh mahasiswa di kelas, yang berjumlah sekitar 40 Mahasiswa. 

 Pertanyaan Mr Fadhly membuatku mengernyitkan kening, berpikir dan memutar memory tentang suatu artikel yang pernah kubaca di internet. Begitu teringat, aku segera mengangkat tangan. Kemudian beberapa tangan muncul di udara bagaikan ikan mujahir yang berkumpul berebut makanan, aku sadar aku yang pertama kali mengangkat tangan.

Okay.. Mega, please Explain to us

Akupun dengan sigap berdiri, dan coba kujelaskan dengan rinci pada Mr Fadhly dan t       eman-teman di kelas.

“Teori ‘Giant Impact’ merupakan hipotesa bagaimana proses terbentuknya bulan. Ilmuwan berteori, Bulan terbentuk akibat bergabungnya serpihan-serpihan pecahan Bumi yang ketika itu masih muda bertabrakan dengan benda langit berukuran sebesar planet Mars 

“Salah satu bukti yang mendukung hipotesa ini adalah contoh-contoh bebatuan yang diambil para astronot saat mengunjungi Bulan. Dari bebatuan itu, terindikasi bahwa permukaan Bulan sebelumnya berbentuk cair dan kemungkinan, ia memiliki inti kecil dari besi dengan kepadatan yang lebih rendah dibanding Bumi.” 

“Menurut para astronom, tabrakan antara Bumi dan Theia terjadi sekitar 4,53 miliar tahun lalu, atau sekitar 30 sampai 50 juta tahun setelah terbentuknya sistem tata surya. Akan tetapi, dari bukti-bukti terakhir, terindikasi bahwa tabrakan itu terjadi lebih lambat, yakni 4,48 tahun lalu”. Selesai kujelaskan, aku edarkan pandanganku pada teman-teman dan Mr Fadhly, mereka menunjukkan ekspresi aneh. Terdiam dan mulut ternganga. 

Good job Mega, kamu sudah belajar tentang ini sebelumnya?” Tanya Mr Fadhly

“Sepertinya dulu waktu masih SMA, saya pernah membaca tentang teori Giant Impact di  internet Sir…” 

Mr. Fadhly mempersilahkan aku kembali duduk, selama satu setengah jam kuliah berlangsung, mengupas Teori Giant Impact. 

Berganti dengan jam yang lain, Mr. Benjamin Basintal memasuki kelas, ini lah satu-satunya dosen yang mengajar tidak menggunakan bahasa Melayu. Ia selalu menggunakan bahasa inggris sebagai pengantar. 

 “ Hari ini kita akan belajar tentang struktur tanah…, kalian bisa obseravasi tanah di lokasi manapun terserah kalian. Kalian catat unsurnya, kadar oksigen, PHnya dan lain-lain, kemudian tulis dalam bentuk essay, hasilnya kumpulkan esok hari..”Berlarian kami keluar kelas. Seperti anak SMA saja tingkah kami berlarian berebut kursi di kantin. Tempat duduk favorit, dekat kipas angin. Tapi siang ini  begitu panas. Kipas angin yang berkelebat kencang sama sekali tak mampu mengusir udara panas. Minum es jadi pilihan kala panas seperti ini, meskipun tak jarang aku jadi flu karenanya.

          “Duhh..bener-bener surga dunia ini namanya” kesegaran tiada tara menyelusup hingga ke otak. Menyiptakan satu kata yang diterjemah oleh otak. Segeerr..

          “Awas aja kalo besok minta kerokan” ucap Anna

          “Kalo dibilangin senengnya bandel..”. aku hanya nyengir kuda.

          “Abis mau gimana lagi. Geraaahhhh….” 

          Anna dan Intan melanjutkan aktivitas hari ini ke perpustakaan Dr. Abdul Latiff, mencari referensi buku untuk tugas makalahnya. Aku segera pulang ke asrama. Menunggu lagi, di halte bis menahan panas. Aku kipas-kipaskan buku tulis tipis di wajahku.  Mengenyahkan panas meski hanya secuil. Tiba-tiba sebuah kendaraan bermotor perlahan berhenti di depan mataku. Bukan bis, tapi mobil mewah warna hitam. Jendelanya mulai terbuka perlahan, seseorang terlihat. Wajah itu. Itu… bukanya pemuda melayu berkaos putih kemarin?

“Hei.. Mega.. naiklah”

“Kau.. kau tahu namaku?” heranku

“Tau lah.. macammana nak lupe dengan orang yang dah pernah tonjok muke aku?” benarkah? Pantesan wajahnya tidak asing, tapi kapan aku bertemu dengannya?.

 “Masuklah ade hal yang perlu kite bicarakan”

“Mau ke mana? Jangan bawa aku ke tempat sepi ya..”

“Heheh..”

“Kok malah ketawa?”

“Mega.. siapa yang nak bawa kau ke tempat sepi? ” aku terdiam

“Jom masuk” Aku membuka pintu mobil dan memasukinya. Pendingin mobil dengan begitu pengertiannya menyemburkan udara dingin yang membawaku ke surga, nyaman sekali. Membuat mataku terpejam menikmatinya. Perbincangan memang terkadang terdengar aneh. Kadang juga ia tak paham dengan bahasa Indonesiaku. Tapi tetap begitu saja ia bercakap dengan bahasa melayunya. Sedang aku tetap dengan bahasa Indonesiaku.

“Kenapa merem melek begitu?” ucapnya mengagetkanku

“Eng ..nggak apa-apa kok..” aku tergagap. Ia konsentrasi mengendarai mobilnya. Ia menghidupkan radio. Lagi-lagi lagu Indonesia. Laris manis di sini. Ungu. Cinta ini untukmu mengisi ruang dengar.

 “Sama cowok itu jangan terlalu galak, nggak semua cowok itu brengsek. Orang niat mau nolong malah kau tonjok. “. Mendengar ucapannya telingaku panas.

“Kapan liat aku nonjok cowok? Kemarin? Yah.. kalau itu kan demi mewujudkan kemanan sosial” jelasku menggerutu.

“Dasar amnesia!!! Inget satu tahun yang lalu. Pipi siapa yang kamu tonjok waktu ospek? kau kepleset di sungai ?” Ospek? Nonjok pipi?kepleset di sungai?

“Orang tonjokannya aja masih kerasa sampai sekarang kok”. Dia melengos.

 Tiba-tiba muncul memori satu tahun yang lalu.

“Hehehe.. kamu ya yang aku tonjok…?”

“Udah inget sekarang?”

“Iya.. maaf… maaf. Aku Cuma tak mau ada lelaki yang menyentuhku,selain seseorang yang punya sesuatu untukku”

“Sesuatu apa?”

“Pokoknya sesuatu..”.

“Ckk..ckkk..ckkk” Ia geleng kepala.

 

Mobil melaju pelan. Berhenti depan restoran masakan cepat saji seksion Tiga belas, Bangi. Restoran belum begitu ramai, belum jam makan siang. Aku dan dia duduk berhadapan. Pramuniaga menawari kami makanan. Dua makan dan dua minum tersaji di meja. Aku mengedarkan pandangan luar restoran. Terlihat dari jendela kaca bening yang luas.  Sebuah gedung tua bergaya klasik memenuhi pandangan.

“Itu gedung apa?”

“Yang mana?”

“Itu..” aku menelunjuk ke arah gedung itu.

“Oh,,, itu gedung kesenian. Setiap malam Minggu di sana ada banyak pertunjukan. Aku paling suka dengan konser musiknya. Besok malam minggu aku ajak kamu biar tahu. Berapa lama di sini belum pernah tahu”. Aku terdiam. Mengangkat alis. Melanjutkan makan.

“Jadi nama kamu siapa?”

“Penting ya?”

“Nggak mau kasih tau? Ya udah..” aku kembali melahap nasi.

“Ichh… gitu aja ngambeg, kamu emang wanita aneh ya. Namaku Adam. Inget… A D-A-M.. adam” ia mengeja.

“Adam Silalahi?”

“Hu’um.. kok tahu?”

“ Tahu dong.. aku kan peramal..”

“Serius?”

“Peramal gadungan maksudnya.. hahahahahah”

          Pembicaraan beralih pada Zannet. Raffi juga kemarin bebas setelah pihak kepolisian tak berhasil menemukan bukti tindak kekerasan.

           “Oke sekarang kita ke asrama, kamu pastikan Zennit masih aman di asrama. Terus kamu minta alamat orang tuanya. Kita antar dia pulang”

“Antar Zannet pulang? Tapi dia bilang harus nunggu waktu yang tepat”

“Waktu yang paling tepat ya sekarang, dia tak bisa selamanya menyembunyikan hal ini dari orang tuanya”. Tak mengingkari apa yang ia katakan. Aku mengangguk setuju.

“Kita ke Kelantan diam-diam apa bersama Zennit ke sana?”

“Sama Zennit sekalian dong, kau harus bisa bujuk dia”

“Ya.. oke..”. 

           Sejurus kemudian kami sudah sampai di asrama.

“Hari ini semua harus usai, agar kita tak lagi punya tanggungan, maka dari itu kau harus mampu membujuknya. Ya..”. bola matanya tepat di depan mataku, rasa aneh itu muncul lagi. Binar matanya yang pancarkan keteduhan. Jauh dari rasa cemas.

“Iya..” aku mengangguk mantap.

Lantas aku berjalan cepat, menaiki tangga tanpa menyapa cik Ahmad. 

            Aku memasuki kamar

“Oh… syukurlah kau cepat datang.. sudah mau ngompol rasanya ini..”

“Maafkan aku, keluar terlalu lama..” Belum selesai bicara dia sudah berlarian keluar ke kamar mandi, aku segera menyusulnya. Asrama sepi, semua beraktifitas di luar asrama. Tak ada yang melihat Zennit. Setelah memasuki kamar aku menjalankan mandat dari Adam.

“Ke rumah?” aku mengangguk

“Sekarang?”

          “Iya,, kau tak bisa terus menyembunyikan semua ini dari orang tua. Tenang semua akan baik-baik saja. Kami akan memback up mu”

“Kami?”

“Iya, maksudku Aku dan Adam..”

“Adam? Siapa dia?”

“Pemuda yang kemarin ditempeleng sama Raffi”

“Dia? Kau kenal dia ternyata?”

“Dia kakak tingkatku sendiri, hanya saja jarang bertemu. Aku lupa pernah bertemu dengan dia sebelumnya”. Ia diam lama, seperti memikirkan sesuatu. Aku memandang matanya, mencoba menyakinkan dia.

“Tak usah cemas, semua akan baik-baik saja”

“Baiklah.. aku pulang”

Good..” 

Kami berdua keluar asrama dengan tenang. Tak perlu takut lagi diketahui keberadaanya oleh penghuni asrama. Keluar asrama kami mendekati mobil Adam yang terparkir di area parkir.

          “Terimakasih banyak telah menolongku. Aku berhutang budi dengan kalian”

          “Sama-sama, yang penting kamu bisa segera lepas dari Raffi. Hidup tenang” ucapnya.

Zannet duduk di belakang, aku duduk bersisian dengan Adam.

 

***



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Feb 7, 2020, 12:42 AM - Dzabillah Widza Rahmania
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Mar 18, 2020, 9:15 PM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma