CERPEN dan CERBUNG - Kisah Cinta Ajeng (Bagian ke-2)

CERPEN dan CERBUNG -  Kisah Cinta Ajeng (Bagian ke-2)

Minggu yang suram untukku. Meski di rumah ramai. Ibu dapat shift siang hari ini. Ayah, Faiz juga libur sekolah. Rasanya malas keluar kamar. Malas untuk berbicara pada siapapun. Begini ya ternyata rasanya dikhianati.

“Aku benci dia…” menangis lagi. Mengingat kejadian kemarin semakin membuatku munek-munek.

“Tok..tok..tok..” terdengat suara ketokan pintu dari luar.

“Ajeng.. tidur lagi habis subuh?”

“Iya.. bun.. malas bangun…” ibu memasuki kamarku, mendekatiku yang masih meringkuk di bed, bergulung selimut pink bergambar Hello kitty.

“Anak cewek kok jam segini belum bangun. Malu sama ayam lah..”. aku masih bergelung selimut. Menutup wajahku.

“Bentar lagi..lima menit lagi bun..”

“Ndak biasanya malas-malasan begini. Kenapa pasti lagi ada masalah ya?”

“Enggak kok..” ibu melepas gelungan selimut itu dari wajahku.

“Loch.. matanya tembem, sama kaya pipimu. Semalam pasti habis menangis kan? Ada masalah apa sayang?”. Ibuku memang selalu tahu. Aku terdiam. Menaikkan kedua pundak sambil menarik nafas dalam.

“Ajeng udah putus bu sama Kuncoro”

“Baguslah, ibu senang mendengarnya. Ibu juga nggak suka kok sama Kuncoro itu.”

“Kenapa bu? Tapi sebenarnya dia baik kok…” ucapku sambil duduk berlendehan. Meremas-remas ujung selimut.

“Di matamu baik karena kamu suka dia”. Aku terdiam lagi. Menghela nafas tipis. Di luar suara televise berisik sekali. Sudah sejak subuh tadi Faiz stand by depan TVnya menonton kartun. Padahal kalau hari biasa. Dibangunin sholat susahnya minta ampun. Perlu disiram pakai air dulu satu ember.

“Dhe Faiz.. suara TVnya kecilin dikit dong sayang. Berisik banget sich” teriakku

“Iya.. ach kakak cerewet..” Kini volume TV sudah sedikit berkurang.

“Sudah sekarang bangun. Olah raga sana biar seger . Yang lalu biarlah berlalu. Awalnya mungkin memang susah. Tapi lama kelamaan kau pasti akan terbiasa. Semua karena kebiasaan saja dia hadir dalam hidupmu. Apalagi kalian sudah lama bersama. Bisa juga karena sugesti dirimu sendiri yang mengatakan kamu tak bisa hidup tanpa dia.Tenang saja, kamu akan terbiasa, apalagi kalau nanti sudah dapat pengganti. Semua akan kembali seperti semula. Ya sayang” Ibu mengusap pipiku lembut. Aku mengangguk, sedikit meneteskan air terjun dari kelopak mata.

“Ya sudah ibu mau nyuci”. Ibu meninggalkan aku di kamar. Pintunya Ibu tutup lagi.

Iya ada benarnya juga kata Ibu. Tapi mendengar kata pengganti? Oh no..no..no. aku belum siap untuk tersakiti lagi. No aku hanya ingin menetralkan hatiku. Secepatnya menghapus semua kepayahan ini. Seperti ombak laut yang menghapus semua tulisan di pantai hingga tak akan datang lagi. Tak membawa duka.

Ini adalah hariku, tak perlu aku mengijinkan hal-hal yang menguras hati demi sesuatu yang tak penting itu. Usir semua hush..hush..hush… Wes..ewes..ewes.. bablas uwongnya…

“Huuuuffftttt” menarik nafas, menghembus berat. Segera bangkit dari PKM Posisi Kemalasan. Merapikan sprei dan bantal yang berantakan. Membuka jendela kamar. Depan jendelaku adalah taman. Beberapa bunga sedang mekar dengan indahnya warna-warni. Terdengar suara esek-esek sapu lidi menyeret tanah. Bapak sedang menyapu di halaman. Bapak melihat kepala kecilku yang terlihat di jendela, hanya seleher. Aku tersenyum padanya. Bapak melanjutkan menyapunya. Aku sisir rambut aku ikat tinggi-tinggi seperti ekor kuda. Namanya juga kucir rambut ekor kuda, alias pony tail.

Faiz serius nonton Sponge bob depan TV. Aku mendekatinya menutup kedua matanya dengan dua telapak tanganku.

“Achhh.. kakak.. jangan ganggu Faiz dong kak..”

“Biarin. Dibilangin bandel kok. Kalau nonton tv itu jangan dekat-dekat sayang.. nanti matanya sakit tahu..”

“Ich.. iya..iya.. kakak cerewet ach..ich.. mata kakak kok gedhe-gedhe begitu. Habis nangis ya pasti”

“Siapa bilang kakak nangis. Ini bisa begini karena dikencingin sama cicak. Jadi gedhe begini dah..” Ah masa iya dikencingin cicak bisa begini. Aduh pembodohan nich

“Enggakk.. maksud kakak, mata kakak kemasukan debu Faiz”

“Kok dua-duanya?”

“Iya…ya ..ya ..bisa saja. Ach Faiz cerewet achh” aku berlalu pergi dari Faiz merasa kalah pagi ini. Faiz tersenyum penuh bangga. Jarang-jarang dia bisa menang dari bicara denganku.

Sakitnya putus cinta yang selalu diawali dengan indahnya cinta. Saatnya berpindah dari satu kebiasaan ke kebiasaan lain. Sebuah keputusan yang melahirkan rasa cinta menjadi benci. Tapi tak sepatutnya terus begini. Terus menyiksa diri dengan sesuatu yang tak seharusnya punya daya untuk membuat kita sengsara. Entah dari mana asalnya, habis baca buku apa Anna bisa berkata begitu.

            Betul juga, kita sendiri yang bisa melepas semua kedukaan ini, rasa kehilangan, kekecewaan, kebencian dan apalah ke ke ke ke yang lain. Merubah cara berfikir kita untuk  arif dan bijaksana. Maka aku putuskan untuk mengemas semua kenangan, berdamai dengannya. Aku kemasi semua barang pemberiannya, semua foto-foto yang aku punya aku hapus dan aku simpan rapi dalam kardus, masukkan ke gudang. Agar tak tersentuh tak menguak semua kenangan yang tak sepatutnya aku ingat-ingat lagi.

            Semua ini hanya karena kebiasaan. Dan sekarang saatnya untuk berpindah dari kebiasaan satu ke kebiasaan yang lain.

***

 

Pagi hari. Udara masih dingin mencekat. Matahari belum nampak sinarnya. Asik sekali jika masih bergulung selimut. Tapi segera aku enyahkan kenyamanan di tempat tidur ini.

“Faiz… buruan dong. Lama amat sih di dalam” ucapaku ngotot menanti Faiz yang tak kunjung keluar dari kamar mandi.

“Iya,.. bentar kak”

“Aduh.. kakak udah nggak tahan lagi nih. Cepetan.”

“Iya..” lima menit masih tak kelar juga

“Aaizzzzzzzz!!!!!!!!”. Faiz membuka pintu aku segera memasukinya. Faiz meringis kuda.

“Awas kamu ya. Ancamku padanya”.

Beginilah suasana ribut saban  pagi harinya. Bapak pagi hari sudah dandan necis dengan seragam koprinya. Sibuk membolak-balik koran baru pagi ini. Sarapan pagi sudah siap. Kami berempat duduk di kursi kami masing-masing. Lantas pergi berbarengan. Aku keluar dengan motorku.

Aku bekerja meliput berita untuk sebuah media televisi. Jam kerja yang tak tentu. Tak jarang juga pulang petang. Anna adalah sahabat satu perjuangan, kami sering meliput berita berdua. Dulu juga pernah menjadi reporter di stasiun televisi yang sama, sebelumnya ikut audisi juga sama-sama. Mungkin memang oleh Tuhan aku dan Anna selalu ditakdirkan bersama.

Kabarnya siang ini akan ada demo besar-besaran di tanah air. Demo kenaikan bbm. Akupun siaga dengan gendongan ransel beratku. Memburu berita. Mengambil gambar terbaik. Di depan gedung DPR ini telah disulap menjadi lautan manusia lengkap dengan pengeras suara dan atribut lain. Tulisan-tulisan yang mencela pemerintah ramai dipajang. Santlap menusuk pemerintah yang mungkin saja tak memedulikan beribu huruf  tersusun tajam menusuk mata.

Para demonstran terlihat semakin radikal. Melempar batu. Membakar mobil. Merusak gerbang pertahanan gedung DPR. Aku tak mau ketinggalan. Beringsut memasuki lautan manusia yang berdesak-desakan macam itik dalam kurungan. Beberapa aku lihat kepala manusia kena pukulan kayu oleh polisi. Di luar sana masih berjaga-jaga ratusan personel TNI angkatan darat. Berdesak-desakan. Sebagian yang kena pukul oleh polisi mengucurkan darah. Terjatuh lemas. Sebagian yang lain tertangkap polisi diseret dan ditendang tanpa ampun. Sebagian yang lain lari terbirit-birit, melarikan diri. Beberapa polisi melarangku mendekat. Tak peduli dengan omongan polisi aku beringsut menerobos lautan manusia itu dengan kamera stand by mengambil gambar. Tiba-tiba sebuah pukulan entah dari mana asalnya mampir di kepalaku cukup berat aku rasa hingga membuatku ambruk terinjak-injak oleh kaki-kaki yang bertanggung jawab. Kameraku lepas dari tanganku. Tertendang-tendang menjauh dariku. Aku berusaha bangkit meraih kameraku. Semakin lama dadaku semakin sesak. Suara ramai orang berorasi. Ditambah gas air mata yang belum lama polisi tembakkan semakin membuat semua jadi tak karuan. Seakan mau mati. Sudah tanganku sudah tak menjangku kameraku. Mungkin ia sudah hancur terinjak oleh kaki-kaki tak jelas. Tiba-tiba aku lihat tangan kekar meraih kameraku di sela-sela kaki-kaki manusia. Seseorang berseragam dinas loreng. Tangan dengan tubuh tinggi besar itu mendekat padaku. Memberikan kamera dengan senyum manis terpasang di wajahnya. Aku membalasnya senyum. Aku berusaha berdiri. Tapi tiba-tiba kakiku melemas. Tak sanggup berdiri. Terjatuh. Tubuh itu menggendongku. Membawaku keluar dari lautan neraka. Terpasang nama di dada kanannya Deni Warendra.

 “Kau baik-baik saja?”. Aku mengangguk-anggukan kepala.

“Terimakasih”

“Kalau mau nekat lain kali strateginya harus benar. Begini bisa-bisa nyawamu melayang”

Aku terduduk lemas. Hiruk pikuk demonstran masih berlangsung. Ia mengambilkanku minum.

“Terimakasih. Kembalilah bertugas. Aku akan baik-baik saja” ia tersenyum tipis. Membalikkan tubuhnya yang tegap lagi kekar itu ke lautan manusia. Aku masih tertegun melihatnya.

***.

Puluhan menit yang lalu tubuhku sudah aku kondisikan untuk pergi tidur. Ruang kamarku sudah gelap. Televisi sudah mati . tapi mata ini tak mau juga terpejam. Bayangan wajah pria itu mengusik malamku. Deni Warendra.aku hidupkan lagi lampu kamar. Ambil cemilan. Menghidupkan lagi televisi. Akhirnya satu bungkus kentang goreng habis aku lahap. Tertidur di lantai beralas karpet.

Pagi harinya mataku terlihat sayu

“Begadang lagi kamu semalam jeng?” Tanya Anna

“Aku nggak bisa tidur”

“kenapa. Mikirin tu kuncoro brewok lagi?”

“Jangan sebut nama dia lagi. Inget dia Cuma bikin munek-munek”

“Kalo begini  namanya kamu belum ihklas”

“Tau. Nanti juga akan hilang dengan sendirinya”

Duduk di hadapan komputer, jemariku sibuk menakan tombol key board. Hpku berdering. Nomor yang tidak aku kenal.

Ajeng aku tahu kau adalah mantan Kuncoro. Bolehkah aku tahu kapan kalian putus? 

Aku putus tanggal berapa sepertinya kau tak perlu tau. Selamat berbahagia. Semoga kau tak pernah tersakiti seperti yang aku rasakan.

Bun.. pagi ini Ajeng berangkat bareng ya..”

“Iya.. bareng aja. Emang kenapa kok dingaren?”

“Nggak apa-apa lagi males bawa motor aja”

“Kok wajahmu pucet gitu?”

“Ah.. biasa bun, tadi malem ngelembur di depan laptop”

Aku dan Faiz duduk di belakang. Memang dasarnya pendiam. Sepanjang jalan ia terus diam. Ayah juga konsentrasi menyetir. Bunda yang duduk di samping Ayah terus bertanya-tanya tentang pekerjaanku. Juga Tanya apakah aku telah mendapatkan pengganti Kuncoro. Aduh Bunda, aku lagi males banget ngobrol,kepalaku pusing. Keringet dingin keluar tanpa ijin membasahi bajuku.

“Ajeng.. jeng… ditanya kok diem aja tho?”. Aku tak berdaya untuk bicara. Rasanya mau muntah. Ibu menoleh ke belakang.

“Loh Ajeng kok pucet banget..”. pandanganku menjadi kabur.

“Kakak…kakak..” aku masih mendengar suara Faiz memanggil-manggilku. Ayah juga aku rasa panik. Mobil berhenti. Aku berjalan. dituntun bapak dengan lemas. Memasuki rumah sakit militer. DKT.

Ayah berlarian. Kepalaku masih pening. Setelah itu aku tau lah. Aku masuk ke ruang periksa. Lantas dokter. Aku harus opname. Gajala demam berdarah.

Satu hari berlalu. Ayah sore ini menemaniku Faiz les, sedangkan.

“Oalah..ternyata nak Dewa juga lagi sakit tho? Dirawat di kamar sebelah” Bunda yang baru datang masih mengenakan seragam dinasnya.

“Dewa siapa tho bund?”

“Alah… itu anaknya teman Bunda. Bapaknya juga tentara”.

“Faiz nggak ikut bund?”

“Lah.. kan Faiz les. Besok juga mau tes dia tuch..”. Ayah yang baru datang komplit membawa tas besar. Menenteng termos dan juga entahlah apa sebuah bungkusan besar. Tangan ayah menyentuh dahiku.

“Masih sakit kepalanya nak?”. Aku mengangguk.

“Tok..tok..tok..”. mendengar suara ketokan pintu Bunda buru-buru bangkit dari duduknya.

“Olah.. Bu Ratna tho..lah kok bisa tindak ke sini..?”

“Lah wong anak saya juga dirawat di sini lho bu.. itu si Dewa baru saja masuk rumah sakit. Kena thypus”

“O. iya tadi ketemu sama pak Darmanto. Malah belum sempat jenguk saya. Nanti biar kami jenguk nak Dewa. Nanti kita ke sana ya yah..”

Alah.. ndak apa-apa bu. Wong putrinya juga lagi sakit? Sakit apa tho bu?”

“Gejala demam berdarah bu.” Oh.. ini bu Ratna, teman satu rumah sakit Bunda. Bidan juga. Entah berapa lama mereka ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas. Ayah masih duduk di sampingku, sambil sesekali menyentuh dahiku. Membantuku makan juga minum. Setelah minum obat aku rasa cukup mengantuk. Aku tertidur. Sangat pulas.

“Sudah baikan nak” kata Ayah

“Pengen makan apa kamu nak?”

“Pengen makan bakso panas yang pedes yah..”

“Husss… nggak boleh makan yang pedes-pedes dulu Ajeng. Ntar kalo udah sembuh tho yo…”. Aku mengela nafas tipis. Mengangkat bahu dan tenggelam lagi dalam selimutku.

***

Tiga hari sudah aku opname di DKT. Berkemas hendak pulang. Bersama Ayah, Bunda dan juga Faiz.

“Yah..yah kita beum jadi nengok nak Dewa. Lah ayo jenguk bentar yah..”

Tanpa ba.. bi.. bu kami langsung menuju ke sebuah kamar. Aduh sebernya males banget pengen cepet pulang tidur.

Masuk ke dalam sebuah kamar. Disambut hangat oleh bu Ratna. Masih terbaring seseorang di bednya. Kami semua mendekat. Kecuali Faiz. Ia malah mengahmbur keluar. Entah cari apa. Wo?”jah itu menoleh. Aku terkejut bukan main. Bukankah ini yang dulu menyelamatkanku? Deni Warendra. Mata kami saling bersitatap

“Ajeng ..”

“Mas Deni ya?”. Aku menelan ludah

“Loh kalian sudah saling kenal tho?”

Saat itu rasanya tembok pertahananku runtuh. Urat jantungku mengencang mencoba menolak apa yang akan terjadi. Aku tahu getaran di hatiku ini bukan getaran biasa. Udara yang aku hirup menjadi tak biasa. Semakin aku hirup. Semakin tambah hangat rasa ini. matang sudah. Aku menghela nafas tipis. Aku minta segera pulang. Senyum tipis di bibirnya aku bungkus. Pulang.

Sepanjang jalan hatiku tak tenang. Resah. Gelisah. Galau. Tak hitam juga tak putih. Bukan juga abu-abu. Sesampainya di rumah. Aku menghambur di bed. Memeluk boneka kesayangan. Hello kitty. Aaaahhhh aku tak mau jatuh cinta lagi.

Bunda memasuki kamarku. Bunda aku ingin istirahat.

“Iya bunda?” aku senyum malas.

“Kamu sudah kenal ternyata sama nak Dewa?” aku mengangguk.

“Sudah berapa lama sayang?”

“Belum lama. Baru kenal satu jam. Satu kali ketemu.”

“Ganteng kan? Kamu suka?”

“Ih.. bunda ini apa-apaan sih. Kok nanyanya kaya gitu?”

“Abis tatapan matamu ada yang beda. Bunda tahu. Bunda paling mengerti putrid bunda dan bunda tak pernah salah”. Aku hanya tersenyum malas. Berbaring memeluk boneka.

“Sayang. Tapi kalau kamu sama dia bunda setuju banget … percaya sama bunda dia akan menjagamu dengan baik.”

“Dari mana bunda tahu?” tertarik untuk melanjutkan perbincangan”

“Bunda nggak pernah salah sayang..”.

I don’t care. Aku tak peduli dengan rasa yang menderu dera hatiku. Aku tak mau jatuh cinta lagi.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Jan 8, 2020, 10:43 AM - Deni Riyandi
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma