Bunga Desa dan si Bujang Lapuk

Bunga Desa dan si Bujang Lapuk

"Hidup adalah perjalanan bukan pelarian. Tapi aku terpaksa berlari, lari dari kenyataan, ketidakmampuan dan ketakberdayaan. Aku pasti kembali jika semua sudah lebih baik dari sekarang. Aku titip padamu jagakan anak-anak, aku titip pada Tuhan untuk menjagamu dan kubiarkan takdir memegang kendali atas kehidupan kita."

Pada jaman yang tidak terlalu jauh berlalu di sebuah desa di kaki gunung. Hidup lah seorang gadis belia nan jelita. Perawakan nya sedang. tidak tinggi tidak pendek tidak kurus tidak juga gemuk. Gadis itu ingin kunamai bunga atau mawar atau melati tapi nanti mirip berita kriminal di tivi. Jadi sebut saja namanya Sari. Sari mempunyai pesona yang mampu menggugah sudut-sudut terdalam hati lelaki.

Banyak yang berhasrat untuk bisa berdekat-dekat dengannya. Tidak sedikit yang benar-benar ingin menjadikan sari sebagai istrinya. Tapi sampai ia berumur 20 belum ada seorang lelaki pun yang menjadi teman hatinya. Masa SMA sampai saat ia kuliah Sari tidak pernah punya pacar. Satu persatu pemuda yang menyatakan hasrat hati harus berpaling dengan penuh perasaan kecewa. Sari selalu menolak.

Mail misalnya, ia adalah anak orang kaya yang punya beberapa toko obat di kota. Ia sering datang ke rumah sari membawakan berbagai oleh-oleh. Sekalipun sudah ditolak Sari sekali-sekali ia tetap datang berharap penerimaan, tapi tak bergeming.

Pak Karto adalah duda berumur 50an, seorang pedagang besar. Ia berjual beli benda apa saja selama masih tidak melanggar hukum. Tokonya di desa adalah yang paling besar. Apa saja ada di toko yang sekaligus juga rumahnya. Sapinya bertebaran dipeliharakan warga desa, ratusan jumlahnya dan terus bertambah. Tanahnya dimana-mana. Pak Karto sekali dua berkunjung ke rumah orang tua Sari. Tapi tidak juga ada anggukan mengiyakan dari Sari.

Ada juga Egi teman sekolahnya dari SMP bersaing dengan Dayat teman SMAnya.

Mereka yang datang itu jarang dengan tangan hampa. Semua berupaya menyenangkan hati Sari, orang tua dan saudara-saudaranya. Macam-macam yang mereka bawa, tergantung musim. Musim rambutan dibawakan rambutan, musim mangga dibawakan mangga, musim durian dibawakan durian. Kadang pisang sesisir dua, kadang pisang yang sudah digoreng. Kadang martabak, terang bulan, roti, coklat, permen dan macam-macam lainnya. Tapi itu semua tidak ada hasil.

Orang-orang di desa jadi penasaran siapa pada akhirnya yang akan dipilih Sari. Beberapa bahkan ada yang memasang taruhan untuk jagoannya masing-masing

Keadaan mulai berubah ketika ayah Sari meninggal. Tidak dijelaskan dalam kisah ini kenapa. Bukan karena virus, bukan karena mencret yang pasti karena telah tiba waktunya bagi malaikat maut bekerja. Ibu Sari mulai mengungkapkan kata-kata yang arahnya bisa dipahami oleh Sari.

Tidak lama, Sari menjatuhkan pilihan pada seorang lelaki yang diluar perkiraan semua orang. Banyak  yang tersentak, banyak yang mencibir tidak sedikit yang kecewa dan patah hati. Dan bukan main-main lelaki kuda hitam itu bukan diterima sebagai pacar tapi sebagai suami. Sari akan segera menikah dengannya, tanpa melalui proses pacaran berlama-lama. 

Mereka berkenalan ketika Sari mesti melaksanakan suatu tugas kuliah ke sebuah perusahaan skala kecil menengah. Dalam menyelesaikan tugas itu ia banyak dibantu oleh seorang karyawan di situ. Namanya Ranto.

Ranto adalah seorang bujang lapuk berumur 30an yang tinggal dengan orang tuanya. Gajinya sebagai karyawan rendahan tidaklah berlebihan. Wajahnya tidak setampan Mail, Egi, Dayat dan yang lain-lainnya. Inilah yang mengherankan banyak orang. Entah apa yang dilihat Sari dari lelaki ini. Sewaktu Ranto menyatakan rasa Sari menjawab :

"Kalau sampeyan bener-bener, datang ke rumah ngomong ke keluargaku."

Ranto pun langsung tancap gas poll, ga pake lama, Sari dilamar dan gayung bersambut.

Seperti adat kebiasaan di desa itu, bisik- bisik tetangga mulai berdengung. Kisah demi kisah tercipta dari dugaan-dugaan dan omongan yang memanjang ke berbagai arah. Satu kisah menyebutkan Sari kena guna-guna, Ranto adalah seorang yang paham dunia mistis dan seorang spiritualis yang hebat. Ke arah lain tersebar kisah kalau Sari adalah penganut suatu aliran spiritual yang sudah sampai pada taraf mampu melihat tembus dengan mata batin.  Hingga apa yang dilihatnya pada Ranto adalah penglihatan kebatinan. Ke arah lain lagi judul kisahnya si cantik dan si buruk rupa. Sedangkan yang ke arah kota judulnya menjadi beauty and the beast.

Ibunya Sari pun tidak bisa menahan rasa ingin tahu apa alasannya memilih Ranto.

Sari menjelaskan hanya kepada ibunya:

"Mail adalah pemuda tampan yang kaya, jika aku jadi istrinya dia akan bangga dan selalu memamerkan aku seperti ia memamerkan motor, mobil atau hartanya yang lain. aku akan menjadi salah satu piala yang dikoleksi dalam hidupnya. Tidak menutup kemungkinan dia akan mengejar piala yang lain setelah aku."

ibunya manggut-manggut walau hanya mengerti sebagian. Sari melanjutkan :

"Pak Karto setelah istrinya meninggal kerepotan mengurusi usahanya. Ia ingin ada seseorang yang mengurusi kebutuhannya dan membantu mengelola hartanya. Dia tidak mencari seorang istri tapi seorang karyawan atau assisten rumah tangga. Itulah yang akan kujalani jika menjadi istrinya."

Kembali ibunya manggut-manggut.

"Egi, Dayat dan yang lain itu cuma cinta semusim. Bisa layu bisa terus berkembang. Aku tidak tahu seperti apa akan diperlakukan jika diperistri mereka, penuh ketidakpastian."

"Ranto beda, ia kurang beruntung dalam berbagai segi kehidupan. Jika aku istrinya dia akan merasa sangat beruntung dan tentu akan menjaga dan memperlakukan aku dengan sebaik-baiknya. Itulah alasanku ibu."

Singkat cerita, merekapun menikah dan hidup bahagia bersama selamanya.

Eitts, tunggu dulu itu kalau dalam dongeng ala disney. Karena kisah ini bukan dongeng akhir ceritanya tidak begitu. 

Inilah kisah selanjutnya.

10 tahun kemudian.

Berbagai perubahan terjadi di dunia. Presiden berganti-ganti. Gubernur dan bupati juga. Pak camat, kepala deaa bahkan pak RT juga sudah berubah-ubah.

Ranto dengan sepenuh hati mendedikasikan hidupnya untuk keluarga. Dengan bantuannya Sari berhasil menyelesaikan kuliahnya. Lalu mereka punya anak. Sari mengajar sebagai tenaga honorer di sebuah SMP. Lalu mereka punya anak lagi. Dinamika kehidupan menerpa keluarga kecil itu.

Krisis ekonomi melanda, perusahaan tempat Ranto bekerja limbung terhantam gelombang. Efisiensi dan rasionalisasi diterapkan. Bagi karyawan itu berarti pensiun dini atau PHK. dan Ranto adalah salah satu dari ratusan karyawan yang terkena PHK.

Gelombang kedua yang datang menerpa adalah serbuan informasi teknologi. Sari jadi tak terpisahkan dari benda persegi empat yang selalu berpendar memancarkan cahaya warna warni. Tamu-tamu datang menginvasi kehidupan mereka. Tamu itu tidak hanya masuk ke rumah tapi juga ke kamar tidur, ke ranjang, ke wc, dapur dan dimana saja. Berseliweran tiap saat. mereka datang lewat fb lewat ig lewat wa, inbox dan lain-lain.

Pekerjaan sari yang utama adalah menggeser-geserkan jari-jari indahnya di atas layar hape. Sedangkan pekerjaan di rumah tangga dan di sekolah adalah sampingan belaka. Sari berubah. Ia jadi pandai memoles wajah yang semula sudah cantik menjadi lebih cantik lagi. Ia juga sangat doyan berfoto sendiri sambil memamerkan senyuman termanis yang bisa dimunculkan di layar penuh cahaya itu. Jika dirasa kurang manis fotonya dihapus lalu diulangi lagi. Kebutuhan pokoknya sekarang adalah makan minum pulsa atau kuota.

Sedangkan Ranto dengan segala kesederhanaannya hanya memegang hape odong odong yang cuma bisa nelpon dan sms. Kebutuhan pokoknya tidak berubah makan minum kopi rokok.

Ranjang mereka sudah tidak hangat lagi. Ranto bisa merasakan dinginnya sang istri. Ia tak mengerti apa yang salah.

Yang ia tahu ia sekarang pengangguran.

Di saat istrinya tidur, sesekali Ranto mencoba menyentuh hape istrinya yang terlalu canggih baginya. Tidak bisa.

Ia lalu belajar dengan teman-temannya cara memakai hape seperti itu. Setelah bisa, mulailah terjadi pertengkaran. Semula kecil saja.

Tapi semakin Ranto mengintip hape istrinya, semakin panas hatinya. Ia dibakar cemburu.

Saking cemburu, marah dan tak berdayanya suatu hari Ranto pergi dari rumah tanpa sepengetahuan istrinya. Setelah malamnya bereka bertengkar hebat gara-gara Ranto membaca isi chat antara Sari dengan seorang lelaki yang tak dikenalnya.

Ranto pergi meninggalkan Sari dan dua anaknya yang masih kecil-kecil.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
Jan 8, 2020, 10:43 AM - Deni Riyandi
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma