[CERPEN] Bukan Mimpi yang Terwujud

[CERPEN] Bukan Mimpi yang Terwujud

Entah mengapa aku merasa belakangan ini Tuhan begitu baik padaku. Aku semakin ngilu haru saat terkenang masa lalu.

Waktu di belakang di mana aku begitu sering lupa dengan Tuhanku, sering acuh akan perintah-Nya, sering tak ikhlas akan ketetapan-Nya. Sering merasa Tuhan begitu tega membuat hidupku penuh luka, dan merasa Tuhan tak mau berbuat baik padaku.

Dulu aku berpikir aku tak layak mendapat kasih Rabbku, mungkin karena saking banyaknya dosaku aku merasa Tuhan memang selalu ingin menghukumku, menghinakanku dan membuatku menderita.

Hingga aku merasa Tuhan tak pernah berbuat baik dalam hidupku. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini Rabbku begitu baik padaku. Membuatku malu, menangis sendu haru, dan merasa diri ini begitu bodoh telah berpikir Rabbku tak peduli padaku.

Engkau ya Rabb, kenapa berbuat baik sekali padaku, aku yang sering khilaf dan selalu mengeluh. Sering tersungkur menangis tanpa syukur kepada-Mu.

Kenapa sekarang Engkau begitu baik padaku membuatku tak bisa berkata-kata, membuatku semakin tersadar betapa jahatnya diri ini karena selalu mendustakan nikmat-Mu dahulu. Diri ini yang terlalu kerdil hingga tak mampu menangkap sinyal-sinyal kasih sayang dan keagungan Engkau.

Maka hari ini ijinkan aku menangis Tuhan. Menangis untuk penyesalanku selama ini yang jauh dari kata syukur kepadamu. Menangis untuk ketakberhargaan diri ini namun Engkau masih selalu berbuat baik padaku hari demi hari.     

Dahulu aku mempunyai mimpi, mimpi yang lebih tepat dikatakan ambisi dan obsesi. Mimpi yang lahir karena melihat senyum ayah bunda yang begitu bahagia ketika anaknya menjadi apa yang seperti ia inginkan.

Keluargaku adalah keluarga berpendidikan dan terdidik. Semua anggota keluarga dari ayah bunda menginginkan anak-anaknya bisa menjadi ‘abdi dalem’. Ya seperti ayahnya yang bertahun-tahun melayani negara di sekolah tempatnya bekerja dahulu.

Aku lihat ayah bunda begitu bangga dan bahagia ketika adik dan kakakku bisa mengikuti jejak ayahnya menjadi abdi dalem.

Walau sejatinya setiap orang tua akan menyayangi seluruh anak-anaknya walaupun mereka seorang pecundang yang tak bisa melakukan hal yang membanggakan. Tapi tetap saja aku merasa cemburu ketika ayah bunda dengan bangganya menceritakan kepada semua orang tentang kesuksesan kakak adikku yang bisa lolos tes masuk menjadi seorang pegawai negeri, menyingkirkan ribuan orang, masuk dengan kecerdasan otak mereka sendiri tanpa embel-embel menyogok sana sini atau cara-cara tak terpuji lainnya.

Lalu aku, aku tak secerdas dan tak seberuntung saudara-saudaraku. Aku sadar itu dan sadar sepenuhnya akan kemampuanku. Tapi aku cemburu karena aku tak bisa membanggakan orang tuaku, justru aku ditimpa sakit berkali-kali hingga membuat mereka selalu cemas dan mengkhawatirkanku.

Ah, sungguh waktu itu aku ingin menyerah karena tak bisa melakukan apapun. Sungguh waktu itu aku sedih karena aku merasa tak berguna, dan akhirnya sinar semangat hidupkupun redup.

Dengan ambisi yang dibakar cemburu kepada saudara-saudaraku, aku melakukan segala cara untuk mewujudkan mimpiku. Aku ingin menjadi seorang guru. Ya, itu adalah cita-citaku sejak aku kecil, dan telah mengakar menjadi obsesi dalam otakku.

Benar memang aku bisa mewujudkannya menjadi guru walaupun di sekolah swasta, tapi aku puas waktu itu. Paling tidak ayah bunda bisa sedikit bangga. Ya walaupun aku tahu, tak ada yang lebih membanggakan mereka kecuali aku bisa menjadi seorang guru negeri.

Aku tahu itu karena mereka sering sekali menyuruhku ikut tes cpns di sana sini. Kadang aku lelah menuruti ajakan mereka, juga ajakan saudaraku karena aku tahu dengan kondisi diriku yang sering sakit rasanya sulit sekali untuk berjuang berkali-kali apalagi menjadi seorang PNS. Tapi aku tak ingin menceritakan keadaanku yang sebenarnya karena aku takut mereka selalu mencemaskanku

 

Wajar memang jika keluargaku menginginkan aku menjadi seorang ‘abdi dalem’ selain gaji yang semakin tahun-semakin tinggi, dana pensiun dan seragam yang membuat terlihat terhormat, wajar jika mereka berpikir seperti orang-orang pada umumnya.

Berebut untuk bisa menjadi ‘abdi dalem’, apalagi di kementerian-kementerian mereka terlihat lebih keren lagi dan gajinyapun lebih tinggi lagi. Jaminan masa tua dan gaji selalu ada, membuat semua orang berpikir itulah zona ternyaman dalam hidup.

Ah, tapi aku tak mampu untuk mewujudkan mimpi orangtuaku, aku tak seberuntung dan secerdas saudara-saudaraku. Aku sadar itu, sadar dan sesadar-sadarnya. Tapi melihat ayah bunda mendapat segala kenyamanan hidup hasil dari gaji saudara-saudaraku aku sedih, sungguh sedih, karena aku tak bisa memberikan kenyamanan hidup seperti itu kepada ayah bunda.

Aku hanya bisa membawa kabar kesedihan sejak aku dilahirkan, duduk dibangku sekolah, bangku kuliah hingga aku bekerja aku seperti lambang kesedihan dan kegagalan bagi keluargaku dan keluarga besarnya.

Kadang aku berpikir, andaikan aku lahir dari keluarga biasa yang tak perlu dipandang setiap masyarakat. Dari keluarga biasa yang jauh dari urusan ‘abdi dalem’ atau tokoh masyarakat, mungkin aku tidak akan sesedih ini dan tidak akan kufur nikmat pada Rabbku, tidak akan menganggap Rabbku tak adil.

Tapi inilah jalan hidupku. Di mata msyarakat, aku lambang kegagalan keluargaku, dan orang-orang hanya melihat saudara-saudaraku yang berhasil menjadi ‘abdi dalem’. Sedang aku tak pernah mereka anggap ada, aku tak pernah mereka lihat.

Kadang mereka menyebutku dengan nama saudara-saudaraku, ya karena yang mereka tahu hanyalah orang yang sukses saja, dan orang gagal sepertiku selalu dilupakan.

Sungguh aku tak masalah jika orang lain tak mengenalku, aku memang tak suka dikenal orang, aku lebih suka menyembunyikan diri agar tak terlihat.

Bagiku dikenal orang itu begitu mengganggu, kita tak bisa bebas menjadi diri kita sendiri, kita harus berpura-pura suka ketika kita tak suka.

Sungguh melelahkan hidup seperti itu. Kadang kau harus benar-benar menjaga diri demi nama baik ayah bunda dan keluarga besarnya. Dan aku merasa terkekang dengan itu, aku ingin hidup dengan caraku.

Aku ingin menghapus bayang-bayang orang tua dan keluargaku. Aku hanya ingin dikenal sebagai aku. Bukan keluargaku atau orang lain.

Aku ingin lepas dari bayang-bayang saudaraku, karena aku tak suka jika orang lain membanding-bandingkan diriku dengan mereka.

Jikapun hidupku penuh kegagalan nama baik keluargaku tak perlu tercemar oleh kegagalanku, aku tak akan merasa sedih karena tak perlu merasa malu dengan orangtua dan keluargaku.

Maka itulah aku selalu ingin hidup di tempat dimana aku jauh dari bayang-bayang keluargaku agar mereka tak terkena imbas dari kegagalan dan kekacauan hidupku, dengan begitu aku tak terlampau merasa gagal dan sedih.

Aku tak perlu malu dengan masyarakat karena masyarakat nanti hanya mengenal aku bukan keluargaku. Namun nyatanya aku tak bisa lepas dari bayang-bayang keluargaku hingga akhirnya hidupku merasa tak berguna dan selalu dipenuhi penyesalan dan kesedihan. Hidupku selalu tanpa syukur dan selalu tak ridho dengan takdir Rabbku.

Hingga akhirnya masa itu tiba. Masa di mana aku berkenalan dengan dunia kepenulisan. Dunia yang aku geluti hanya karena kebiasaanku melampiaskan emosi hati di media sosial, lalu akhirnya membuatku terbiasa merangkai kata yang panjang.

Dunia yang tak pernah aku impikan, yang tak pernah ku idamkan, tak pernah ku ingini dan tak pernah terbesit sedikitpun akan larut di dunia ini. Aku menulis ketika tak ada lagi seseorang yang ingin menyemangatiku.

Ya, kau menulis untuk menyemangati diri sendiri. Di dalam tulisan seolah kau menjadi motivator bagi pembacaa tulisanmu. Padahal, sejatinya kau sedang menyemangati diri sendiri agar kau bertahan bangkit dan berjuang.

Tak disangka banyak yang membaca tulisanku. Lebih mengagetkan lagi ketika pemilik blog memilihku untuk menulis di blognya. Mengalahkan beberapa pelamar yang ada. Awalnya hanya ingin tahu seberapa jauh baiknya tulisanku, tak pernah terpikir sekalipun bisa mengambil hati para pembacanya.

Namun takdir berkata lain. Aku semakin terseret dalam dunia kepenulisan dalam semakin dalam dan akhirnya takdirku yang baru dimulai saat itu.

 

Dari menulis aku menemukan sinar hidupku kembali. Aku merasa aku bisa melakukan sesuatu. Ya, karena aku selama ini berpikir aku adalah orang yang tidak berguna dan tidak bisa melakukan sesuatu. Tapi dengan menulis setidaknya aku bisa menebarkan kebaikan untuk jiwa yang lain.

Aku bisa menyemangati orang lain lewat tulisanku, menginspirasi mereka untuk berbuat baik dan merubah diri, memotivasi orang lain untuk lebih dekat dan mendekat kepada Allah.

Tak ada yang lebih membahagiakan hati jika diri ini bisa menjadi sumber kebaikan dan kemanfaatan bagi orang lain. Tak ada yang lebih mengharukan hati jika diri ini bisa berguna untuk orang lain dan menjadi sumber perubahan untuk mereka.

Akan mengharukan hati jika diri ini bisa menjadi sebab kebaikan untuk suatu tempat, sebab perubahan yang lebih baik untuk sekitarnya.

Dahulu ada seseorang yang berkata kalau aku ini membawa pengaruh yang baik dan positif untuk lingkungan kerjaku, waktu itu aku hanya gede rasa mendengarnya.

Tapi sekarang jika aku mendengar kata-kata seperti itu aku akan terharu dan menangis bahagia. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bisa bermanfaat bagi orang lain, ya setidaknya itulah prinsipku.

Akhir-akhir ini Tuhan begitu baik padaku, penyakitku mulai diangkatnya satu persatu. Lalu hidupku merasa tenang waktu demi waktu, semakin merasa senang untuk mendekat pada Rabbku dan yang terlebih lagi jari-jariku bisa aku gunakan untuk menebarkan kebaikan.

Sungguh aku tak pernah bermimpi dan berambisi jika suatu hari nanti aku bisa menulis sebuah buku lalu dibaca beribu pasang mata. Berada di sebuah perpustakaan nasional bersanding dengan buku-buku hebat dari para penulis yang hebat.

Itu sudah lebih dari cukup membuat hidupku bersemangat merona, penuh syukur suka cita. Aku tak ingin populer atau kaya dengan banyaknya royalti.

Aku hanya ingin menjadi sumber kebaikan dan kemanfaatan bagi orang lain. Mendedikasikan hidupku untuk semakin tersebarnya ajaran islam yang indah, dan membantu orang-orang menemukan hidupnya yang lebih baik.

Sungguh aku tak pernah bercita-cita menjadi seorang penulis, aku selalu berpikir aku tak bisa menulis. Itu karena waktu remaja dulu di bangku sekolah aku pernah punya buku diary dan hilang di kelas entah kemana, mungkin waktu itu tulisanku buruk sekali hingga teman-temanku membuangnya di tempat sampah.

Dulu aku juga pernah mengikuti lomba cerpen dan puisi tapi aku kalah, sejak itulah aku berpikir aku memang tak bisa menulis dan sejak itu pula aku tak pernah menulis.

Ya hampir lewat sepuluh tahun dari masa itu dan aku tak suka menulis apapun sejak itu. Tapi takdir membawaku ke dalam dunia ini lagi dan aku akhirnya menyadari aku punya sesuatu untuk bisa membawa perubahan yang lebih baik bagi kehidupan orang lain. Aku ingin melakukan itu lewat tulisan-tulisanku.

Sungguh ini bukan impianku jika aku menjadi seorang penulis. Tapi aku rasa inilah yang Rabbku inginkan. Ada maksud dari setiap cerita hidupku. Mungkin suatu saat aku akan melakukan perubahan yang besar lewat tulisanku, entahlah aku tak tahu tapi sungguh ini bukan mimpi dan cita-citaku tapi ini jalan hidupku.

Ini bukanlah mimpiku yang terwujud dan menjadi nyata, tapi ini keinginan Rabbku, dan aku akan membiarkan Rabbku menuntunku merancang takdirku. Kemanapun takdir membawaku aku akan berjalan ke arahnya, tak akan lagi menentang takdir dan tak ikhlas dengan kehendak-Nya.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author

content writer dari purbalingga jawa tengah

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Feb 7, 2020, 12:42 AM - Dzabillah Widza Rahmania
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Mar 18, 2020, 9:15 PM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma