Bikin Judul, Boleh Ngawur...!

Bikin Judul, Boleh Ngawur...!

Mungkin Anda merengut membaca judul tulisan ini. Atau malah mengumpat dalam hati, sungguh artikel tutorial tidak bermutu. Tetapi okeylah...rupanya kita berbeda pandangan soal kata; ngawur. Nah! Bagaimana sebenarnya kengawuran yang mampu menghasilkan tulisan yang asyik itu?

 Artikel ini merupakan salah satu reaksi lanjutan (kayak Covid’19 saja) atas pertanyaan salah satu pembaca di tulisan saya sebelumnya di Rackticle.com yang berjudul; ‘Tiga Syarat agar Judul Memikat’. Pembaca tersebut menulis di kolom respon bahwa contoh-contoh judul menarik alias memikat kurang banyak. Baiklah, semoga artikel ini mampu menjadi jawaban  dan saya sengaja menggunakan diksi sangat ekstrim; ngawur!

Dalam kancah dunia persilatan tulis-menulis artikel populer, semakin kita ‘ngawur’ maka tulisan kita cenderung diikuti pembaca. Percaya nggak percaya, saya telah melakukannya selama hampir 25 tahun lebih (maaf, keceplosan!). Ngawur disini bukan ngawur kayak orang gila memakai jurus mabuk. Mabuk boleh sih tapi harus mabuk data sehingga kaya logika dan sudut pandang. Nah! Bingung kan? Namanya saja ngawur, hehe...

Jelasnya begini, sudah menjadi watak manusia (baca: pembaca) suka hal-hal yang aneh, ajaib, nyentrik, di luar nalar dan sejenisnya. Simak saja hampir setiap hari info-info nyentrik selebritis, dunia gaib, seksualitas hingga berita panas dunia politik selalu menarik. Pembaca kita menginginkan informasi terhangat, terpanas, bahkan kadang tak masuk nalar. Seorang penulis harus mampu menangkap hal ini. Meski akhirnya kita memiliki gaya sendiri dalam menuangkannya.

 Seorang Gus Dur (Abdurrahman Wahid) semasa hidup, artikelnya selalu dianggap menarik karena menyajikan tema biasa yang dibingkai dengan gaya judul eksentrik. Begitu juga Arswendo Atmowiloto memiliki gaya kenyelenehan tersendiri yang membuat tulisannya menarik. Goenawan Mohammad –meski dalam frame yang berbeda—gaya logika dalam membuat judul juga sangat berbeda; singkat dan menghujam!

 Ambil contoh, tulisan Gus Dur pernah ada yang berjudul; ‘Ganti Assamu’alaikum dengan Selamat Pagi’ reaksi pun bermunculan. Pernah juga menulis: ‘Tuhan Tak Perlu Dibela’ pun muncul komentar beragam. Judul-judul tersebut sangat antimainstream dan selalu membuat mata pembaca terbelalak. Mengapa bisa begitu? Mari kita kupas secara singkat kengawuran mereka.

 Pertama; judul itu wajah. Jadi bikinlah wajah kita tidak sama dengan wajah-wajah kebanyakan orang. Kalau wajah kita masih sama dengan wajah orang, paling-paling yang mengenali dan menyapa hanya teman-teman dekat. Pasang wajah yang antimainstream. Bikin judul sesukamu! Ini bukan artikel ilmiah yang semua variabel isi harus nangkring. Saya pernah membuat tulisan dengan judul emoticon saja. Reaksi pembaca asyik! (googling saja #CE).

 Kedua, mabuk logika. Ketika melihat fenomena dan Anda tertarik untuk menuangkan dalam tulisan, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah lihat respon publik; bagaimana terhadap fenomena tersebut. Ini penting agar laku ngawur selanjutnya bisa dimengerti pembaca. Ambil contoh; Lucinta Luna tertangkap pakai narkoba. Dia transgender telah operasi kelamin di Thailand. Kira-kira judul apa yang tepat untuk tulisan bertema hal tersebut? bla...bla...bla...salah satu alternatifnya saya akan membuat judul; Lucinta, Kasihani Kelaminmu.

 Kenapa begitu? Semua orang pasti bicara narkobanya, dimana penjaranya; sel cewek atau cowok. Teramat jarang yang mengupas efek ganti kelamin dalam konteks psikologis, oleh karena itu; kasihani kelaminmu, Lucinta...hehe...Intinya, ibarat pepatah; jika semua orang (opini calon pembaca) berlari ke utara, maka kita harus berani lari ke ke selatan meski seorang diri. Itulah ngawur yang asoy!

 Ketiga, lakukan secara ajeg. Penyakit seorang penulis adalah mudah patah hati. Mereka hatinya akan sedih manakala tulisannya dianggap kurang mampu menarik perhatian. Jangan salahkan pembaca. Salah diri sendiri; mengapa mudah patah hati alias patah semangat. Untuk mampu menghasilkan gaya tulisan yang menarik, analoginya begini; kita selama lima tahun menulis terus menerus maka pada tahun keenam baru menemukan gaya kita. Lama ya?

 Menulis itu membutuhkan proses dan harus terus progres. Apa yang dilakukan tokoh-tokoh super senior yang saya contohkan di atas adalah inspirasi baik agar kita selalu out of frame, keluar zona nyaman sehingga dapat menemukann view tulisan yang segar dan tak terduga.

 Masih bingung? Namanya juga tulisan ngawur!

Sampai ketemu di artikel berikutnya.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

About Author

Penulis dan Columnis

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 8, 2020, 10:43 AM - Deni Riyandi
Mar 18, 2020, 9:15 PM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma
Aug 5, 2020, 12:31 AM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 12:28 AM - Adre Zaif Rachman