(CERPEN) Berlibur di Kebun Pisang

(CERPEN)  Berlibur di Kebun Pisang

"Budi sekarang giliran kamu," kata Pak Guru memanggil namaku. Pak Guru memintaku bercerita tentang liburan panjang yang lalu. Ada yang menyukai hal itu. Ada juga yang takut ke depan kelas untuk bercerita. Budi sendiri ingin segera menceritakan pengalamannya itu.

Akhirnya, tiba waktunya Budi bercerita. "Liburan panjang kemarin kami sekeluarga berlibur di kebun pisang kakek di Sukabumi. Perjalanan dari Jakarta kami tempuh sekitar 2 jam saja. Karena kami lewat jalan tol Jagorawi. Kakekku adalah petani pisang di Sukabumi. Jadi, kalau kalian makan pisang ambon, nangka, dan raja bisa jadi ada yang dari kebun kakekku. Selama di rumah kakek, yang aku lakukan tentu saja makan pisang sesukaku.

Kalau di Jakarta harga pisang mahal sekali, di Sukabumi dengan uang lima ribu saja kita sudah dapat pisang beberapa tandan. Aku pernah bertanya kepada kakek, bagaimana ceritanya hingga kakek bisa menjadi petani pisang. Katanya, ia memang suka bertanam buah pisang. Namun, alasan kakek yang sebenarnya adalah ketika suatu waktu kakek bertemu dengan seorang yang sangat kaya. Kakek waktu itu hidup dalam keadaan sederhana, tidak banyak uang. Oleh karena itu, kebetulan bertemu dengan orang, ia bertanya kepada orang kaya tersebut tentang cara menjadi kaya. Orang kaya itu kemudian memberi tahu kakek caranya, asal saja kakek mau berjanji akan menjalankan semua nasihatnya. 

Kata orang itu, kalau kakek mau kaya disyaratkan untuk memberinya seember bulu pisang setiap bulannya. Kalau selama sepuluh tahun hal itu dilakukan, maka kekayaan kakek akan menyamai kekayaannya bahkan lebih. Persyaratan itu disanggupi oleh kakek. Persyaratan yang mudah. Baginya ia ingin meraih kesuksesan hidup, apapun caranya asal tidak melanggar hukum, akan dilakukannya. Ternyata jadi orang kaya itu mudah, walaupun waktunya agak terasa lama. Aku pernah bertanya kepada kakek, mengapa ia tidak pernah menyerah untuk menjadi orang kaya. Menurut kakek, ia tidak semata-mata akan memanfaatkan kekayaannya untuk pribadi kalau sudah kaya. Akan tetapi untuk kepentingan dan kemajuan bersama. Menurut cerita kakek, sesuai perjanjian, pada bulan pertama dengan mudah ia mampu memberikan satu ember bulu pisang kepada orang kaya itu. Bulan kedua dan ketiga juga masih lancar. Akan tetapi, bulan selanjutnya kakek bingung ke mana akan mencarinya. Sebab semua pisang di daerahnya sudah tidak berbulu lagi. Kakek terus saja memikirkan cara yang tepat agar bulan depan bisa menyetor seember bulu pisang. Namun, hingga waktu yang dijanjikan tiba kakek tidak bisa memenuhinya. 

Kakek senang sekali, ternyata orang kaya itu bijaksana juga. Kakek tidak terkena hukuman. Setoran bulu pisang yang lalu tetap dihitung. Kakek boleh setor bulu pisang setiap tiga bulan sekali. Kakek berterimakasih kepada orang kaya itu. Ia bahkan diberi keringanan. Dia pikir kalau setorannya tiga bulan sekali memberikan kemudahan yang berarti. Akhirnya, kakek mengajak penduduk desa untuk membantunya menanam pohon pisang di tanah kakek yang memang sangat luas. Setelah tiga bulan, dengan bangga kakek datang ke rumah orang kaya itu. Begitu seterusnya hingga sudah genap tiga tahun. Kakek bilang ia bahagia, karena tujuh tahun lagi orang kaya itu akan memenuhi janjinya. Walaupun masih sangat lama. Setelah setoran pisang tahun keempat dipenuhinya, kembali orang itu menunjukkan kearifannya. Kakek diizinkan memperbanyak setoran bulu pisang. Misalnya, sebulan enam ember. Dengan demikian, waktu untuk menjadi orang kaya lebih singkat. Kakek gembira bukan kepalang mendengar semua itu. Suatu waktu, orang kaya yang akan memberi kakek harta datang ke rumah kakek untuk membicarakan janji mereka masing-masing. Orang kaya itu menyatakan, kakek sudah tidak perlu lagi menyetorkan bulu pisang kepadanya karena ia akan segera memenuhi janjinya. Padahal kalau dihitung, menurut kakek, ia baru menjadi orang kaya tahun depan. 

Orang kaya itu beralasan, ia mempercepat janjinya karena selama bekerja sama, kakek selalu patuh, disiplin, jujur, dan sabar dalam meraih cita-citanya untuk menjadi orang kaya. Akan tetapi, ujung kata-kata orang kaya itu membuat kakek marah, yakni ketika orang kaya itu berkata bahwa sebenarnya ia tidak akan pernah memberikan kekayaannya kepada kakekku. Kakek bilang, secepat kilat ia mencabut goloknya dan mengarahkannya ke leher orang kaya itu. Akan tetapi, orang kaya itu malah tertawa di hadapan kakek. Kakek bilang ia semakin tidak mengerti. Orang kaya itu kemudian mengajak kakek berbicara baik-baik. Sebab kata orang itu, sebentar lagi kekayaan kakek akan menyemai kekayaan miliknya, bahkan lebih. 

Orang itu kemudian mengulangi kata-katanya yang membuat kakekku marah. Katanya, ia tidak akan pernah memberikan kekayaannya kepada kakek. Karena kekayaan yang akan ia berikan adalah milik kakekku sendiri, hasil usaha sendiri. Kakek mengaku belum juga paham. Namun, ketika orang itu berkata bahwa ketika kakekku sibuk mengambil bulu pisang muda, maka orang kaya itu sibuk bersama para pekerjanya memanen pisang yang sudah tua. Uang yang diserahkannya, diakui oleh orang kaya itu adalah hasil penjualan pisang yang ditanam kakekku selama ini. " Demikian cerita kakekku, semoga bermanfaat bagi kita,"kataku mengakhiri cerita itu yang disambut tepuk tangan dan sorak-sorai seisi kelas.

"SELESAI"

 

NASEHAT: 

  • Kita harus selalu bekerja keras dan jangan pantang menyerah, jangan sesekali takut gagal, karena kegagalan itu hanya kesuksesan yang tertunda.
  • Kekayaan memang bukan segala-galanya. Tetapi dengan kekayaan kita bisa membantu siapa saja. Mereka yang sakit, yang tidak mampu sekolah, dan yang kelaparan bisa kita bantu. 


It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Jan 8, 2020, 10:43 AM - Deni Riyandi
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma