Belajar Menulis: Gampang-Gampang Susah tapi Asyik dan Menjanjikan

Belajar Menulis: Gampang-Gampang Susah tapi Asyik dan Menjanjikan

Menulis adalah salah satu kata yang sering kita dengar dan kita baca dalam keseharian. Sampai-sampai ketika saya mengucapkan kata itu berulang-ulang, kata yang biasanya akrab menjadi asing dan menjadi bingung mau mendefinisikan kata itu. Apa sih artinya kata menulis itu?

Jangan berharap bahwa saya akan menjelaskan atau mendefinisikan kata "menulis" itu lho ya. Kalau mau tahu arti kata menulis silahkan bisa cari di Google atau di situs pencarian lain :)

Dalam tulisan ini saya ingin menguraikan betapa tidak mudahnya kita menulis di saat memulai membuat tulisan atau karangan, entah berupa cerpen, puisi, maupun informasi. Seringkali kita mempunyai banyak ide untuk ditulis, tetapi seringkali juga ketika kita mulai menulis malah kehilangan ide itu sendiri. Namun, ada juga teman yang suka menulis sampai bingung menuangkan idenya karena terlalu banyak ide atau gagasan yang ingin ditulisnya. Karena terlalu banyak yang ditulis sampai-sampai dia harus mengedit dan mengedit tulisannya hingga tersenyum puas karena merasa mantap akan hasil tulisannya itu.

Tips yang sering kita dapatkan saat akan menulis adalah rumus 4W plus H, yaitu: "What, Where, When, Why, dan How" atau dalam bahasa Indonesia "Apa, Di mana, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana".

Bagi yang sudah biasa menulis, rumus itu tidak menjadi masalah. Bahkan bisa dikatakan tanpa memakai rumus itu pun mereka akan mengalir dalam menuangkan ide atau gagasan dalam tulisannya. Tetapi bagi yang baru memulai untuk menulis atau yang awal-awal belajar menulis (seperti saya saat menulis artikel ini, hehehehe....) masih bingung untuk menjabarkannya.

Bayangkan! 

Rumus untuk menulis hanya 5 kata. Iya... hanya 5 kata! Tetapi yang mau ditulis sekian banyak kata. Nah, bisa dibayangkan bagaimana akan memulainya kan?

Banyak penulis (tanpa saya harus sebutkan namanya ya) menyarankan bahwa kalau ingin menulis ya menulis saja. Buat kerangka karangan dulu lalu uraikan dan baca berkali-kali dan koreksi hasil tulisan itu. Kelihatannya gampang ya? Coba deh bagi para penulis pemula praktikkan dijamin bingung deh (yah... seperti yang menulis artikel ini... hehehe....).

Itulah mengapa saya mengatakan menulis itu gampang-gampang susah, susah-susah gampang.

Bagi yang belum tahu artinya gampang, gampang itu merupakan kata lain dari kata mudah. Nah, jadi mengerti kan sekarang?

Untuk menulis 1000 karakter itu mudah bagi yang terbiasa menulis karena ide atau gagasan itu bisa mengalir begitu saja tertuang dalam tulisan. Tetapi bagi para penulis pemula, 1000 karakter itu begitu banyak sampai mau menulis pun enggan. Jangankan menulis, membayangkannya pun sudah tidak mau. Apa yang mau ditulis, mau menulis apa, bagaimana memulai, menulis tentang apa, bagaimana kalau berhenti di tengah jalan, sudah susah membayangkannya. Ide yang di kepala sudah ada, tetapi untuk memulai saja sudah enggan. Baru dapat 100 karakter saja sudah mulai bingung untuk menulis. Berbeda halnya jika meniru atau copy paste, hanya sedikit berpikir akan menuangkan tulisan tentang apa, searchingblock tulisan lalu di-copy, selanjutnya di-paste, selesai. Jangankan 100 karakter, 3000 - 5000 karakter pun kalau hanya copy paste ya gampang-gampang saja, iya kan?

Mengapa saya mengatakan seperti itu? Ya, itu karena saya pernah dan sering melakukannya, terlebih berkaitan dengan menulis deskripsi produk. Daripada susah-susah menulis, cari yang sudah ada lalu copy paste kan, selesai. Gampang kan, hehehehe....

Saya sering juga menemukan beberapa blog dan atau website dengan tema yang sama, isinya sama, bahkan judulnya pun sama. Meskipun ada juga judul yang berbeda, tetapi isinya, bahasanya, dan kata-katanya sama. Sekalipun ada yang berbeda itu karena kreativitas penulisnya yang mengubah beberapa kata atau kalimat, atau pun menambah atau mengurangi kata atau kalimat itu. Kalau itu pemilik beberapa blog atau dan website-nya satu orang sih masih bisa dimaklumi, tetapi jika beda orang ya lain lagi ceritanya.

Apakah dengan menguraikan hal tersebut di atas itu berarti saya anti dengan cara seperti itu?

O... tidak... tidak sama sekali. Setidak-tidaknya mereka sudah berani untuk menuangkan idenya sendiri atau ide orang lain menjadi karya tulis mereka. Justru saya menghargai itu karena sudah ada usaha di sana. Setidak-tidaknya mereka berani menampilkan tulisan-tulisan yang bisa bermanfaat bagi orang lain daripada hanya sekadar menghujat dan mencemooh saja tetapi tidak berani atau malas untuk melakukannya. Karena saya yakin bahwa dengan cara itu mereka bisa menjadi berkembang dalam hal ide dan karya tulisnya. Yang tadinya hanya copy paste saja lama-lama merasa tidak yakin dengan cara itu lalu menjadi kreatif menulis dengan gaya bahasa mereka sendiri. Sungguh suatu proses yang tidak banyak dilakukan orang. Bagaimanapun penikmat akan lebih banyak daripada pelaku. Dan, pelaku harus siap menerima kritik dan pujian. Justru dengan kritikan dan pujian itu, diharapkan pelaku mampu meningkatkan kemampuannya.

Karya tulis seringkali tidak lepas dari kemampuan orang dalam berimajinasi. Semakin tinggi kemampuan orang berimajinasi, semakin besar pula kemampuan orang itu dalam menuangkan imajinasinya ke dalam tulisan. Namun ini juga tidak lepas dari bagaimana orang itu berusaha menuangkan imajinasinya ke dalam bentuk tulisan. Meskipun mempunyai imajinasi yang tinggi tetapi tidak ada kemauan untuk menuangkan imajinasinya itu, ya tetaplah sekadar imajinasi tanpa hasil karya.

Kita bisa melihat karya-karya besar para cerpenis, novelis, dan para filsuf dalam menuangkan karya-karya mereka. Bagaimana mereka bisa mendeskripsikan alam, lingkungan di mana sang tokoh berada, situasi yang terjadi dan yang dialami tokoh, bahkan dialog-dialog yang begitu indah sehingga pembaca digiring untuk terus mengikuti alur cerita sampai selesai.

Bukan hanya imajinasi yang menjadi dasar hasil tulisan, tetapi dari berdasarkan pengalaman pun juga bisa menjadi karya tulis. Kita bisa melihat karya-karya yang berdasarkan pengalaman menjadi orang yang sukses ditulis dan itu menjadi inspirasi bagi orang-orang yang mempunyai minat yang sama.

Kemampuan yang luar biasa itulah yang tanpa disadari oleh para pembacanya, menjadikan mereka sebagai penggemar setia bagi para penulis itu. Bahkan tidak jarang para pembaca yang setia itu terobsesi dengan tokoh-tokoh yang ada di dalam karya tulis itu atau pun mereka terobsesi oleh penulis itu sendiri.

Dari pengamatan pun juga bisa menjadi bahan tulisan. Orang yang senang mengamati kejadian-kejadian sekitar pun bisa menuangkan hasil pengamatannya menjadi karya tulis. Seringkali pengamatan itu juga disertai dengan analisis-analisis sebelum atau setelah kejadian yang seringkali pula menjadi pro dan kontra peristiwa itu.

Sengaja saya tidak menyebutkan para pengarang atau penulis serta hasil karya mereka. Saya mengandaikan bahwa yang membaca tulisan ini sudah tahu siapa saja mereka dan apa saja hasil karya mereka dalam bentuk tulisan. Kalau pun belum tahu, saya persilahkan untuk diskusi dengan keluarga, pasangan, atau teman-teman yang bisa diajak berdiskusi :)

Oleh sebab itu, penting bagi para pelajar dan mahasiswa mendalami pelajaran Bahasa Indonesia.

Mengapa demikian?

Seringkali para pelajar dan mahasiswa kurang tertarik dengan Bahasa Indonesia. Padahal, Bahasa Indonesia memuat pelajaran yang sangat penting berkaitan dengan karya tulis. Jika pelajar atau mahasiswa mampu menguasai atau setidak-tidaknya paham tentang muatan yang dipelajari dalam materi itu, mereka akan dengan mudah memahami soal-soal cerita yang sering jadi momok para pelajar yaitu Matematika dan IPA (dalam hal ini Fisika dan Kimia). Para mahasiswa semua fakultas pun akan lebih mudah memahami materi-materi bahan perkuliahan. Muatan pelajaran Bahasa Indonesia mengandung deskripsi, narasi, argumentasi, persuasi, bahkan analisis. Dasar yang mengasah kemampuan menulis yaitu Pelajaran Mengarang. Peserta didik dilatih untuk menuangkan ide-ide cerita dalam bentuk tulisan, baik itu berdasarkan pengalaman maupun fantasi masing-masing peserta didik. Di dalam tulisan mengarang itu bisa bermacam-macam jenisnya, baik itu berupa narasi, deskripsi, argumentasi, persuasi, maupun analisis. Meskipun para peserta didik belum mengetahui hasil karangannya itu termasuk jenis yang mana, namun kemampuan menulis sudah diasah dari ide cerita menjadi hasil tulisan.

Saya menyadari itu setelah saya iseng-iseng membaca soal cerita pada buku Matematika anak. Jika kita tidak memahami kalimat-kalimat dalam soal cerita itu, bisa dipastikan kita tidak bisa mengerjakannya. Sekalipun paham akan soal itu pun belum tentu dengan mudah kita menerapkan rumus-rumus untuk mengerjakan soal itu. Membaca soal cerita itu perlu disertai imajinasi supaya dapat menentukan proses penyelesaiannya. Saat-saat berimajinasi ini dapat kita temukan ketika kita akan menulis sebuah karangan dan itu ada dalam Pelajaran Mengarang. Dan, Pelajaran Mengarang itu terdapat pada pelajaran Bahasa Indonesia.

Dulu... pada saat saya menjadi peserta didik, saya kurang begitu suka dengan pelajaran Bahasa Indonesia, terutama Pelajaran Mengarang. Rasanya berat sekali ketika akan menggoreskan pena di atas kertas atau buku. Bingung mau menulis apa. Yang diminta minimal sekian paragraf dengan masing-masing paragraf minimal sekian kalimat, yang jadi tulisan saya malah tidak mencapai apa yang diminta oleh pendidik. Itu terjadi karena belum apa-apa saya sudah mulai enggan untuk mengerjakannya. Tetapi bagi teman-teman yang suka mengarang, gampang saja mereka menulis cerita karangan mereka, bahkan bisa menulis lebih dari yang diminta pendidik.

Dengan demikian dapat saya katakan bahwa menulis itu juga merupakan salah satu passion. Sepandai apa pun kita mengarang cerita, setinggi apa pun imajinasi kita, jika kita tidak memiliki passion menulis, tetap saja tidak menjadi karya tulis. Tetapi jika tidak mempunyai kepandaian dalam hal mengarang cerita dan juga tidak mempunyai daya imajinasi yang tinggi, namun memiliki passion untuk menulis, kita akan belajar dan belajar terus untuk dapat menuangkan ide atau gagasan, maupun imajinasi yang ala kadarnya ke dalam bentuk karya tulis. 

Menulis itu kelihatannya gampang, tetapi akan menjadi susah jika betul-betul kita tidak terbiasa untuk menulis dan tidak berusaha menuangkan apa yang terbersit dalam pikiran kita ke dalam bentuk tulisan. Tetapi meskipun kelihatannya susah, jika kita berusaha dan tekun dalam menuangkan baik itu imajinasi, ide atau gagasan, pengetahuan, pengamatan, maupun analisis, ke dalam bentuk tulisan, menulis itu menjadi hal yang gampang.

Eits... tunggu dulu, setelah ini jangan menganggap saya orang yang gampang menulis karena saya telah menuliskan hal-hal di atas ya. Sekali lagi jangan!!!

Please!!!

Saya saat ini sedang belajar menuliskan apa yang terbersit dalam pikiran saya. Syukur-syukur hasil tulisan saya ini bisa menjadi rejeki bagi saya. Amin. :)

Salam belajar menulis.

Yogyakarta, 25 Januari 2020

Arnoldus Suluh D.C.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

About Author

Semakin banyak aku tahu, semakin aku tidak tahu

Popular This Week
Feb 26, 2020, 9:13 PM - Maman suherman
Feb 23, 2020, 7:27 PM - Maman suherman
Feb 21, 2020, 11:54 PM - RackTicle Manager
Jan 7, 2020, 2:10 PM - Bayu Rinaldhi
Dec 3, 2019, 4:24 PM - Agus Kurniawan
Recent Articles