Banyak yang Jago Cari Uang, Tapi Sedikit yang Mampu Mengatur Keuangan

Banyak yang Jago Cari Uang, Tapi Sedikit yang Mampu Mengatur Keuangan

Ada sejumlah pertanyaan dibenak para anak Bangsa terhadap negara kita tercinta Indonesia. Terkhusus dalam bidang ekonomi, yakni mengapa negeri ini tidak maju-maju seperti negara kaya raya di dunia, padahal sumber daya dan kekayaan negeri ini melimpah ruah? Dikenal juga dengan istilah gemah ripah loh jinawi.

Kalau masalah pekerjaan dan cari uang. Indonesia bisa dibilang tidak ada masalah. Mungkin pendapat ini bisa keliru. Tapi fakta bawah negeri ini diibaratkan bagai kolam susu, yang mana tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Kesuburan tanah bumi Pertiwi sulit terbantahkan.

Artinya negeri ini seolah tidak membiarkan penduduknya kelaparan. Dengan catatan harus mau berusaha. Maka kalau urusan perut mudah-mudahan bisa terpenuhi.

Tapi faktanya di Indonesia tetap ada orang miskin, kelaparan dan serba kekurangan. Dimana sebenarnya ini bukan masalah di Indonesia saja. Melainkan seluruh dunia sejak dulu juga sudah bergelut dengan masalah ketimpangan ekonomi, pangan dan sebagainya.

Khususnya di Indonesia. Ekonomi selalu menjadi fokus pemerintah. Karena sektor ini sebagai jantungnya negara. Dan bagusnya juga untuk komoditi politik.

Umumnya yang dipikirkan banyak orang soal ekonomi itu seperti subsidi, lapangan pekerjaan, modal usaha dan sebagainya. Konsep-konsep ekonomi seperti demikian rasanya sudah sangat biasa.

Mungkin kalau perkara menghasilkan uang masih bisa dilakukan dengan banyak cara. Tapi masalahnya kini tidak lagi bekerja dan memperoleh sejumlah uang semata. Melainkan kesusahan mengatur keuangan.

Meminjam istilah yang sempat disampaikan Presiden Jokowi dalam pidatonya pada pelantikan dirinya sebagai Presiden Republik Indonesia untuk periode kedua (20 Oktober 2019), yakni "Middle Income Trap".

Istilah yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi "Jebakan atau perangkap penghasilan menengah". Istilah ini sebenarnya merujuk pada suatu negara yang menyandang status berkembang dalam waktu lama dan tak kunjung naik kelas menjadi negara maju.

Dan istilah "middle income trap" ini juga bisa ditujukan pada individu atau perorangan. Merujuk pada seseorang yang selalu kesulitan keuangan. Meskipun sebenarnya dia ini memiliki pekerjaan, namun penghasilan selalu saja pas-pas. Sekalipun beberapa naik gaji 

Tuntutan gaya hidup dan tingkat konsumerisme yang tinggi, membuat seseorang menjadi boros. Setiap naik gaji, naik juga kebutuhannya, naik gaya hidupnya dan sebagainya.

Naik gaji, naik juga gaya hidupnya. Tanpa memikirkan menyisihkan gaji untuk tabungan, investasi dan kebutuhan lainnya.

Ya ini sudah jadi rahasia umum sebenarnya. Dan mungkin ada banyak disekitar kita. Ketika memiliki uang sedikit saja, langsung belanja macam-macam yang tidak perlu. Begitupun uang gaji, uda seperti air Bengawan Solo, mengalir sampai jauh.

Uda gitu, gak mau nabung. Apalagi mikirin untuk investasi maupun asuransi. Tapi kalau punya uang banyak dikit, cicil motor dan beli makanan enak yang sebenarnya gak sehat. Begitu jatuh sakit, kecelakan atau keperluan mendadak baru deh kelimpungan. Dan menyalahkan BPJS mahal.

Jadi ini barangkali sebab Indonesia masih menjadi negara ber-flower. Dan tak kunjung maju, karena terkena "middle income trap". Semoga perkiraan saya salah.

Tapi ini mungkin bisa dipertimbangkan. Selama ini langkah-langkah untuk mensejahtrakan bangsa Indonesia fokus pada pembangungan fisik, pembukaan lapangan kerja, pelatihan kerja, pemberian modal dan lain sebagainya.

Tapi gak banyak didengar ada pelatihan untuk orang mengatur keuangannya. Mendidik orang-orang untuk tahu diri, menyesuaikan pendapatan dan gaya hidup. Oke, ini mungkin sifatnya urusan pribadi orang masing-masing.

Tapi juga gak bisa dibiarkan gitu aja. Ya kita tahulah selama ini dimasyarakat kita beberapa. kalau ada bantuan dari pemerintah, uangnya dibelanjakan untuk keperluan yang tidak penting.

Apalagi dipicu oleh media sosial yang membuat banyak orang menjadi hedon. Kepuasaan batin sebagian orang saat ini berorientasi pada pengalaman digital. Tampil baik didunia maya lebih penting, bahkan mengalahkan urusan perut.

Sebenarnya kebiasaan atau sifat hedonisme ini sudah ada sejak lama. Dan gak apa juga, itu hak setiap orang mau hedon, boros atau apapun itu pilihan hidup setiap orang.

Gak ada masalah memang. Terserah juga kalau ada yang ngotot ngomong gini "hidup gue, uang gue, suka ati gue mau pake buat apa!".

Di artikel ini cuma mau ngajak kita sama-sama membuka persepsi baru soal keuangan dan ekonomi. Bahwa kesusahan keuangan atau bokek yang terjadi itu bukannya soal terbatasnya lapangan pekerjaan, resesi, atau berbagai teori-teori lainnya. Seperti Brexit, perang dagang atau apapun. Karena justru masalah keuangan yang dialami boleh jadi bermula dari diri sendiri.

Sebab ketidakmampuan mengatur keuangan. Tidak bisa menahan diri untuk tidak menghabiskan uang. Dan tidak bisa membedakan kebutuhan dan keinginan.

Orang-orang tahunya kalau mau memperbaiki hidup dari segi ekonomi itu bermula dari mengejar gelar serjana, pelatihan kerja hingga modal finansial jika ingin usaha. Tapi mengapa kita gak berpikir untuk belajar caranya mengatur uang.

Padahal hal tersebut penting. Tanpa bermaksud merendahkan siapapun. Sekalipun kamu anak sultan, tapi terlalu boros juga gak baik dan berpotensi bankrut. Ya kita gak tahu rejeki, kesehatan dan umur kedepan seperti apa. Terlebih gak punya asuransi atau tabungan untuk kebutuhan tidak terduga.

Lebih parah lagi bila seseorang dengan penghasilan sedikit tapi tidak pandai mengolah keuangannya. Logikanya orang kaya saja bisa bankrut bila tak bijak mengolah keuangannnya. Apalagi mereka yang biasa-biasa saja penghasilannya.

Sekali lagi ini kembali lagi pilihan hidup kita masing-masing. Mau jadi Si Hemat atau Boros. Apapun itu jadilah orang yang bijak dan bertanggung jawab atas pilihanmu.

Dengan tidak lagi menyalahkan keadaan atas kondisi yang serba kesusahan. Lucu aja sih ketika  diri kita masih suka menanyakan mengapa Indonesia tidak bisa menjadi negara maju padahal kaya sumber daya alamnya. Mirisnya lagi masih juga berhalusinasi bahwa Indonesia ini kaya raya, cadangan emasnya banyak dan harta warisan Presiden Soekarno melimpah sehingga bisa melunasi hutang. Tapi dilain sisi gemar menghabiskan uang untuk hal yang tidak terlalu penting sehingga kesusahan finansial setiap akhir bulan.

Ini merupakan keresahan saya pribadi. Usul juga kepada pemerintah atau otoritas terkait. Jika ingin membangun ekonomi negara yang bagus. Maka jangan hanya fokus buka lapangan kerja, pelatihan kerja dan kasih modal saja. Berikan juga pendidikan mengolah keuangan yang baik dan benar.

Agar semuanya tidak menjadi sia-sia. Ketika dari pemerintah maupun pihak swasta ada yang membantu mengusahakan membuka lapangan kerja, pelatihan kerja dan memberi modal.

Tapi apakah elok jika kita membalaskan dengan tidak bijak mengolah penghasilan. Gaji habis-habis saja untuk sesuatu yang gak perlu.

Bayangkan bila kita dibantu untuk mendapat penghasilan dari pemerintah. Tapi disia-siakan. Lantas apa bedanya kita dengan koruptor yang menyelewengkan uang rakyat.

Lebih parah lagi ketika segalanya sudah dibiayai oleh orang tua. Tapi justru tidak dimanfaatkan dengan baik. Malah sok hedon. Terlalu.

Ya ini soal mindset sih. Terserah kamu mau jadi hedon. Terobsesi pada sesuatu yang membahagiakan sekalipun harus menghabiskan uang. Tapi bila dikemudian hari keadaannya jadi makin sulit. Maka "nikmati" saja.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
About Author

LUV LUV LUV

Popular This Week
Feb 26, 2020, 9:13 PM - Maman suherman
Feb 23, 2020, 7:27 PM - Maman suherman
Feb 21, 2020, 11:54 PM - RackTicle Manager
Jan 7, 2020, 2:10 PM - Bayu Rinaldhi
Dec 3, 2019, 4:24 PM - Agus Kurniawan
Recent Articles