Banjir dan Bencana Mental

Banjir dan Bencana Mental

Siapa berani mengatakan bencana banjir yang melanda akhir-akhir ini --termasuk di Jakarta-- adalah buah persoalan mental. Berulangkali pemimpin (gubernur/bupati) berganti, banjir tetap saja datang. Banyak upaya dan setrategi telah dilakukan, hasilnya masih jauh api dari panggang. Menurut saya, banjir itu tidak hanya murni bencana melainkan 'bencana mental' yang melanda warga masyarakat kita. 

Terlalu jarang yang mengatakan sejatinya bencana banjir yang melanda sekitar kita adalah bencana mental. Setiap air bah datang, aksi saling menyalahkan pun terjadi. Warga menyalahkan pemerintah, lantas pemerintah menyalahkan petugas kebersihan dan instansi yang terkait tata kelola air. Pompa-pompa penyedot air pun dikerahkan. Pasukan oenyelamat pun tergopoh meluncurkan regu mengevakuasi warga. Dapur umum disiapkan. Selesai!

Hanya itu? Persoalan tidak sesederhana kenyataan (rutin) di atas. Sadarkah kita bahwa banjir sesungguhnya adalah 'bencana mental' yang sedang menjangkiti warga kita. Ironisnya, hingga kini belum --bahkan 'sengaja' dilupakan- formulasi yang menyentuh mental tersebut. Ibarat virus, penyakit mental warga kita terkait kesadaran penanggulangan bencana banjir sangat minim. Ini terbukti, sejak puluhan tahun lalu, banjir rutin melanda wilayah-wilayah perkotaan. Meski sebenarnya usaha antisipasi sangat mungkin dilakukan. 

Jika sebuah bencana dapat di-manage namun selalu saja terjadi berulang, membuktikan bahwa sejatinya akar persoalan ada pada manusia itu sendiri. Mental kita harus ditata. Mental yang sadar akan bahaya banjir. Apa saja penyakit mental terkait bencana banjir tersebut? Pertama, hilangnya kesadaran demografis secara massif. Artinya, sebagian besar masyakat kita lupa atau kurang menyadari kondisi dimana mereka tinggal. Apakah perkotaan, pedesaan, memiliki sistem tata kelola air yang bagus atau tidak, dan acuh dengan pentingnya lahan resapan air. Realitas mental seperti ini membuahkan masyarakat yang semena-mena terhadap lingkungan.

Kedua, hilangnya kesadaran atau kepekaan lingkungan. Hal ini terkait dengan perilaku yang selalu memperhatikan 'kesejahteraan lingkungan' Bagaimana lingkungan yang sejahtera? Manakala tumbuhan tumbuh dengan baik. Pohon-pohon rindang tumbuh di sekitar kita sehingga mampu meredam polusi udara. Lingkungan yang sejahtera adalah lingkungan yang bebas polutan. Selalu bersih terjaga! Masih adakah masyarakat kita yang peduli dan sangat memperhatikan hal ini?

Ketiga, menipisnya kesadaran pentingnya masa depan lingkungan. Dengan membuang sampah ke sungai atau selokan hari ini merupakan investasi penyebab banjir di masa depan. Dengan semena-mena terhadap lingkungan (sungai, hutan kota, selokan, dan sejenisnya) hari ini, kelak kita akan mengunduh buah kesemenaan tersebut. Boleh jadi, saudara kita yang hari ini tertimpa bencana banjir merupakan akibat burukny memperlakukan lingkungan di masa lalu. Aneka upaya 'penghadangan' bencana banjir, jika tanpa dilakukan upaya perbaikan mental masyarakat, hasilnya tidak optimal bahkan sia-sia. Kita hanya mengulang pekerjaan --evakuasi- saja yang menelan banyak biaya.

Lantas bagaimana usaha menyembuhkan penyakit mental tersebut? Kita harus berani melakukan upaya terobosan, misalnya melalui dunia pendidikan. Sangat mungkin usaha menciptakan lingkungan sehat masuk mtapelajaran atau paling tidak muatan lokal. Dimana anak-anak sejak dini dibekali pengetahuan pentingnya investasi perilaku baik terhadap lingkungan di masa kini. Menjaga kebersihan dan ikut menciptakan lingkungan yang sejahtera mentalitas anak harus ditata sedini mungkin agar  perilaku baik terhadap alam sekitar menjadi gaya hidup (life style). 

Dengan mental yang baik maka akan lahir generasi yang peka terhadap sekitar. Generasi yang memiliki kesadaran demografis dengan baik, peka terhadap lingkungan, serta memahami pentingnya investasi sikap baik terhadap sekitar demi masa depan lebih baik. Nah! Jika kita renungkan ternyata bencana banjir adalah bencana mental. Tiipisnya kesadaran menciptakan lingkungan yang baik memicu datangnya beragam bencana (salah satunya; banjir). Beranikah kita me-revolusi mental kita? 

Mari kita renungkan. 



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

About Author

Penulis dan Columnis

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Feb 8, 2020, 1:00 AM - Singgih Tri Widodo
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma