Bagaimana Menyikapi Toleransi di Tengah Keberagaman Indonesia

Bagaimana Menyikapi Toleransi di Tengah Keberagaman Indonesia

Apa sih satu hal yang bisa menyatukan seluruh rakyat di dunia?? Apakah emas, negara, tentara...well sebetulnya nggak ada satu hal pun di dunia yang lebih kuat yang bisa menyatukan rakyat dari pada sebuah cerita.

A good story...sebuah cerita yang bagus, itu bisa membuat kita semua bersatu. Cerita itu nggak bisa distop oleh apa pun dan nggak bisa dikalahkan oleh siapapun begitulah kalimat yang diucapkan Tyrion Lannister, Salah satu tokoh di serial Game of Thrones. Kalau menurut saya quotes itu sebenarnya berhubungan sekali dengan kehidupan manusia, tanpa kita sadari kehidupan kita ini sebetulnya didasari dari cerita-cerita yang sudah berkembang di masyarakat sejak kecil.

Kita diceritakan tentang bagaimana hidup harus berjalan, kita diceritakan tentang hal yang baik dan boleh dilakukan, dan hal yang buruk yang tidak seharusnya dilakukan. Dan kalau dilihat-lihat jarang sekali ada waktu dimana kita bener-bener belajar hidup secara original atau independen. Most of the time, hidup kita itu selalu dipengaruhi oleh cerita dari orang lain atau cerita dari luar ya kita selalu mengadopsi cerita-cerita yang telah ada, yang pada akhirnya akan ditambahkan ke dalam hidup kita dan menjadi world view atau pandangan hidup yang kita miliki. Contoh sederhana gini kita kan nggak pernah secara langsung merasakan racun ular kobra tapi, ya...kita tahu bahwa racun ular tersebut itu bisa mematikan, kenapa?? ya karena kita sudah mendengar cerita bahwa racun ular itu mematikan, kita juga enggak pernah tahu kenapa celana dinamakan celana dan baju kenapa dinamakan baju, kursi kenapa dinamakan kursi, yang kita pakai di kaki ya celana yang kita dudukin kursi.

Indonesia itu terdiri dari berbagai etnis dan kita mungkin nggak pernah kenal atau deket dengan semua etnis tersebut, tapi kita tahu dan mungkin percaya dengan cerita bahwa orang Padang itu cendrung pelit, orang Tionghoa itu jago jualan, Orang batak itu didikannya keras, dan sebagainya. Nah begitu kuatnya cerita yang ada sebuah cerita itu bisa mempersatukan orang-orang yang mempercayainya, begitupun sebaliknya cerita juga bisa memisahkan seseorang dengan orang lainnya, bahkan saking magicalnya sebuah cerita, saking canggihnya, seseorang bisa sampai mengorbankan seluruh jiwa dan raganya demi sebuah cerita yang ia percayai.

Di artikel ini saya akan membahas tentang cerita, tentang gimana nih semua cerita bisa menyatukan atau bahkan menghancurkan manusia terutama dalam banyaknya keberagaman cerita yang ada di Indonesia.

Ngomong-ngomong tentang cerita tadi saya bilang bahwa cerita itu bisa menyatukan umat, maupun memisahkan umat manusia. Kalau cerita itu bisa menyatukan ya bagus dong gitu, yang jadi masalah adalah ketika cerita ini bisa memisahkan manusia bahkan membuat manusia bisa memasuki satu sama lain nah ini adalah akibat dari stereotipe.

Stereotipe itu muncul karena cerita. Kenapa bisa mendengar cerita, karena dari cerita bakal terbentuk persepsi atau penilaian kita terhadap seseorang atau sekelompok orang, berdasarkan cerita yang kita terima, seperti yang dibilang tadi contohnya kan misal anggapan-anggapan bahwa orang Padang itu pelit, orang Tionghoa itu jago jualan, itu kan sebenarnya adalah stereotipe masyarakat atau anggapan-anggapan yang berasal dari cerita-cerita yang didengungkan terus-menerus. Semua manusia memang pasti akan punya stereotipe terhadap manusia lain, masalahnya adalah ketika stereotipe yang dimiliki itu negatif. Nah kalau kita udah punya stereotipe yang negatif terhadap suatu kelompok atau terhadap seseorang kita bisa jadi bakal menganggap bahwa kelompok yang kita stereotyping itu punya niat buruk atau hal negatif nah padahal itu belum tentu fakta.

Terus yang terjadi apa yang terjadi adalah kita cenderung memberikan perilaku diskriminatif ke mereka, kita belum tahu apakah ini cerita bener atau nggak. Contohnya gini zaman dulu orang kulit hitam itu nggak bisa sekolah, karena terdapat prasangka dan stereotipe negatif dari masyarakat bahkan nggak usah jauh-jauh di tahun 2018 aja sempet terdapat kasus viral dimana ada 2 orang kulit hitam yang ditangkap oleh polisi di Starbucks karena alasan yang kalau menurut banyak orang itu kurang masuk akal sebenarnya dan akhirnya banyak yang protes gitu untuk memboikot Starbucks, karena Kejadian ini dianggap terjadi karena stereotipe negatif terhadap orang kulit hitam, gara-gara stereotyping, itu cuman salah satu contoh aja kan, banyak juga hal-hal yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari yang kita alami langsung yang sebetulnya terjadi karena stereotipe dan prasangka buruk terhadap orang lain

Bahkan ya gue juga yakin bahwa kita sendiri pas ngelihat sekelompok orang tertentu Kita bisa jadi udah punya stereotipe tertentu gitu, padahal ya padahal bisa jadi kita mungkin belum pernah gitu kenalan ama mereka, ketemu sama mereka, kenal aja nggak tapi ya itu...secara otomatis kita sudah ngejudge banyak tanpa tahu luar dalamnya kayak gimana. Nah ini yang bahaya karena kalau ini kejadian dalam skala besar, bayangin semua orang itu punya perasangka ke orang lain, maka ya jangan heran gitu...persekusi dan diskriminasi itu bakal terus terjadi karena karena apa?? karena Ya udah dianggap negatif itu orang lain padahal belum kenal sama sekali, belum kenal satu sama lain, ini adalah masalah sederhana tapi besar dan urgent di Indonesia, karena Indonesia sendiri yang terdiri dari berbagai etnis dan kultur.

Kalau kita udah punya perasangka ke tetangga kita ke sesama kita sesama warga negara Indonesia maka nggak heran masih banyak konflik yang terjadi di Indonesia, nah tapi pastinya ada solusi dong buat masalah ini dan solusinya sebenarnya sangat sederhana Apaan tuh?? simple solusinya...adalah kenalan, ya ketemu aja terus kenalan dan mungkin kamu mikir kok kenalan?? emang apa gunanya kenalan, kenalan ini itu udah pernah dipraktekin berbagai organisasi yang peduli dengan toleransi dan keberagaman di dunia maupun di Indonesia.

Yang dilakukan simple pertama dikumpulin. Ya...anak-anak dari berbagai agama, berbagai background, agama-agama, etnis dan sebagainya. Nah itu dipertemukan satu sama lain, akhirnya setelah dikumpulin mereka tuh ditanya masing-masing tentang apa sih stereotip dan prasangka anak itu terhadap orang dari agama lain, dan jawabannya beragam, tapi secara umum setiap orang itu setiap anak yang cenderung punya stereotipe tersendiri atau punya prasangka negatif ke agama lain nya. Nah setelah itu setelah ditanya kayak gitu anak-anak dari berbagai agama ini diajak untuk mengunjungi tempat ibadah agama lain, jadi supaya tahu, supaya kenal gitu. nah akhirnya masing-masing dari mereka pun mulai bertanya mulai nanya-nanya tentang hal yang ada di luar agamanya, misalnya kalau orang Islam datang ke yang Kristen katanya di gereja kayak gimana begitu sebaliknya gimana gitu. Setelah itu yang terjadi adalah setelah mereka kenalan setelah mereka tahu satu sama lainnya yang terjadi adalah mereka mulai akrab satu sama lain, dan setelah kenal banyak yang baru sadar bahwa stereotipe  yang di awal yang ditanyakan dan dijawab oleh mereka sebenarnya itu kurang tepat dan mereka baru sadar setelah kenal baru sadar bahwa orang yang diberikan prasangka negatif itu ternyata nggak negatif, bahkan malah sebaliknya orang itu malah baik itu dan kalau dari sudut pandang psikologi sosial intervensi ini sebetulnya sejalan dengan salah satu teori yang cukup terkenal namanya adalah Teori Contact Hypothesis, obat dari stereotipe, obat dari prasangka, obat dari konflik antar grup.

Itu sebenarnya simple banget ya kamu ikutin peribahasa ini aja kalau nggak kenal maka ga akan pernah sayang makanya kalau kita mau jadi toleran, kalau rakyat Indonesia ini mau bersatu, ya mau gak mau kita harus mau untuk berinteraksi dengan orang lain meskipun orang itu orang lain itu mungkin berbeda banget dengan kita atau mungkin bukan dari kelompok kita.

Kenapa harus kenalan, karena efek kenalan ini berdasarkan teori kontak hipotesis ini sudah dibuktikan lewat ratusan bahkan mungkin ribuan penelitian. Penelitian korelasional maupun eksperimental, jadi udah terbukti signifikansinya gitu nah apakah kenalan doang cukup?? Apakah efeknya bakal langsung terjadi, nggak juga...ada empat hal yang bisa mengamplifikasi efek positif dari kenalan ini supaya bisa lebih berdampak buat mengurangi prasangka negatif ke orang lain.

Pertama selain kenalan orang itu harus punya kesamaan tujuan misal antar tetangga habis kenalan Kalau misalnya si tetangga itu gotong royong buat bersihin bekas banjir kita dengan tetangga itu punya tujuan yang sama gitu buat bersih-bersih Nah kalau tujuannya udah sama kayak gini maka bakalan lebih mudah buat akrab dan mengurangi stereotip itu yang pertama.

Yang kedua adalah adanya dukungan dari institusi biasanya terjadi konflik antara kedua pihak itu terjadi karena institusi ga mendukung si pihak-pihak yang konflik itu kalau misalnya negara atau aparat saya sudah diskriminatif terhadap orang-orangnya, maka rakyatnya juga akan mengikuti dan cenderung diskriminatif juga, maka biasanya konflik itu bisa diredam ketika institusi yang berperan sebagai penengah atau memoderasi itu juga mendukung agar mereka bisa berkenalan.

Yang ketiga adanya kesetaraan status kalau satu kelompok masih memandang kelompok lain lebih rendah atau mungkin lebih tinggi dari dia biasanya bakalan sulit untuk menghilangkan secara tetap atau diskriminasi maka ada baiknya kalau masing-masing kelompok itu bisa memandang satu sama lain sebagai pihak yang setara sebagai pihak yang sejajar, jadinya ga ada yang diatas ga ada yang dibawah.

Yang keempat adalah adanya kerjasama antar kelompok, ini juga ada salah satu kebudayaan warga Indonesia kan sebenarnya gotong royong, kalau kita kerjasama harusnya ya stereotipe dan prasangka ini bisa dikurangi dan konflik antar kelompok itu bisa diminimalisir dan ternyata ya setelah diteliti sebetulnya ada beberapa hal yang setelah melakukan kontak antar kelompok pertama kita itu jadi lebih bisa berempati, berempati gimana maksudnya??? maksudnya kita jadi ngerti kondisi kelompok lain tuh kayak gimana, karena kenapa?? karena udah kenal gitu, udah ngobrol, udah tahu apa yang ada dipikiran masing-masing, makanya jadi lebih empatik, yang kedua kecemasan kita setelah kenalan gitu jadi berkurang karena kenalan itu, kita juga jadi bisa tahu banyak hal tentang kelompok lain itu jadi prasangka dan asumsi-asumsi negatif itu bisa berkurang karena rata-rata, kenapa orang ngasih prasangka negatif ya basicly karena belum kenal aja, memang belum tahu aja, apa yang ada dipikiran orang ini makanya ada etnis-etnis tertentu atau kelompok tertentu yang suka berantem, sebenarnya ya karena bisa jadi karena nggak mau kenalan saja dan emang ga kenal satu sama lain,

itu sih Kenapa teori kontak hipotesis terbukti bisa meredakan konflik-konflik yang ada di Indonesia, nah pertanyaannya kalau gitu kita bisa ngapain Kita bisa mulai dari diri kita sendiri, kalau selama ini merasa bahwa banyak memberi stereotipe di pikiran kamu , atau punya anggapan-anggapan tertentu ke orang yang berbeda dengan kamu, kamu bisa coba untuk mengubah persepsi kamu yang ada tentang orang-orang di sekitar kamu, apalagi kalau belum kenal mereka, ingat aja prinsip tadi tak kenal maka tak sayang .

Terima Kasih



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

About Author
Recent Articles
Apr 6, 2020, 1:37 AM - Deni Riyandi
Apr 5, 2020, 1:02 PM - Andria Ranti
Apr 5, 2020, 10:15 AM - Singgih Tri Widodo
Mar 30, 2020, 2:11 PM - Shinta Kusuma
Mar 30, 2020, 2:01 PM - Indraz