[CERPEN-Mistis] Arwah di Gedung Tua

[CERPEN-Mistis] Arwah di Gedung Tua

Hari semakin gelap. Kabut tebal turun perlahan menyelimuti area sekitar. Hujan semakin deras mengantarkan dingin yang kian menusuk hingga ke tulang. Dan… aku terperangkap di sini, di sebuah bangunan aneh di tempat yang sangat asing dan terpencil. Sialnya, ini hanya gedung tua yang sama sekali tak indah.

Ah, tempat ini sama sekali bukan tempat yang nyaman untuk beristirahat atau sekadar numpang berteduh sekalipun. Selain ruangannya berdebu, penerbangannya juga sangat minim. Hanya ada satu lampu–itupun dengan nyala yang ogah-ogahan–di ruang depan sejenis aula dengan beberapa kursi kayu menumpuk di salah satu pojoknya. Di ujung aula sebelah Timur, ada dua ruang yang letaknya bersebelahan, kosong dan gelap. Kedua daun pintu ruangan itu sudah tak di tempatnya lagi.  Sementara di ujung aula sebelah Barat, terdapat sebuah tangga besi hitam berkelok menuju lantai dua.

Aku sempat naik dan memeriksa ruangan itu untuk mencari bahan bakar tadi siang. Ada dua ruangan yang dindingnya terlihat kumuh. Cat biru yang masih tersisa terlihat kusam. Beberapa bagian temboknya sudah tak utuh lagi, berlubang di sana sini. Tetapi dua pintu kayu dengan ukiran flora di sisi-sisinya, masih kukuh dan terkunci rapat.

“Konon, pada masa penjajahan Jepang dua ruangan itu dipakai sebagai ruang tahanan,” Jay menjelaskan, sesaat sebelum dia pergi meninggalkanku sendirian di sini. “Ruang yang satunya, pernah digunakan untuk menyiksa para tahanan....”

“Kamu tahu dari mana, Jay?” tanyaku penasaran. “Sebenarnya ini gedung apa?”

“Kamu lupa, Rio pernah cerita kalau kakeknya pernah tinggal di ujung desa sebelah. Mungkin di balik bukit itu letaknya. Aku yakin, dia tahu banyak tempat ini. Dia pernah cerita kalau di lokasi ini ada tempat mistis yang sering dijadikan tempat untuk mencari wangsit. Bisa jadi, inilah tempat yang dia maksud. Kalau diperhatikan, memang serem banget, kan?”

“Maksudmu, ini tempat angker gitu?”

“Kalau masalah angker atau nggaknya, aku nggak tahu juga. Sudah, nggak usah kayak Rio dan Andi yang selalu percaya hal-hal mistis.” Jay membimbing tanganku menuruni tangga. “Tenang aja, Nel. Nggak akan ada apa-apa kok. Percaya aku, okay?”

Aku ingin bertanya lebih banyak lagi tentang gedung yang penuh misteri ini. Sebenarnya untuk apa gedung ini dibangun di atas bukit yang jauh dari keramaian? Namun, Jay keburu pergi, berjalan entah ke mana untuk mencari bensin untuk motornya.

Well, bukan satu kebetulan jika sekarang aku berada di tempat sepi dan mengerikan ini. Semua ini gara-gara aku dan Jay salah memilih jalan. Kami terpisah dari rombongan di pertigaan jalan di ujung desa. Sialnya, ketika kami melintasi jalan yang berkelok dan memanjak, sepeda motor kami mogok karena kehabisan bahan bakar. Lebih sial lagi, tak ada signal hp sejak kami memasuki area ini, sehingga alat komunikasi canggih yang kami bawa tak berfungsi sama sekali.

Setelah berdiskusi cukup alot, dalam derasnya hujan, Jay memutuskan kembali menuruni jalan yang kami lalui untuk mencari bantuan. Jalan kaki! Barangkali dia juga bisa mendapatkan bahan bakar di sana. Entahlah. Harapan itu sangat tipis.  

Dan… kalau saja sejak awal tahu Jay akan pergi untuk waktu yang cukup lama, aku tak akan memutuskan menunggunya di sini. Meskipun kakiku sudah terasa pegal akibat berjalan entah berapa kilometer, aku tetap merasa lebih baik pergi bersama dia.

***

 

Liburan semester kali ini kami berencana camping. Setelah diskusi dan menampung semua masukan, Jurang Pulosari menjadi pilihan kami. Dari delapan orang yang bergabung, Rio-lah yang paling tahu daerah itu. Menurutnya, Pulosari adalah sebuah tempat di lembah bukit dengan air terjun yang mempesona. Letaknya di area desa Krebet, sebuah desa kecil di Barat Daya Yogyakarta, sekitar 1.890 KM dari batas kota.

            Jam lima sore, setelah melewati pemukiman penduduk, kami melewati jalan setapak berbatu di hutan jati yang berkelok dan menanjak. Tanah kering dan sedikit berbatu memudahkan roda-roda motor melewati jalan itu. Jujur, aku suka tempat ini. Teduh dan menyegarkan. Sayangnya, jarak pandang tak lebih dari tiga meter saja karena kabut mulai turun.

            Rio yang berboncengan dengan Liz menjadi petunjuk jalan. Disusul di belakangnya Andi yang memboncengkan Ela, lalu Rangga dengan Lily dan di urutan terakhir Jay dan aku. Kami beriringan dengan jarak yang tak pernah bisa ditentukan. Saat medan yang dilalui lumayan bagus, jarak kami bisa lebih merapat. Tetapi akan terjadi kebalikannya jika medannya sulit ditempuh; sempit, berbatu atau bahkan sangat licin.

            Inilah yang terjadi pada kami. Saat melewati jalan licin dan berbatu, Jay agak kewalahan mengendalikan motor trail big foot-nya. Hanya berpedoman pada lampu sign dari motor di depan kami, jarak kami semakin jauh tertinggal. Ketika suara derum motor di depan kami semakin menjauh dan samar, saat itulah Jay menyadari apa yang terjadi. Jay terlalu ceroboh. Dia tidak mempersiapkan segalanya dengan sempurna. Bahan bakar yang seharusnya terisi penuh, bahkan lupa dia isi. 

Satu kilometer lebih dari tempat kejadian, kami terpisah jauh dari rombongan. Bahkan di pertigaan jalan, kami tidak tahu arah mana yang seharusnya diambil. Tidak ada jejak roda yang bisa kami jadikan panduan. Suara derum motor di depan kami tidak terdengar lagi. Entah ide siapa, akhirnya kami memutuskan mengambil arah jalan ke sebelah kanan. Ketika kabut semakin tebal dan hujan turun sangat tiba-tiba, kami menemukan sebuah bangunan.

***

 

Pukul 8.45 malam. Jay belum juga kembali. Aku mulai cemas. Semoga tidak terjadi sesuatu dengan dia. Ya, Tuhan. Aku membayangkan tubuh Jay yang terbalut jas hujan plastik hitam itu tengah terhuyung menaiki jalan berbatu. Ah, kasian cowok itu. Pasti kedinginan. Seharusnya dia bisa menunggu hujan reda untuk turun ke sana.

            Jarak pandang tidak lebih dari satu jangkauan tangan. Gelap. Pekat. Dalam keadaan seperti ini, betapa aku sangat mengharapkan kehadiran Jay. Atau… siapa pun yang datang ke tempat ini. Sekarang aku menyesali keputusanku; meninggalkan diri di sini dan menunggu Jay kembali entah kapan. Jujur, tidak ingin sendirian di tempat seperti ini.

            Pet! Satu-satunya lampu di ruangan ini mendadak mati. Gelap seketika. Aku mencoba memeriksa ransel milik Jay yang kutaruh pada bangku kayu di tengah ruangan, barangkali ada senter atau apa pun yang bisa dijadikan alat penerangan. Dalam tasku, jelas tidak ada apa-apa, selain makanan dan beberapa botol air mineral. Tapi, ah! Kenapa ransel itu tiba-tiba tidak tampak di tempatnya? Rasanya… sedari tadi aku tidak memindahkannya.

            Dalam samar, aku mencari ransel milik Jay dan tasku hingga ke pojok ruangan. Kuperiksa tumpukan kursi-kursi kayu usang dan berdebu. Benar saja, tas kami teronggok begitu saja di pojok ruangan, di sebelah tumpukan kursi dan besi-besi tua. Baru saja bermaksud meraih tas itu, aku melihat dua bayangan hitam berkelebat menaiki tangga. Dari bentuknya, bisa dipastikan laki-laki dan perempuan. Aku terkesiap ketika bayangan itu menghilang di balik pintu. Tiba-tiba kurasakan hawa hangat menjalari tengkuk. Namun, segera kubuang jauh pikiran jelek yang tiba-tiba hadir di kepala. Bisa saja ini hanya halusinasi.

Dengan senter kecil yang kutemukan dalam ransel milik Jay, perlahan aku menaiki tangga. Aku harus mencari korek api atau apa pun yang bisa dijadikan alat untuk membuat api. Siapa tahu di dua ruangan yang terkunci rapat itu bisa kutemukan. Ada yang aneh. Ketika kakiku hampir meniti anak tangga terakhir, tiba-tiba bau anyir darah meruap dan menyergap penciuman. Aku merasakan sepatuku menginjak sesuatu yang licin dan basah. Kuarahkan cahaya senter ke kakiku. Namun tiba-tiba….

“Halo! Jay, Nela?! Kalian di sana?” Terdengar suara Andi di depan aula. Kemudian Disusul suara Ela, meneriakkan namaku, Jay, Rangga dan Lily.

Meskipun aku sempat heran kenapa Ela menyebut-nyebut nama Rangga dan Lily, aku bergegas kembali ke aula menghampiri mereka.

“Nela? Mana yang lain?” Suara Andi terdengar cemas. “Kamu sendirian?”

“Yang lain siapa? Nggak ada orang lain di sini.” Dengan bantuan cahaya senter, aku menatap wajah Andi dan Ela bergantian. “Jay pergi hampir dua jam lalu untuk mencari bantuan. Dari tadi sore aku sendiri di sini.…”

“Jadi, Rangga sama Lily nggak ke sini?” tanya Ela dengan suara yang terpenggal-penggal. “Ketika kami menyadari kalian tertinggal, kami meminta mereka kembali turun untuk menyusul kalian. Seharusnya mereka ke sini, karena Rio memberikan petunjuk yang benar.”

Seketika aku teringat bayangan yang berkelabat di tangga tadi. Mungkinkah itu mereka? Jangan-jangan Rangga dan Lily memang sengaja menakut-nakutiku. Ah, sialan mereka! Kubawa Andi dan Ela ke ruang atas untuk memastikan dugaanku. Senyap. Lantai dua dengan dua ruangan itu kosong. Bahkan kedua pintu ruangan itu juga masih tertutup rapat. Hmm… aku sempat mendengar suara benturan cukup jelas dari salah satu ruangan. Entah keberanian dari mana yang mendadak datang, aku mencoba memeriksa ruangan dengan pintu persis menghadap tangga. Aku mendorongnya. Pintu ini tak terkunci. Ini aneh!

“Sepertinya ada orang yang masuk ke sini.” Suara Ela terdengar yakin.

Kami memeriksa ruangan itu. Hanya ada satu lemari kayu tua dan beberapa kursi besi yang dibiarkan berantakan. Selebihnya hanya ruang kosong yang kumuh dan berdebu. Namun, jantungku seakan berhenti berdegup ketika masuk ruangan yang kedua. Dalam sorotan tiga senter, kami melihat tubuh Rangga dan Lily terikat pada dua tiang besi di tengah ruangan. Pakaian keduanya acak-acakan dan… bersimbah darah. Ada benda yang terlihat semacam mata tombak di dada meraka. Menancap dengan darah segar yang masih menetes. Astaga! Wajah mereka begitu mengerikan; mulut menganga lebar dengan bola mata yang hampir ke luar. Siapa yang tega melakukan perbuatan kejam seperti ini?

“Lily! Rangga! Apa yang terjadi?” teriak Ela dan aku hampir berbarengan.

“Ini pasti ulah arwah itu!” Andi mendadak berteriak yakin. “Arwah keluarga Tawikrana, pemilik rumah ini yang melakukannya. Dugaan Rio benar. Mereka akan marah karena kita memasuki daerah larangan, wilayah kekuasaanya. Aku yakin merekalah pelakunya!”

“Andi, nggak usah mulai deh!” bentakku. “Mending kita bawa mereka ke bawah!”

“Kalian tahu? Ini malam Jumat kliwon, seharusnya kita nggak ke sini!”

“Andi, udah deh!” bentak Ela. “Apa yang harus kita lakukan?!”

“Kita pergi!” Andi menyeret tangan Ela dan bergegas keluar dari ruangan.

Aku berjingkat, mengikuti mereka yang sudah menuruni tangga. Tapi… Bugh! Bugh! Dua suara hantaman keras terdengar persis di depanku. Belum sempat aku berpikir apa yang terjadi, aku menyaksikan dua benda melesat dan tertancap persis di punggung Andi dan Ela. Mereka ambruk seketika. Aneh, tubuh keduanya bukan jatuh, melainkan seperti ada yang menyeretnya kembali ke atas, melewati kakiku dan masuk ke ruangan di mana Rangga dan Lily berada. Darah segar membasahi lantai. Bau anyir kembali menyergap penciuman. Aku mual dan perutku seperti diaduk-aduk.

“Nel, bakar, Neell….” Andi merintih. Lalu mengejang beberapa saat dan diam.

“Bunuh aku, Nel. Bunuuh!” Suara Ela serak menyeramkan.

Bersamaan dengan lenyapnya tubuh mereka di pintu ruangan, mataku terasa berkunang-kunang. Dengan lutut yang mendadak lemas, aku bergegas menuruni tangga. Aku ambruk begitu mencapai lantai aula. Ya, Tuhan. Apa yang sedang terjadi? Aku berusaha menguatkan diri dan berdiri ketika ada dua bayangan memasuki pintu aula. Kuarahkan senter yang semakin meredup pada dua sosok yang mendekat. Jantungku berdegup semakin kencang ketika dua sosok itu dengan gegas menyongsong.

“Apa yang terjadi, Nel?”

“Astaga! Rio? Liz?” Aku menyambut mereka. “Aku pikir siapa. Aku senang kalian datang. Kita harus segera pergi dari ini.…”

“Sebentar, Nel. Tenangkan dirimu.” Rio memapah dan membawaku duduk di lantai. Liz memberikan sebotol air mineral yang sudah dia buka. “Minum dulu, Nel.”

“Kamu tahu banyak tentang tempat ini, ceritakan, Rio!” Aku mengguncang tubuh Rio dan memaksanya. “Bilang, Rio. Kenapa empat sahabat kita harus menjadi korban?!”

“Maafkan aku. Aku yang salah,” ucap Rio lirih. “Seharusnya kita nggak lewat jalan ini. Entah kenapa aku seperti melupakan semua pesan kakekku. Maafkan aku.…”

“Rio, apa yang harus kita lakukan?” tanya Liz panik.

“Kita harus menghancurkan rumah ini. Membakarnya, dipercaya akan melenyapkan kutukan Tawikrana dan semua penghuninya. Hanya itu jalan satu-satunya yang bisa kita lakukan. Tapi… sudah banyak yang pernah mencobanya dan semua gagal. Hanya perempuan suci yang lahir saat purnama yang bisa melakukannya. Dan itu sama sekali bukan kalian….”

“Kenapa? Kenapa harus ada korban, Rio?” Aku penasaran dan cemas.

“Bangunan ini sudah ada sejak tahun 1881. Oleh Belanda digunakan untuk ruang tanahan dan gudang senjata. Kemudian dipakai oleh tentara Jepang untuk menyekap para tahanan perang dan para jugun ianfu. Hingga kemudian, bangunan ini lambat laun menjadi semacam rumah bordir. Tawikrana, orang berpengaruh di desa ini sempat berusaha untuk menggagalkan praktek prostitusi ini. Tetapi kemudian justeru usaha baiknya ini harus ditebus dengan nyawa dirinya dan keluarga. Mereka disekap, disiksa dan dibunuh dalam satu ruangan yang kemudian menjadi kuburan mereka. Konon, sesaat sebelum kematian mereka, Tawikrana sempat bersumpah akan membubuh semua pasangan yang masuk ke wilayahnya. Di mata keluarga Tawikrana, berduaan atau bahkan lebih dengan orang berlainan jenis, adalah perbuatan hina dan tercela.”

Cerita Rio terhenti ketika kami dikejutkan oleh suara dering hp di ruang atas. Hp? Bagaimana bisa? Bukankah…? Tanpa berpikir panjang kami berlari ke lantai dua. Dering hp terdengar jelas dari ruang di mana empat sahabat kami yang tak bernyawa berada.

“Apa yang harus kita lakukan, Rio?” tanyaku ragu.

“Seperti niatku sejak awal. Lebih baik kita tinggalkan tempat ini….”

“Kita ambil aja hp itu,” usul Liz. “Siapa tahu dari sana kita bisa minta bantuan.”

Brak!! Suara pintu dibanting di ruangan sebelah. Serentak kami mengarahkan senter ke arah pintu. Samar, terlihat asap tipis mengepul dari pintu yang setengah terbuka. Aku terkesiap. Sesaat asap itu bergumpal semakin tebal, bergulung-gulung dan membentuk sosok-sosok hitam manusia berwajah menyeramkan. Semakin lama semakin banyak, bergulung, berputar-putar dan bertabrakan. Dalam riuhnya sosok-sosok tersebut, satu wajah lelaki tua kurus muncul.  

Liz berteriak histeris. Panik. Kutarik lengannya menjauhi ruangan itu dan berjingkat menuju tangga. Namun belum sempat kaki Liz melangkah, tiba-tiba beberapa sosok hitam itu menyergap tubuhnya secepat kilat. Rio yang melihat kejadian itu segera memeluk Liz dari belakang. Berbarengan, senter mereka jatuh ke lantai. Suasana sekitar semakin gelap. Tetapi dalam samar cahaya petir yang menjilati kegelapan berulang-ulang, aku masih bisa melihat tubuh keduanya seperti tersiram darah. Merah di sekujur tubuh, lalu ambruk ke lantai dengan wajah seperti tercakar-cakar kuku yang amat tajam.

Rio dan Liz berteriak-teriak semampu yang mereka bisa, menyebut-nyebut namaku. Mereka mengerang, merintih persis seekor sapi ketika digorok lehernya. Aku bergidik. Mendadak tubuhku kembali limbung. Aku tidak sanggup menyaksikan wajah kedua sahabatku itu seperti meleleh, melumer tak ubahnya daging busuk yang dimakan belatung.

“Nel. Bnuuhh kami, Neeell” Suara parau Liz terdengar mengerikan.

“Bunuh, Nel. Bunuh kami. Bunuh Jaaay sekaraang….” Rio memandangku dangan bola mata yang hampir keluar dari tempatnya. Kulit wajahnya hampir hilang sebagian, menampakkan gusinya yang dipenuhi darah segar menyembul mengerikan.

Aku ingin berteriak. Namun sesaat kerongkonganku kering dan tersumbat. Senter di tangan sudah tak berfungsi lagi. Dua senter milik Rio dan Liz tak tampak di sekitar. Kepalaku semakin berputar-putar ketika memaksakan diri menuruni anak tangga. Entah mengapa, aku merasakan tubuhku melayang jatuh. Akan tetapi, sesaat sebelum menyentuh lantai, seseorang menangkap tubuhku. Aku terhempas dalam pelukan tubuh tinggi tegap itu. Dalam pandangan yang kian nanar, aku masih sempat menarik napas lega.

“Nel, ini aku....”

“Jay? Suaramu?”

Kupeluk Jay erat dengan rasa bahagia. Ah, kenapa pelukan Jay semakin erat dan mencengkram? Dadaku sesak dan amat sulit bernapas. Amis darah kembali menguar. Aku mual dan semakin pusing. Kulihat wajah Jay dalam remang. Astaga! Separuh kulit wajah cowok tampan itu mengelupas. Sebelah matanya terburai ke luar dengan lelehan darah segar. Ia tersenyum, tetapi lebih menyerupai seringai srigala kelaparan.   

“Nel, kita semua akan mati oleh arwah penghuni gedung tua ini. Dan… ini sakit sekali, Nel. Sakiiit. Aku mohon, bunuh aku sekarang, Neeell… dan aku akan membunuhmu.”

Pandanganku menggelap ketika kurasakan ribuan tangan mencengkramku brutal. Hawa panas menjalari tubuh seketika. Lalu senyap. Hitam. Pekat. Tetapi masih kudengar samar-samar suara orang berbisik-bisik tidak jelas memenuhi gendang telinga dan kepala.

“Semuanya harus mati….”

“Dia perempuan suci itu….”

“Lepaskan….”

***



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Feb 21, 2020, 3:59 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 3:56 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 3:00 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 2:51 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 2:42 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 2:32 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 2:24 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 21, 2020, 2:09 PM - Ryan Putra Anugrah
Feb 20, 2020, 11:22 PM - Ryan Putra Anugrah
About Author
Popular This Week
Feb 26, 2020, 9:13 PM - Maman suherman
Feb 23, 2020, 7:27 PM - Maman suherman
Feb 21, 2020, 11:54 PM - RackTicle Manager
Jan 7, 2020, 2:10 PM - Bayu Rinaldhi
Dec 3, 2019, 4:24 PM - Agus Kurniawan
Recent Articles