Antara Seni Menulis Dan Tips Menulis Artikel Menarik yang Dibayar

Antara Seni Menulis Dan Tips Menulis Artikel Menarik yang Dibayar

Banyak orang yang tidak bisa membedakan antara seni menulis dan tips menulis artikel.  Padahal salah paham inilah yang selalu jadi sumber masalah. Misalnya, Salah memahami satu istilah saja bisa salah dalam memahami satu kalimat. Kalau satu kalimat disalahpahami, tentunya bisa salah memahami satu paragraf dan akhirnya satu wacana bisa salah paham.

Secara sederhana, dapat dibedakan dengan memulai dari tinjauan terminologi pada kata seni dan 'tips'. Karena artikel missleading berawal dari pengabaian Terminologi.

Secara terminologis, istilah seni masih dapat kita rujuk pada KBBI. Salah satunya adalah keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya, dan sebagainya).

Tapi pada kata 'tips', tidak dapat kita rujuk pada KBBI. Sekalipun istilah 'tips' sudah populer. Karena istilah 'tips' awalnya sebagai bahasa slang Barat yang non standar. Di Indonesia, dulu populer bahasa prokem sebagai bahasa rahasia preman dan anak jalanan. Sekarang dikenal sebagai bahasa gaul yang paling sering digunakan kaum homoseksul dan waria. Sampai Debby Sehartian menuliskan buku bahasa gaul pada tahun 1999. Jadi setiap kosa kata memiliki rasa bahasa tertentu. Tentu sah-sah saja setiap orang memilih kata sekehendak hatinya. Dengan segala konsekuensinya. Itulah namanya ragam bahasa Indonesia. Tentu saja orang asing yang mempelajari bahasa Indonesia yang standar, akan kesulitan memahami bahasa gaul atau bahasa prokem atau bahasa slan g Indonesia.

Persoalannya, bagaimana mungkin kita bisa membangun karya tulis (artikel) yang bermutu (dilihat dari kehalusannya, keindahannya dan sebagainya) jika tanpa keahlian dengan dasar rujukan yang standar?.  Misalnya, dalam lomba menulis artikel 2020 yang bertemakan tentang “Tips Menulis Artikel Dan Dibayar” yang diselenggarakan oleh rackticle.com.

A. Penulis artikel “Tips Menulis Artikel Menarik Dan Dibayar” Dan Kaedah Penulisan Karya Tulis

Saya mengobservasi artikel-artikel peserta  yang bertemakan "Tips menulis artikel menarik dan dibayar" yang diperlombakan tersebut. Dalam hemat saya, artikel tersebut kurang memperhatikan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Meskipun demikian, tetap patut diapresiasi sebagai latihan menulis.

Padahal bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa Indonesia. Bahasa menunjukkan identitas suatu bangsa. Kita perlu dipersatukan dengan bahasa Indonesia yang sesuai EYD. Maka penulis seharusnya juga mematuhi PUEBI. Karena berdasarkan itu pula UUD 1945 dirumuskan.

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang telah disahkan pemerintah bertujuan agar bahasa Indonesia lestari dan dapat menyaring bahasa asing yang masuk ke Indonesia, yang belum diadopsi.

Masalahnya, dengan tidak bisa dirujuknya istilah 'tips' menurut KBBI, otomatis subyektifitas penulis menjadi dominan dalam melukiskan berbagai tips menulis artikel dalam perlombaan menulis itu. Alhasil menjadi tidak menentu apa yang menjadi standarnya. Antara satu penulis dengan penulis lainnya berkompetisi pada sesuatu hal yang rapuh fondasinya.

Berdasarkan makna denotatif KBBI, saya definisikan bahwa seni menulis adalah keahlian untuk menciptakan karya tulis yang bermutu dilihat dari sisi kehalusannya, keindahannya, dan sebagainya yang bersifat luar biasa, perihal rangkaian keterangannya  yang teratur dan di dukung oleh fakta-fakta dalam keseluruhan yang lengkap (dari Maha Pencipta).

Oleh karena itu, dibutuhkan sentuhan seni supaya suatu karya tulis lengkap (artikel)  tidak hanya gurih dibaca, tapi juga berpotensi mencerahkan dan memberdayakan. Bagaimana seni menulis artikel bisa harmonis dengan kaedah penulisan?.

B. Karya Tulis Yang Harmonis Dengan Kaedah Penulisan

Adanya kesesuaian suatu artikel dengan kaedah penulisan karya tulis menjadikan artikel itu koheren dan kohesif. Sehingga menarik, renyah dan menjadikan cerah bagi sasaran pembacanya juga bagi penulisnya sendiri. Perangkat apa yang harus kita gunakan?.

1. Gunakan Kamus Khusus Dan Kamus Umum Serta Tesaurus !

Dalam kaedah penulisan karya tulis, wajib memperhatikan tinjauan terminologi, yang dapat memecahkan persoalan istilah umum (menggunakan Kamus Umum, seperti KBBI, Oxford Dictionary, dll) juga perlu memecahkan istilah khusus (dengan Kamus Khusus, seperti Ensiklopedi). Selain itu, tidak bisa juga mengabaikan tinjauan Ilmu alat lainnya, seperti Tesaurus Tematis Bahasa Indonesia yang dilansir Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (dalam naungan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan).

Dalam Tesaurus tersebut, kita bisa mengklasifikasikan kata berdasarkan kelas kata terdiri dari adjektiva, advervia, konjungsi, nomina, numeralia, partikel dan verba. Tanpa bisa membedakan kelas kata ini, penulis pasti kesulitan dalam menuliskan gagasan berkualitas menjadi artikel menarik yang berkualitas. 

2. Penulis Luar Biasa Pasti Memahami Semantik

Kedalaman makna atau pesan moral suatu karya tulis dengan unsur seni yang tinggi juga tidak bisa mengabaikan tinjauan Semantik yang terkait dengan aspek sintaksis dan pragmatika. Apalagi hal ini sudah lazim dalam lalu lintas literat atau kalangan civitas academica. Ini dasar eksistensi penulis klasik legendaris. Tapi sayangnya, penulis kontemporer debutan telah mengabaikan hal ini.

Dengan perkataan lain, dalam seni menulis sangat menonjolkan bentuk lain dari Semantik yang mencakup Semantik Bahasa, Pemrograman, Logika Formal, dan Semiotika. Karena kata semantik itu sendiri menunjukkan ide-ide populer yang sangat teknis dalam penentuan diksi jitu dan indah atau konotasi pada suatu tulisan. Lantas apa perbedaan antara tujuan menulis dengan seni dan tips?.

3. Antara Tujuan Seni Menulis Dan Tips Menulis

Berdasarkan kaedah itu tadi, tujuan utama dari seni menulis adalah bukan memprioritaskan pada pemuasan subyektif pembaca dan penulis dengan sekehendak hatinya. Tapi memprioritaskan pada kebutuhan obyektif pembaca dan penulis, sekalipun hal itu terasa seperti menelan pil yang sangat pahit. Sepanjang bermanfaat dalam rangka pembelajaran yang berkesinambungan. Kenapa tidak?.

Sedangkan tujuan utama “Tips Menulis Artikel Menarik dan Dibayar” adalah sekadar menarik perhatian pembaca dengan berbagai cara yang dikehendaki oleh penyelenggara. Muaranya, agar mencapai kesepakatan win-win solution bagi penulis dan penyelenggara. Utamanya, tips bertujuan mendapat tip (persen).

Dengan segala konsekuensinya, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

C. Solusi Memadukan Kelebihan Dan Mengeliminasi Kekurangan?

Gagasan spektakulernya adalah menulis artikel dengan polesan seni yang tinggi tapi kesejahteraan penulis yang berkualitas itu dapat terjamin dengan support system di era disrupsi.

Dengan demikian dapat diharapkan melahirkan kebudayaan dan peradaban yang tinggi bagi suatu generasi kelak, tanpa melacurkan keyakinan terdalamnya. Tanpa penulis tereksploitasi oleh korporasi literasi. Caranya tidak lain adalah berkolaborasi dengan konsep win-win solution sebagaimana yang diterapkan RackTicle.com.

1. Mengais Rezeki Di Era Disrupsi Dengan Menulis Artikel Estetis

Disrupsi yang melanda dunia literasi mengakibatkan segelintir penulis generasi milenial melesat jauh meninggalkan penulis generasi X dalam bidang writerpreneur.

Berkat teknologi digital, kecepatan dalam memproduksi kuantitas tulisan bagaikan kilat dan guntur yang memecah gumpalan awan tebal lalu menurunkan hujan angin yang begitu lebat.

Jika bumi (masyarakat) kurang resapan (daya tangkap) dan kekurangan saringan (kecerdasan sensorik), pastilah justeru menjadi bencana banjir informasi yang menghanyutkan pikiran dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah.

2. Waspadai Dampak Negatif Karya Tulis Era Disrupsi – Banjir Informasi !

Disadari atau tidak, dalam era banjir informasi tersebut, jiwa kita bisa tercemar jika tertelan serpihan sampah informasi yang semakin silang sengkarut. Oleh karena itu diperlukan karya tulis yang dapat merangsang pembaca untuk tidak sekadar mempertajam kecerdasan intelektual dan emosional saja. Tapi juga kecerdasan sensorik, spiritual dan komunikasi.

Perhatikanlah dampak derasnya arus informasi yang mengalir, yakni adanya penurunan harga atau pengorbanan pembaca dalam menyerap informasi secara utuh berkurang. 

Padahal dampak banjirnya informasi sampah justeru sangat memprihatinkan bagi pembaca yang justeru jadi korbannya. Bagaikan kondisi orang yang sedang tenggelam, epilogtis (katup napas) tertutup dan asupan oksigen menjadi berkurang hingga hilangnya kesadaran sampai kejang-kejang dan mati.

Begitulah analoginya banjir informasi menenggelamkan daya kritis pembaca sampai mematikan kecerdasannya.

Pembaca terpapar residu pola pikir parsial. serba nanggung atau prematur bahkan terkarbit karena menerima informasi dengan proses yang tidak lengkap atau tidak sempurna.

3. Banjir Artikel Di Era Milenial – Umumnya Tidak Lengkap

Hal ini bertolak belakang dengan makna artikel yang dimaksud oleh KBBI. Disana ditetapkan, Artikel adalah karya tulis lengkap, misalnya laporan berita atau esai dalam majalah, surat kabar, dan sebagainya. Bahkan dalam bidang hukum, artikel bermakna bagian Undang-undang atau peraturan yang berupa ketentuan; pasal.

Agar karya tulis bisa lengkap, perlu memadukan teknologi ketepatan dan kecepatan demi menghasilkan kualitas dan kuantitas karya tulis yang proporsional.

4. Teknologi Tepat Guna dan Cepat Guna Demi Kualitas/Kuantitas Karya Tulis Secara Proporsional

Karena pasalnya dari segi kualitas, hanya segelintir saja penulis milenial yang mampu memenuhi kualifikasi seni menulis (artikel, misalnya). Artinya jumlah penulis komtemporer yang berkualitas dengan media digital tidak sebanyak penulis klasik pada generasi X ketika dahulu mereka menggunakan media analog. Berarti telah terjadi distorsi dari segi kualitas karya tulis.

Maka nilai-nilai positif dari penulis klasik (dengan media analognya) dikombinasikan dengan nilai-nilai positif dari penulis kontemporer (dengan media digitalnya). Dengan begitu bisa diharapkan dapat melahirkan karya tulis yang paripurna, efektif juga efisien.

Perpaduan teknologi tersebut misalnya dengan menuang tulisan dari media cetak ke media daring menjadi E-book, Blog, dll. Begitu juga sebaliknya, menuang tulisan media daring ke media cetak dengan proses yang seleksi naskah yang sangat ketat dalam sebuah industri literasi.

5. Industri Penerbitan Karya Tulis Analog Dan Digital Mulai Berkembang

Itulah kenapa industri penerbitan buku mandiri (self publishing) mulai menjamur di beberapa tempat, sayangnya tulisan dibisniskan tanpa seleksi naskah yang sangat ketat seperti dahulu.

Di era disrupsi ini, self publishing bisa melayani cetak buku walau hanya satu buah saja. Itulah yang disebut printing on demand. Sampai ada buku yang berjudul “Kumpulan Status Facebook Paling Seru” yang ditulis oleh Ira Lathief. Diterbitkan oleh Media Kita pada tahun 2009.

Generasi milenial lebih menyukai nilai-nilai yang seru, gokil, jahil dan fenomenal. Yang mana tujuannya sebatas iseng, bermain-main dan bersenda gurau dengan seru. Padahal itu bertentangan dengan prinsip negara maju yang bersungguh-sungguh dalam pembelajaran dan dalam publikasi serta dalam implementasi ilmu.

Dengan demikian perlu pembinaan kepada penulis milenial agar sungguh-sungguh berlatih menulis artikel menarik tapi juga berkualitas tinggi.

6. Kelemahan Umum Penulis Milenial: Terburu Nafsu Dan Tidak Sabar

Umumnya penulis milenial menghanyutkan diri dengan fasilitas komputer dan internet. Fasilitas ini pula yang menggoda penulis milenial melakukan browsing data secara terburu- buru. Kemudian sikap terburu-buru inilah selanjutnya yang menggelincirkan seorang penulis dalam sajian tulisan yang dangkal/mentah bahkan menyesatkan.

Bayangkan, penulis media daring dapat mengedit tulisan di Blog kapan saja dan dimana saja dengan gawainya, walaupun sudah dilansir. Inilah yang menyebabkan penulis media digital tergoda untuk meremehkan kualitas penulisan dan akhirnya sering ceroboh tanpa riset dan observasi lebih dulu. Tanpa cek dan kroscek.

Berbeda dengan penulisan pada media cetak zaman dahulu yang tidak mungkin bisa mengedit tulisan sekehendak hati ketika sudah beredar kecuali menerbitkan lagi edisi revisi. Sehingga wajar Penulis klasik legendaris lebih berkualitas karena mereka dituntut kecermatan yang lebih tinggi dalam penulisan. Buktinya karya mereka langka dan mahal bahkan masih jadi daftar pustaka.

Sebaliknya, tulisan media digital lebih potensial keliru. Bisa menjadi celaka kalau artikel yang terlanjur dibaca, disalin, dan dibagikan sebelum diedit penulisnya dengan maksimal. Inilah kenapa di zaman milenial semakin marak artikel hoax. kemudian, apa gerangan motif penulis  menjadi gegabah?

Menulis yang terburu-buru biasanya disebabkan adanya ambisi sekadar mengejar poin, rating, ujungnya pundi-pundi rupiah ataupun dolar. Tidaklah elok bila seorang penulis berkarya berorientasi pada hasil melulu. Tapi berorientasilah pada proses yang berjalan pada kaedah penulisan. Agar daya baca masyarakat tidak rendah.

7. Daya Baca Masyarakat Rendah, Minat Baca Tinggi Terhadap Yang Remeh Temeh

Dari hasil penulisan yang gegabah itulah penyebab melemahnya kemampuan membaca masyarakat. Ironisnya minat baca kaum milenial malah tinggi pada yang remeh temeh dan konyol. Mengapa demikian?.

Karena pembaca milenial sesak pikiran dicekokin polusi informasi yang tak terbendung. Sehingga cenderung mau cari gampangnya saja. Cenderung hanya membaca apa yang tampak saja.

Seperti orang yang sedang tenggelam cenderung memegang yang tampak saja untuk menyelamatkan diri.

Mereka cenderung kurang mampu membaca apa yang tak terlihat. Dengan perkataan lain, hanya mampu membaca tekstual tapi tak mampu membaca secara kontekstual. Lagi-lagi yang paling bertanggung jawab adalah penulis.

8. Penulis Menjejaki Selera Pasar Dan Atau Penulis Merangsang Pembaca Untuk Menyadari Hakekat?

Pertanyaannya, apakah penulis harus mengikuti selera pasar dengan kemampuan baca masyarakat yang semakin rendah itu, demi sekadar menghibur sekaligus menyihir minatnya pada hal-hal yang mambawanya ke titik nadir?.

Tidakkah seyogyanya seorang penulis merangsang rasa ingin tahu pembacanya agar dapat membaca lebih mendalam akan hakekat setiap dasar dan tujuan kehidupannya yang penuh dengan tantangan ini?.

Tulisan yang interaktif dan komparatif lebih aktraktif bagi yang berpikir progresif. Mengapa?. Karena mampu menjawab atas sejumlah tanya pembaca kritis yang terwakili dalam suatu karya tulis lengkap.

Tentu saja sasaran utama pembaca artikel saya ini adalah para penulis atau pencinta literasi. Bukan sekadar pencinta dolar dan rupiah.

9. Analogi Produksi Tulisan Berkuantitas Tinggi Tapi Beresiko Tinggi

Produksi tulisan yang berkuantitas tinggi dapat dianalogikan seperti peringatan di gardu PLN. “Awas tegangan listrik (500.000 volt) !. Bukan awas arus Listrik !. Karena potensi tegangan listrik berbanding lurus dengan potensi arus yang mengalir. Semakin besar tegangannya, potensi arus yang mengalir pada beban akan semakin besar.

Begitulah dalam hal tinggi produksi kuantitas tulisan, akan berbahaya jika tegangan yang tinggi 500.000 V dilepaskan ke sirkuit (lintasan) listrik yang rendah misalnya ke bohlam lampu yang terdesain cuma 220 V. Pasti bohlam tidak hanya putus tapi disertai ledakan yang keras. Artinya, dalam mengalirkan arus informasi haruslah disesuaikan dengan siapa sasaran pembacanya. Perlu ada tahanan untuk menahan emosi penulis.

Sebaliknya, bagi pembaca yang membutuhkan kuantitas dan kualitas artikel yang tinggi dalam skala internasional, tidak akan berguna membaca artikel yang tidak lengkap atau tidak utuh alias tidak sempurna. Hubungan arus listrik (informasi) yang pendek juga kerap kali dapat menjadi pemicu kebakaran (terprovokasi) karena menimbulkan ambigu dan multitafsir.

Dengan kata lain, tulisan yang mencampuradukkan arus nilai-nilai positif dan negatif hanya mengakibatkan sejenis korsleting. Tentu hal demikian sangat membahayakan bagi pembaca.

10. Dikotomikan Nilai-nilai Positif Dan Negatif

Dengan demikian suatu karya tulis seharusnya mendikotomikan antara nilai-nilai positif dan negatif. Jangan buru-buru sharing sebelum disaring !. Pastikan tulisanmu terkendali dan teguh bertahan pada seni menulis dengan metode komparatif, sistematis, analitis dan objektif agar pemahaman pembaca menjadi clean and clear. 

11. Artikel Tematik Yang Relevan Dan Aktual, Asal Tajam Dan Obyektif Lebih Menarik

Pembaca kurang tertarik dengan artikel yang tidak sesuai tema yang relevan dan aktual dengan perkembangan zaman atau tidak sesuai isu sentral. Apalagi jika diulas tidak tajam dan terlalu subjektif.

Meskipun demikian, orisinalitas tulisan menjadi faktor yang signifikan dalam membangun kredibilitas. Maka tidak masalah bila subjektifitas penulis itu memiliki rujukan objektif, selama berasal dari luar subjektifitas manusia. Artinya harus selaras dengan subjektifitas Rabb yang inheren dengan Al-Kitab

12. Menyertakan Subjektifitas Rabb Dalam Objektifita Al-Kitab

Penulis sejati wajib untuk meresapi berbagai referensi ataupun melakukan observasi sebelum ia menulis. Artinya wajib melakukan studi komparasi lebih dulu sampai ke akar-akarnya, agar nilai bandingan itu menjadi ukuran kebenaran.

Dalam hal ini, termasuk Al-Kitab sebagai Satu referensi yang paling diyakini umat Islam di dunia ini. Apalagi pengikut agama Islam sebanyak 1.8 Miliar atau 24% dari populasi dunia berdasarkan penelitian “Why Muslim are The World and fastest-Growing Religious Group” (Pew Reasearch Centre, April 2017)

Intinya seorang penulis tidak mungkin bisa menulis dengan kehalusan karya yang tinggi bila enggan menyimak berbagai karya tulis legendaris. Mustahil outputnya bernilai kalau inputnya hanya terpaku pada informasi recehan.

13. Media Analog Akan Semakin Langka Bila Media Digital Tak Mempromosikan Buku

Diprediksi tidak lama lagi media analog semakin tercerabut dari akarnya sebagaimana telah melanda para penulis media analog lainnya. Misalnya saja, sejak tahun 2020, Kanwil Kemenag Riau tidak lagi menerbitkan majalah bulanan ‘Dinamis' .

Tentu saja hal ini membuat Praktisi Humas ataupun Jurnalis yang bekerja di instansi tersebut mengalihkan energinya ke media daring.

Di sisi lain, bangsa ini membutuhkan karya tulis indah dan bermutu yang diabadikan dalam bentuk media cetak agar kebudayaan dan peradaban suatu bangsa bangkit dan berjaya dengan abadinya literasi berkualitas. Karena semua bangsa besar selalu membesarkan Perpustakaan. Buku tetaplah penting di media cetak dan di media daring.

Bisakah kamu bayangkan gambaran suatu kehidupan berbangsa yang tak berbudaya dan biadab akibat keringnya literasi dalam jiwa suatu bangsa?. 

Maka penyadaran adalah tujuan utama dari gerakan literasi. Agar sadar dalam berpikir, berkata dan bertindak sesuai disiplin ilmu tertentu.

 

D. Belajar Bernalar Dengan Menulis Artikel Atas 3 Rangka

Agar kamu mampu menciptakan artikel menarik juga berkualitas demi lahirnya kebudayaan dan peradaban tinggi, maka mulailah menulis artikel dengan seni yang  ditopang oleh 3 rangka utamanya, yakni Literasi dasar, kompetensi dan karakter.

1. Literasi Dasar Yang Wajib Didalami Penulis (6+1)

Adapun literasi dasar mencakup 6 hal, yaitu: Calistung (Baca Tulis dan Berhitung), Numerasi, Science (Natural Science dan Social science), Digital, dan Ekonomi.

Menurut Allah, ke 6 hal di atas tidak lengkap kecuali ditambah dengan 1 yaitu Al-Kitab. Kenapa?. Karena satu-satunya prototype tulisan (kitab) yang mengklaim tidak ada keraguan di dalamnya, ternyata hanyalah Al-Quran. Sehingga layak dijadikan referensi dasar literasi untuk dunia.

Apalagi terbukti Al-kitab sendiri mencontohkan sebuah sistematika yang menakjubkan dari Pembukaan (Surat Al-Fatihah) yang di breakdown dengan surat-surat panjang sebagai rinciannya dan disimpulkan oleh surat-surat pendek.

Bahkan tidak ada ayat yang terlepas dari ikatannya dengan ayat-ayat lainnnya. Termasuk tidak ada istilah/kata yang tidak dapat diterangkan oleh ayat lainnya. Tidak itu saja, tidak ada satu hurup pun yang tidak terikat dengan hisabul jumal.

Tiada karya tulis ilmiah yang mampu menyamai karya tulis Allah (Al-Kitab). Sebagaimana ditegaskan pada QS 42:11 juncto QS 2:23. 

2. Kompetensi Yang Dibutuhkan Dalam Menulis Artikel

Selain literasi dasar tersebut, kamu harus merengkuh kompetensi yang mencakup daya kritis dalam menganalisa dan memecahkan persoalan linguistik. Kemudian kreativitas/inovasi yang dapat memecahkan kebuntuan. Maka jangan takut salah dalam menulis. Tapi takutlah ketika salah, kamu tidak tahu apa yang salah dan atau tidak tahu cara memperbaikinya. Orang yang kreatif siap mencoba hal-hal baru walaupun harus berulangkali gagal.

Nah, seiring dengan hal itu, kamu harus mempertajam kemampuan berkolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki otoritas yang terkait dunia literasi. Tanpa melibatkan bantuan eksternal, sulit sekali untuk bisa maju. Intinya bagaimana agar kamu selalu terbina.

3. Pembinaan Karakter Sebagai Tujuan Tertinggi Penulisan Artikel

Namun di atas segalanya tentu muaranya adalah agar karaktermu dapat kamu revolusi. Yakinkanlah diri bahwa setiap penulisan ditujukan untuk membenahi karakter kita sendiri dan keluarga lebih dulu. Jangan bagaikan lilin yang mati-matian ingin menerangi sekitar secara remang-remang tapi malah membakar dirinya sendiri. Ini kesalahan terbesar seorang penulis !. Tidak ada karakter yang paling tinggi selain karakter kepatuhan yang berpegang teguh pada Regulasi Rabb yang tidak bertentangan dengan UUD 1945.

Demikianlah dasar dan tujuan terakhir seorang penulis sejati. Tujuannya hanyalah harmonisasi antara karya tulis dengan standar penulisan karya tulis agar menarik dan berkualitas tinggi.

Jika seorang penulis bertujuan hanya mendapatkan dolar, maka ia pasti kecewa setelah dolar itu didapatkan. Kenapa?. Ya karena dolar hanyalah alat tukar semata. Hendak kamu kemananakan dolar sebanyak itu setelah kamu berhasil menulis?. Hendak mengabdi kepada Allah dan atau kepada nilai-nilai Syaitan?. Itulah hakekat seni menulis sebagai alternatif komparatif.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments
RackTicle Manager - Mar 16, 2020, 2:47 AM - Add Reply

TOP MARKOTOP adalah salah satu kalimat yang sering diucapkan dan menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari di era serangan dahsyat virus korona ini, namun memang tidak ada ditemukan dalam KBBI.

Semoga artikel gurih dan renyah seperti ini dapat menjadi bahan makanan pokok dalam renungan untuk kita semua, demi kemajuan bangsa dan negara melalui tangan-tangan serta jari-jari inspiratif yang menggerakan peradaban baru di dunia tulis menulis bersama rackticlers di seluruh tanah air tercinta.

You must be logged in to post a comment.
Vethria Rahmi - Mar 16, 2020, 11:51 PM - Add Reply

'Maknyus' & 'Top Markotop' adalah sejenis bahasa gaul atau slang Indonesia. Kalau dulu namanya bahasa prokem yang sering digunakan orang betawi sekitar tahun 1970 dan dulu dianggap bahasa rahasia. Ia masuk dalam klasifikasi ragam bahasa Indonesia nonstandar yang dikenal dikalangan tertentu, kalau dulu digunakan preman, narapidana dan anak muda.

Bahkan kosa kata bahasa gaul akrab di kalangan homoseksual dan waria, sampai Debby Sahertian membukukan kamus bahasa pada 1999.

Sekali lagi, bahasa menunjukkan identitas suatu bangsa. Bahasa slang menunjukkan identitas bangsa slang. seperti yang saya sebut di atas memang benar adanya.

Terimakasih atas responnya.

You must be logged in to post a comment.
Harta Sujarwo - Mar 24, 2020, 1:14 PM - Add Reply

Mantap jiwa. Sangat mengguncang dunia literasi.

You must be logged in to post a comment.

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
About Author

ASN Kanwil Kementerian Agama Riau & Redaktur majalah bulanan. Penuilis ribuan berita dan ratusan artikel di website resmi Kanwil Kemenag Riau dan di Media online Nasional. Pranata Humas Ahli Muda yang kerap menjuarai lomba puisi dan juga dipercaya sebagai MC, moderator, reporter, vokalis, koreografer, qari'ah, narasumber, dirigen, dll

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Mar 9, 2020, 7:42 PM - Shinta Kusuma
Recent Articles
Apr 6, 2020, 1:37 AM - Deni Riyandi
Apr 5, 2020, 1:02 PM - Andria Ranti
Apr 5, 2020, 10:15 AM - Singgih Tri Widodo
Mar 30, 2020, 2:11 PM - Shinta Kusuma
Mar 30, 2020, 2:01 PM - Indraz