[CERPEN] Antara Aku dan Kamu (part.2)

[CERPEN] Antara Aku dan Kamu (part.2)

Lanjutan,

Wujud foto wisuda dia denganku sudah terhapus. Aku pikir saat itu foto kami memang tidak penting dan aku juga tidak berharap untuk disimpan baik-baik foto tersebut. Sadar diri sekali kok, dia sudah punya pacar dan dalam keadaan apapun jelas haram mengganggu kesibukannya. Lagian kami sebenarnya juga tidak pernah chatt intens, paling pol juga ejek-ejekan gombalan gitu. Tapi aku tau itu sekedar gombalan belaka.

Selepas dia wisuda, kami tidak pernah bertemu sama sekali hingga 4 tahun lamanya. Aku merasa biasa saja, pasti dia juga merasa begitu. Namun, hal yang membuat aneh adalah aku tidak menyangka bahwa 4 tahun itu cukup lama juga. Mungkin karena kami masih memiliki kontak satu sama lain sehingga rasanya tetap dekat dan selalu tau aktivitasnya walaupun gak pernah ketemu. Bahkan aku tidak ingat kapan nomor whatsapp-nya nangkring di kontakku. Selain di whatsapp, aku juga punya instagram dan facebook-nya.

Hingga akhirnya, ceritaku dengannya masih berlanjut diawal tahun 2020. Biasanya dia selalu modusin dan ngegombal ala-ala lelaki buaya walaupun itu hanya gurauan. Malam tahun baru, dia tiba-tiba ngechatt dan meminta untuk menemaninya chatting. Heran banget dong nggak ada angin nggak ada hujan secara tiba-tiba dia bilang seperti itu. Pasti semua cewek kalo digituin akan menyimpulkan hal yang sama. Dengan berdalih butuh temen chatt dan sebagainya biar dia nggak kesepian. Dari awal aku sudah mencium niat terselubung itu.

Isi percakapan kami agak beda dari biasanya. Biasanya kami chatt hanya sekadar komen status dan percakapan pun singkat sekali. Waktu itu, dia nge-chatt dan nge-pap tempat kost nya lagi banjir. Aneh, tiba-tiba kayak nodong perhatian supaya aku memperhatikan dia. Tapi waktu itu aku respect dan menghargai chatt-nya. Saat itu dia juga dalam keadaan susah jadi ya bolehlah sekadar menghibur. Oke fine nggak papa, lagian aku juga sudah kenal dengan dia. Hapal dengan semua gombalannya jadi sudah kebal sama semua percakapan monotonnya yang super gombal amoh itu.

Isi percakapan itu menggiringnya untuk mengajakku jalan ketika dia pulang. Dia bilang, nanti akhir pekan aku pulang. Ajakin kulineran ya. Aku sudah terbiasa dengan kata-kata buaya ini, sontak aku tantangin balik ajakannya dia. Kenapa aku nantang? Karena aku tau biasanya gak bakalan jadi dan sekedar omong doang. Saat itu, aku berpikir bahwa mengabaikan chatt-nya adalah hal yang biasa, bahkan ujung-ujungnya aku yang nge-read chatt-nya doang. Aku tau chatt itu bener-bener nggak penting dan nggak bermakna bagiku mengingat dia bukanlah prioritasku dan aku bukan prioritasnya

Tiba di hari dia mengabariku bahwa ia sedang perjalanan menuju kampung halaman. Sekali lagi ini benar-benar momen aneh. Ternyata dia benar-benar memenuhi perkataan dia saat malam tahun baru itu. Sempat waktu itu dia ngajak vidcall tapi aku menolak dengan alasan aku lagi gak pegang hape. Super aneh pokoknya, tiba-tiba aja ngajak vidcall soalnya emang nggak biasa dia seperti itu. Alasanku menolak dia ngajak vidcall adalah karena aku memang tidak mudah untuk vidcall dengan orang-orang apalagi lawan jenis. Lha wong sesama jenis aja aku pasti pilah-pilih dulu, nyaman nggaknya aku ngobrol.

Chattku Cuma didelivery aja hingga keesokan harinya. Aku inget banget saat itu maghrib dengan posisi lagi diluar rumah dan kebetulan hujan, dia tiba-tiba chatt. “aku jemput habis maghrib ya” . kaget dong dia bener-bener mau jemput aku beneran! Dalam keadaan aku lagi diluar rumah mau on the way pulang, aku minta temenku untuk ngebut. Nggak enak banget pokoknya karena semuanya serba keburu-buru. Setelah sampai rumah, langsung bergegas mandi nggak pake lama. Aku bilang tunggu dulu jangan berangkat, meskipun rumahku dan dia berjarak 30 menit. Aku nggak suka diburu-buru.

Usai mandi, langsung bergegas dandan dan pake jilbab. Baru deh aku ngabarin kalo aku udah siap. Ternyata perjalanannya cukup lama sampai bikin aku nervous. Nggak ngerti kenapa sih kok aku nervous nggak jelas sampe bawaannya pengen ke toilet terus. Ternyata bener-bener membutuhkan waktu 30 menit perjalanannya hingga akhirnya dia tiba dirumah sekitar jam setengah 9 malem. Eh iya, sebenernya waktu itu dia berniat baik ingin meminta izin ortuku. Tapi saat itu sayangnya lagi nggak ada orang dirumah.

Sebelum masuk mobil, dia menawarkan untuk mengajakku disuatu tempat. Tempat yang tidak bisa aku sebutkan. Intinya memang perjalanan menuju tempat itu sangat cozy dan memang cocok untuk malam mingguan bersama keluarga, pacar, atau sahabat. Aku masih ingat sekali, saat itu malam minggu dan kalaupun mau main ke kota pasti akan ramai sekali. Aku pun juga tidak mau nanti papasan dengan teman-temanku saat itu bahwa aku sedang jalan bersama kakak tingkat. Pasti bakalan jadi bahan ghibah. Mungkin dia juga memiliki pikiran yang sama denganku.

Sepanjang perjalanan kami mengobrol santai. Nggak canggung sama sekali bagiku karena memang benar-benar mengasyikkan. Dia pun juga tidak merasa canggung, biasa aja kelihatannya. Hal yang membuat kami tidak canggung adalah percakapan awal kami membahas hal-hal konyol dan tetap saja sikapnya dia yang buaya itu membuat suasana jadi luwes. Nggak semua cowok bisa bikin aku nyaman untuk ngobrol, terlebih lagi setelah 4 tahun tidak bertemu. Tapi kali ini beda, inisiatifku untuk membahas percakapan yang menarik pun berhasil mencairkan suasana juga.

Saat itu kami ngobrol dengan pembahasan yang sangat mengalir begitu aja. Bener-bener bukan yang canggung ala-ala dating gitu enggak. Pokoknya pembahasan semasa kuliah kami kupas tuntas. Percakapan itu terus mengalir hingga sampai ditempat tujuan. Saat turun dari mobil, aku bergegas ingin mencari toilet. Pokoknya aku nggak jaim sama sekali karena emang kebelet banget. Untung dia sabar, bahkan membantuku mencarikan toilet. Lebih dari 15 menit kami cari toilet ternyata pada tutup semua, akhirnya yaudah aku terpaksa untuk ngempet.

Dia menawariku ingin makan apa, aku bilang aku ingin makan bakso. Suasana yang dingin waktu itu, makan bakso adalah pilihan yang tepat. Sambil menunggu bakso siap, aku duduk di lesehan dan dia membelikan 2 botol minum. Setelah itu, dia datang membawa botol dan dia benar-benar duduk tepat disampingku. Nggak tau kenapa dia pengen duduk se-dekat itu denganku padahal aku berusaha untuk menjaga jarak, tapi dia nekad. Nekad banget. Bahkan pundak kami benar-benar saling berdempetan.

Aku sedikit lupa kami membahas detail apa saat itu, tapi tiba-tiba salah teman curhatku menelpon. Bergegas ku angkat dan aku jelaskan bahwa aku sedang makan. Temanku ingin ngobrol dengan dia dan menyuruh kami untuk cepat pulang. Tapi bagaimana mungkin kami mau pulang? saat itu kami sedang makan dan tidak mungkin kami memburu waktu hanya karena keinginan temanku. Maaf ya kawan, aku tidak menuruti permintaanmu waktu itu. Tidak lama kemudian sepertinya temanku memutuskan percakapan, karena dia pun mengembalikan hapeku.

Sebenarnya aku nggak tau apa yang ingin aku sampaikan dicerita ini, hanya saja aku ingin membagikan cerita itu disini. Setidaknya biar ada beberapa orang yang membacanya mungkin itu akan membantuku untuk meringankan apa yang mengusikku beberapa waktu belakangan. Sebenarnya aku tidak ingin bilang bahwa aku baper. Aku pun bingung bagaimana mendeskripsikan perasaan aneh ini. Aku tidak tertarik dengan dia, tapi ada satu hal yang membuatku ingin terus cerita dan berbagi.

Selama kita menyusuri tempat tujuan dengan berjalan kaki, sempat beberapa kali dia memegang tanganku. Menggandeng halus tanganku hanya karena ingin membantuku menyebrang jalan. Melindungiku dari hiruk-pikuk kendaraan bermotor berlalu-lalang. Dia berjalan disampingku, membiarkan tubuhnya berada disisi tepat kendaraan berlalu-lalang. Hal yang aku alami saat itu benar-benar tidak menggoyahkan hatiku untuk baper. Disaat yang sama aku juga tidak ingin pulang, aku tidak ingin semuanya berakhir.

Tapi waktu benar-benar menunjukkan tengah malam dan kami harus bergegas pulang. Disepanjang perjalanan kami tidak banyak bercakap karena aku tau dia capek nyetir. Tiba-tiba aku kaget ketika dia melipir dipinggir jalan dan berhenti. Aku kira dia mau telpon siapa, eh ternyata dia ngantuk berat. Waduh bahaya banget waktu itu dan aku bener-bener bingung mau melakukan hal apa. Akhirnya aku membiarkan dia tidur untuk beberapa menit. Tidak mengganggunya sama sekali dan setelah 10 menit kemudian dia melanjutkan perjalanan.

Agak lama dia menyetir kemudian dia berhenti lagi dan akhirnya memutuskan untuk menepi, dia tidur. Hampir 1 jam aku menunggu dia, mengamati kondisi sekitar supaya aman, sambil main hape. Ngerti nggak ketika dia bangun apa yang dia lakukan,? Dia ngusap kepalaku lama banget dengan matanya yang masih setengah sadar. Nggak paham deh apa yang dia lakukan waktu itu, fokusku adalah bagaimana caranya supaya cepet nyampe ke rumah. Dan akhirnya perjalanan dilanjut, sempat kami menepi di pom bensin untuk membasuh muka dia biar nggak ngantuk lagi.

Sesampainya dirumah, portal dekat rumahku ditutup. Aku harus melewati portal itu tanpa harus meminta pak satpam untuk membukanya. Nggak enak soalnya, takut mengganggu jam istirahat pak satpam. Lalu setelah itu kami menerobos portal dengan posisi aku didepan mendahuluinya. Waktu itu benar-benar menunjukkan jam malam, ketika aku membuka pintu rumah, orang tuaku sudah tidur. Nggak mungkin aku membangunkan mereka hanya untuk pamitan dengannya.

Oke akhirnya aku sampaikan salam darinya untuk orang tuaku. Sebelum kami berpisah, dia memegang tanganku, kami bersalaman ‘mungkin’ tanda perpisahan. Aku melepasnya pergi dan yasudah aku juga bergegas masuk rumah. Sesampainya dikamar, aku mengirim pesan teks untuknya agar hati-hati dijalan dan bilang makasih sudah mengantarku dengan utuh. Dia pun merespon dengan baik.

 

--------

 

Beberapa waktu setelah kejadian itu, kami sempat saling chatt satu sama lain walaupun nggak sering tapi tiap hari. Pokoknya aku hanya ingin mengalir saja, tidak ingin terlihat bahwa aku membutuhkan chattnya. No, aku bukan tipe cewek yang seperti itu. Lebih baik aku menahan diri untuk tidak bersikap terbuka dulu, aku ingin tau seberapa besar dia kepo denganku. Benar saja, beberapa waktu setelah itu dia sempat 2x vidcall tetapi aku putuskan untuk mengabaikan.

Apa ya, dari awal aku sempat merasa bahwa dia hanya datang cuman butuhnya doang. Jelas dia butuh aku untuk mengatasi rasa kesepiannya, entah mengapa feelingku sangat kuat berkata seperti itu. Makanya aku memutuskan untuk tidak boleh baper dengannya karena dia termasuk orang baru. Walaupun sudah kenal sejak lama, tapi sama saja kan.. saat itu adalah pertemuan perdanaku dengan dia dengan tidak ada siapa-siapa, hanya kami berdua.

Alasan mengapa aku tidak ingin menerima vidcallnya adalah karena aku harus menahan diri. Feelingku berkata nggak boleh semudah itu menerima vidcall dari orang walaupun sudah kenal. Aku nggak bisa membayangkan bagaimana jika keterusan vidcall, bikin aku baper, eh pada akhirnya dia pergi sesuka hati. Kan sakit! Emang sih nggak ada yang nyuruh buat baper, tapi yang namanya hati cewek kayaknya kalo digituin terus nggak bisa jauh dari kata baper. Serius!

Mungkin bagi orang yang telah membaca cerita ini sampai akhir akan ada yang menilai bahwa aku cewek gampangan. Iya kah aku seperti itu? Tapi jujur, aku tidak ingin dikata negatif. Tidak ingin dikata cewek gampangan atau murahan. Alasanku menyetujui ajakannya waktu itu adalah kami pikir ya sekadar jalan biasa, karena dia adalah kakak tingkatku yang bukan baru kenal kemarin sore. Toh dari awal dia ngajak aku buat kulineran doang pikirku habis itu yaudah pulang. Tapi ya sedikit nggak nyangka aja kalo ternyata tujuannya berubah untuk mengajakku ke tempat yang agak jauh.  

Dia lebih tua dariku, jelas usianya lebih matang. Bahkan kalo dihitung 2 tahun dari sekarang dia akan berkepala 3. Dari awal seperti aku sudah sadar diri ketika bersanding dengannya bahwa aku ini masih anak kecil, usiaku mungkin bisa dianggap siap menikah tapi mentalku masih 0. Masih nggak tau apa-apa, masih pengen main, masih pengen membahagiakan diri pokoknya. Beda dengan dia yang usianya tidak lagi main-main. Pikirannya cukup matang, jadi aku sadar diri akan hal itu. Orang-orang seperti dia pasti akan mencari pasangan yang se-jalan dengan pikirannya.

Sedangkan aku kalo diajak ngobrol dengannya mungkin dia akan mencari bahan obrolan yang super ringan supaya aku nyambung. Serius dari awal aku sudah sadar diri, kalaupun kami saling suka dan memiliki hubungan khusus, aku nya yang keenakan. Diayomi terus, diajarin terus, dilindungin terus. Lah dia mau dapet benefit apa dariku? Mau minta perlindungan dari aku sepertinya impossible sekali. Aku tau sebenernya bahwa hubungan itu tidak mencari benefit, tetapi mencari kenyamanan dan saling mengisi kekurangan satu sama lain.

Masalahnya nih kalaupun kami berhubungan, aku ragu dia akan nyaman denganku. Sepertinya dia mencari tipe wanita yang mandiri dan dewasa, sebab tipe itu ada didalam diri mantannya. Walaupun belum kenal nih sama mantannya, tapi dilihat dari fotonya kelihatan banget bahwa mantannya itu sangat dewasa. Sedangkan aku ini cewek manja, nggak bisa mandiri, nggak bisa apa-apa. Makanya aku bener-bener sadar diri harus mencari pasangan yang seperti apa. Ya yang bisa menerima aku apa adanya lah.

Alhamdulillah, diakhir paragraf ini akhirnya aku lega sekali bisa menerbitkan pikiran yang mengganggu dalam bentuk tulisan. Sumpah sampe beberapa hari setelah kejadian aku ketemu dia bener-bener bikin insomnia, deg-degan nggak jelas. Aku nggak baper sebenernya, tapi aku sendiri pun susah mengutarakan perasaan aneh ini. beberapa hari kemarin pun tiba-tiba langsung kepikiran, sampe aku lihat last seen whatsappnya. Ingin mencari jawaban tentang alasan dia mengajakku keluar, alasan dia ingin vidcall, alasan dia ngechatt aku dengan pembahasan yang beda.

 

Ah... se ombo-ombone alas, iseh ombo alas-anmu.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author
_
_

-

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 8, 2020, 10:43 AM - Deni Riyandi
Apr 23, 2020, 3:26 PM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma