[CERPEN] Alibi

[CERPEN] Alibi

Sebuah kasus pembunuhan terhadap seorang perempuan mulai digelar di ruang sidang utama pengadilan. Para pengunjung sidang berbondong-bondong memasuki ruang sidang. Petugas keamanan dengan sigap menertibkan pengunjung sidang. Satu persatu mereka menempati kursi yang tersedia dan sebagian besar lainnya terpaksa harus menyaksikan dari luar gedung karena kapasitas tempat duduk tidak memadai untuk menampung semua pengunjung. 

Panitera pengganti, penuntut umum dan penasihat hukum telah duduk di tempatnya masing-masing. Majelis hakim terlihat memasuki ruang sidang dan membuka sidang dengan penuh kharisma. Ketua majelis memberi perintah agar terdakwa dihadapkan ke persidangan. Tidak berselang lama seorang laki-laki muda berperawakan tegap berpakaian koko dengan peci hitam di kepalanya masuk ke ruang sidang dengan penuh hormat. Langkahnya sedikit gontai didampingi oleh petugas kejaksaan.

***

Terdakwa dituduh telah membunuh istrinya sendiri dengan cara dicekik lehernya menggunakan tambang. Saking kerasnya ikatan tambang di leher korban hingga membentuk luka melingkar menggores kulit di bagian atasnya. Pada foto-foto yang terlampir di berkas perkara terlihat bahwa luka itu menggaris hitam kemerah-merahan pada leher bagian kiri dan pada leher bagian kanan garis itu semakin menebal hingga menimbulkan lapisan kulit bagian luar lehernya terkelupas, sedangkan persis pada bagian belakang lehernya terlihat garis menyilang yang menimbulkan dugaan awal bahwa pelaku mengikat tambang itu dari arah belakang tubuh korban.

***

Memasuki acara pembuktian, jalannya sidang mulai terlihat panas. Penuntut umum dan penasihat hukum sama-sama mempertahankan dalilnya dengan berbagai bukti yang diajukan untuk meyakinkan majelis. Di sisi lain terdakwa tetap bergeming pada keterangannya bahwa ia tidak membunuh istrinya meskipun ia mengakui bahwa sebelum korban meninggal dirinya sempat bertengkar dengan korban sesaat sebelum terdakwa berangkat menuju stasiun.

Berdasarkan hasil pembuktian bahwa pada hari Minggu tanggal 10 Agustus 2014, jam 19.00 terdakwa bersiap berangkat ke Jakarta. Sebelum berangkat terdakwa dengan korban terlibat pertengkaran yang hebat. 

Menurut versi penuntut umum, motif terdakwa menghabisi korban karena kesal dengan perilaku korban yang selalu melawan kepada terdakwa. Tuduhan tersebut didukung oleh tiga orang saksi yaitu Ny. Miranda dan Ny Narsih yang keduanya tinggal bersebelahan dengan rumah korban. Mereka mengatakan bahwa pada malam kejadian terdengar suara keributan di rumah korban dan terdengar bunyi barang-barang yang pecah, namun para saksi tidak mengetahui apakah terdakwa membunuh korban atau tidak. Suara pertengkaran itu baru berhenti sekitar jam 19.45 Wib.

Saksi Riana menemukan jasad korban pada keesokan harinya ketika hendak mengambil uang arisan ke rumah korban. Pada saat itu pintu rumah korban tidak terkunci dan ketika masuk ke dalam rumah ditemukan tubuh korban tergeletak tak bernyawa di lantai ruangan tengah dalam posisi telungkup dengan luka menggaris di lehernya, sedangkan barang bukti tambang yang diduga sebagai alat untuk mencekik korban ditemukan oleh penyidik di dalam sumur belakang rumah korban. 

Penuturan terdakwa memiliki versi yang berbeda. Ia membenarkan adanya pertengkaran dengan korban, namun tidak sampai menghabisi nyawa korban. Setelah bertengkar hebat, terdakwa langsung pergi ke stasiun karena jadwal kereta api berdasarkan yang tertera pada tiket berangkat pada pukul 21.05 Wib. Keterangan tersebut didukung oleh dua orang saksi yang dihadirkan oleh penasihat hukum yaitu saksi Herman (kurir laundry) yang mengantarkan cucian milik korban pada pukul 20.15 Wib dan Saksi Ny. Warni. 

Menurut keterangan Herman pada saat dirinya mengantarkan cucian korban masih hidup karena ia bertemu langsung dengan korban, sedangkan saksi Ny Warni menerangkan bahwa pada jam 20.30 Wib pada malam kejadian ia sempat menelpon korban untuk menagih hutang dan korban masih menerima telpon tersebut. Keterangan yang diberikan oleh saksi Ny Warni bersesuaian dengan print out percakapan telepon dari provider telepon seluler yang menerangkan bahwa antara korban dan saksi Ny Warni memang pernah terjadi percakapan pada malam itu pukul 20.30 selama 3 menit 17 detik. 

Selain dengan 2 orang saksi tersebut terdakwa juga mengajukan 2 bukti tiket kereta api, yaitu tiket keberangkatan Bandung – Jakarta tanggal 20 Agustus 2014 jam 21.05 Wib dan tiket kepulangan Jakarta-Bandung tanggal 21 Agustus 2014 jam 15.15 Wib saat pulang setelah dikabari istrinya meninggal.

***

Proses persidangan terus berlanjut. Tibalah saatnya Majelis menentukan putusan yang adil untuk terdakwa. Penuntut umum telah mengajukan tuntutan pidana bagi terdakwa selama 15 tahun penjara, sedangkan penasihat hukum mengajukan pembelaan agar kliennya dinyatakan bebas dari semua dakwaan. 

Dalam musyawarah terjadi perdebatan hebat di antara majelis menyangkut benar dan tidaknya terdakwa sebagai pelaku pembunuhan. Tidak satupun saksi yang melihat langsung pembunuhan tersebut. Semua fakta-fakta di persidangan menjadi bahan bagi masing-masing anggota majelis untuk membangun argumentasi hukum terhadap penentuan putusan kasus tersebut, 

Fakta-fakta menunjukkan bahwa keterangan saksi Ny. Miranda menyebutkan rumah korban berada di samping kiri rumahnya, namun terhalang oleh tembok setinggi 2,5 meter. Rumah saksi Ny Miranda berada di ujung gang. Pada saat malam kejadian ia berada di rumah dengan anak laki-lakinya yang berusia 16 tahun, sedangkan suami saksi sedang lembur di kantornya. Kira-kira pukul 19.00 Wib terdengar samar-samar suara orang yang sedang bertengkar di rumah korban, meskipun tidak jelas apa perkataan yang dilontarkan mereka. Beberapa saat kemudian terdengar ada benda yang pecah seperti gelas atau kaca dan saat itu anak saksi sempat mengintip dari sela-sela pagar ke arah rumah korban. Anaknya bilang bahwa mobil milik terdakwa terlihat keluar dari rumahnya dengan tergesa-gesa. 

Selang satu jam kemudian terdengar lagi ada suara mobil yang berhenti di depan rumah korban. Saksi mengira terdakwa mungkin pulang lagi. Saksi juga menyampaikan bahwa korban dengan terdakwa baru menempati rumah itu sekitar 10 (sepuluh) bulan yang lalu. Korban sering tinggal sendirian di rumah karena terdakwa jarang pulang. Dalam sebulan terdakwa paling hanya terlihat sekali atau dua kali saja pulang ke rumahnya, sedangkan di rumah korban sering berkumpul ibu-ibu muda. Saksi tidak mengetahui aktifitas apa yang mereka kerjakan di rumah itu, namun warga sekitar sempat merasa resah dengan aktifitas ibu-ibu di rumah tersebut.

Saksi Ny Narsih menerangkan bahwa rumah korban berada di samping kanan rumahnya, namun di antara rumahnya dan rumah korban selain dihalangi oleh tembok tinggi juga terdapat lahan kosong yang digunakan sebagai taman. Pada malam kejadian saksi sempat samar-samar mendengar ada percekcokan mulut di rumah korban, namun saksi tidak begitu memperhatikan karena saksi dan keluarga sedang bersiap-siap untuk makan malam di luar bersama keluarga. 

Pada saat mobil saksi hendak keluar dari garasi, terlihat mobil milik terdakwa melintas dengan cepat menuju ke arah jalan besar. Saksi tidak tahu hendak pergi ke mana dan tidak lama kemudian mobil yang ditunggangi oleh saksi sekeluarga juga pergi meninggalkan rumah dan baru pulang setelah hampir pukul 23.00 Wib.

Menurut penuturan Saksi Riana, ia adalah teman arisan korban yang tinggal sekitar 3 km dari rumah korban. Saksi terakhir berkomunikasi dengan korban adalah dua hari sebelum kejadian. Saksi menelpon korban untuk menanyakan uang arisan yang sudah terkumpul karena pengocokan berikutnya akan diadakan di rumah saksi dan saat itu korban juga mengatakan agar mengambil uangnya pada hari Senin pagi. 

Pada hari Senin pagi saksi pergi ke rumah korban. Pintu depan rumah korban tidak terkunci. Saat masuk ke dalam rumah korban saksi menemukan korban tergeletak di ruang tengah dengan kondisi yang tidak bernyawa.

Saksi Herman adalah seorang pegawai laundry. Ia menerangkan bahwa malam itu saksi mengantar cucian milik korban sekitar pukul 20.15 Wib. Saksi diperintah oleh majikannya agar cucian tersebut diantar malam itu juga. Saksi mengakui bahwa baru kali itu mengantarkan cucian pada malam hari, biasanya cucian diantar pada siang hari. Ketika sampai di rumah korban, yang membukakan pintu adalah korban sendiri. Malam itu wajah korban terlihat sembab seperti habis menangis, saksi disuruh langsung menaruh cucian di kamar korban. Pada saat masuk ke rumah korban di ruang tengah terlihat pecahan keramik berserakan, namun saksi tidak berani bertanya apapun kepada korban dan setelah menyimpan pakaian saksi langsung pamitan pergi.

Saksi Warni menyebutkan ia menelpon korban sekitar pukul 20.30 Wib selama kurang lebih 3 menit. Saksi menagih janji korban yang akan membayar hutang pembayaran berlian yang dibelinya beberapa bulan yang lalu, namun di telpon korban malah marah-marah, sehingga sempat beradu mulut dengan saksi. Oleh karena itu saksi merasa kesal dan saksi menutup telepon tersebut sebelum pembicaraannya selesai.

Menurut keterangan terdakwa, malam itu pukul 19.00 Wib ia akan berangkat ke Jakarta menggunakan kereta api untuk kepentingan bisnis dengan koleganya. Sebelum berangkat ke stasiun terdakwa terlibat pertengkaran hebat dengan korban karena korban mencurigai keberangkatan terdakwa untuk bertemu dengan selingkuhannya. Terdakwa memang sempat terpancing emosinya hingga menendang guci keramik yang ada di ruang tengah rumahnya. Pertengkaran itu berlangsung kurang lebih 45 menit. Terdakwa bergegas pergi karena jadwal keberangkatan kereta api pukul 21.05 Wib sedangkan dari rumah terdakwa hingga ke stasiun membutuhkan waktu antara 30 hingga 45 menit. 

Terdakwa pergi dengan menggunakan mobil miliknya. Pada pukul 20.45 Wib terdakwa sampai di stasiun dan menyimpan mobilnya di tempat parkir, lalu terdakwa meneruskan perjalanan ke Jakarta menggunakan kereta api.

Keesokan harinya terdakwa mendapatkan kabar melalui telepon dari saksi Riana bahwa korban meninggal dunia di rumah. Terdakwa bergegas pulang kembali ke Bandung. Terdakwa menyangkal bahwa kematian korban diakibatkan oleh perbuatan terdakwa.

Hasil visum menerangkan bahwa luka yang terdapat di tubuh korban yaitu luka lecet melingkar di leher yang terlihat semakin menebal dan mengelupas pada kulit bagian luar leher sebelah kanan dan pada bagian leher belakang terdapat luka lecet membentuk persilangan. Pada kepala bagian belakang terdapat luka memar dan benjolan akibat benturan benda tumpul dan pada jari-jari kaki kanan dan kiri bagian atas terdapat luka lecet. Kesimpulan visum menyebutkan kematian korban disebabkan oleh gagal pernafasan akibat cekikan di leher korban. 

Bukti dua buah tiket Bandung-Jakarta dan Jakarta-Bandung masing-masing telah divalidasi oleh petugas stasiun yang menandakan bahwa benar terdakwa sampai ke stasiun. Barang bukti tambang yang ditemukan di sumur belakang rumah korban tidak terdapat sidik jari karena kondisinya telah terendam air dan pecahan keramik yang berserak pun luput dari sidik jari. Namun, tidak satupun barang bukti berupa benda tumpul yang dapat mendukung luka memar di bagian kepala.

Setelah hampir 4 jam bermusyawarah ternyata majelis tidak mendapatkan suara yang bulat. Hakim anggota dua berpendapat bahwa perbuatan yang dituduhkan kepada terdakwa tidak terbukti karena terdakwa memiliki alibi yang sempurna berdasarkan waktu dan tempat meninggalnya korban, di mana korban diperkirakan meninggal setelah pukul 20.30 Wib, sedangkan pada jam tersebut korban masih menerima telepon dari saksi Warni dan pada waktu yang bersamaan terdakwa sudah berada di stasiun kereta api. Selain itu, tiket kereta api kepulangan dari Jakarta-Bandung juga telah tervalidasi oleh petugas Stasiun Gambir sehingga membuktikan bahwa terdakwa telah sampai ke Jakarta

Hakim anggota satu memiliki pendapat yang berbeda dengan hakim anggota dua ia menitikberatkan argumennya pada konflik sebagai acuan bagi timbulnya motif dalam pembunuhan tersebut. Dari sekian banyak orang yang berkaitan dengan kejadian tewasnya korban, konflik korban dengan terdakwalah yang memiliki dugaan paling kuat untuk timbulnya niat pada tindakan pembunuhan.

Ketua majelis memiliki pendapat yang sama seperti hakim anggota dua bahwa terdakwa tidak terbukti melakukan pembunuhan dengan argumentasi yang sama dengan hakim anggota dua yaitu alibi terdakwa sempurna. Akhirnya putusan ditentukan berdasarkan suara terbanyak dengan amar putusan terdakwa dibebaskan dari semua dakwaan penuntut umum

***

Sesaat sebelum putusan dibacakan, ruang sidang telah dipadati oleh pengunjung sidang yang ingin menyaksikan putusan akhir terhadap kasus tersebut. Majelis hakim memasuki ruang sidang, spontan ruangan menjadi hening. Ketukan palu sidang menjadi tanda dimulainya persidangan. Terdakwa masuk ke ruang sidang dengan menggunakan baju koko putih lengan panjang dan sebuah peci hitam di kepalanya.

Ketua majelis bertanya kepada terdakwa “Saudara terdakwa apakah telah siap untuk mendengarkan putusan yang akan dibacakan sesaat lagi?” dengan mata berkaca-kaca terdakwa menjawab lirih. “Siap Yang Mulia.”

Sesaat sebelum membacakan putusan ketua majelis mengarahkan telunjuknya ke arah dada terdakwa “Coba betulkan dulu kancing baju saudara” si terdakwa terlihat kaget. “Oh maaf Yang Mulia ini kancingnya lepas jadi saya ganti dengan peniti”… “Ya sudah, tapi tolong dirapikan dulu.” Si terdakwa mencabut peniti yang menempel di bajunya dan memasangkan kembali dengan posisi yang lebih baik. 

Entah apa yang membuat sang ketua majelis begitu memperhatikan cara si terdakwa melepas dan memasangkan kembali peniti di bajunya… tiba-tiba ia berkata “Terdakwa coba maju ke depan dulu sebentar” dua anggota majelis yang duduk di sampingnya terlihat heran, begitu juga dengan seluruh hadirin yang ada di ruangan tersebut. “Coba kamu tulis namamu dan tanda tangan di kertas ini” ujar ketua majelis sambil mengambil selembar kertas kosong dan sebuah ballpoint di saku bajunya.

Semua orang di ruangan itu semakin tidak mengerti dengan apa yang diperintahkan oleh ketua majelis. Dengan mimik keragu-raguan si terdakwa menulis namanya dan menandatanganinya di bawah tulisan nama tersebut. Spontan ketua majelis terlihat kaget, matanya melotot dan bertanya kepada terdakwa “Jadi saudara itu seorang kidal?”… “Betul Yang Mulia saya dari kecil selalu menggunakan tangan kiri untuk menulis dan mengerjakan semua pekerjaan yang saya lakukan” jawab si terdakwa seperti mulai kebingungan. Ketua majelis terdiam beberapa saat, ia berbisik ke kiri dan ke kanan, lalu tiba-tiba ia menghantamkan palu di hadapannya dengan keras ke atas meja sidang. “Pembacaan putusan ditunda hingga satu minggu ke depan, sidang ditutup” Tok..Tok..Tok… 

*****

Ketua majelis berjalan tergesa-gesa menuju ke ruangannya diikuti oleh dua hakim anggotanya. Setiba di dalam ruangan, hakim anggota dua langsung memberondong pertanyaan kepada ketua majelis. “Apa maksud dari semua ini Pak, tiba-tiba Bapak menunda sidang pembacaan putusan?”… “Tenanglah, kalian duduk dulu kita lebih baik menunda pembacaan putusan daripada kita salah menjatuhkan putusan”… “Maksud Bapak?” hakim anggota satu pun ikut menimpali. 

Sesaat kemudian ketua majelis berkata “Begini, saya tidak pernah terpikir tentang hal ini sebelumnya, namun ketika melihat terdakwa membetulkan peniti di bajunya menggunakan tangan kiri, tiba-tiba saja saya teringat dengan luka yang melingkar di leher korban… Jika terdakwa seorang kidal, maka logikanya tangan kiri terdakwa memiliki tenaga yang lebih kuat dari tangan kanannya. Coba perhatikan pada bagian leher sebelah kanan korban, di situ terdapat luka yang lebih tebal hingga kulit luarnya mengelupas, sedangkan pada leher bagian kirinya hanya menggaris hitam kemerah-merahan. Kondisi seperti itu hanya bisa dilakukan jika arah gesekan tali bergerak dari kanan ke kiri, atau artinya bagian ujung tambang sebelah kiri bergerak menarik sedangkan bagian sebelah kanan menahannya. Gerakan seperti itu menimbulkan tumpuan gesekan berada pada leher bagian kanan karena arah posisi si pelaku berada di belakang korban.”

Mendengar penjelasan tersebut dua hakim yang lain tersentak kaget, sesaat semuanya terdiam. Hakim anggota dua bertanya lagi kepada sang ketua majelis. “Lalu bagaimana dengan kedua tiket kereta api yang dimiliki oleh terdakwa, di situ keduanya telah di cap validasi oleh petugas stasiun keberangkatan dan stasiun kepulangan yang menunjukan bahwa benar terdakwa pernah sampai ke Jakarta?”… Ketua majelis menimpali. “Betul inilah yang harus kita cari kebenarannya dan untuk menghindari kesalahan fatal dalam putusan kita, tidak ada salahnya besok kita pergi ke Stasiun Bandung untuk memastikan keberangkatan kereta api tanggal 10 Agustus 2014, apakah benar kereta itu berangkat tepat pada pukul 21.05 Wib atau ada keterlambatan.

Saking besarnya rasa penasaran di antara majelis, mereka bertiga mendatangi langsung Stasiun Bandung untuk mengecek kedatangan dan keberangkatan kereta api jurusan Bandung-Jakarta pada tanggal 10 Agustus 2014. 

Setelah sedikit bersusah payah menembus prosedur birokrasi di bagian administrasi, akhirnya didapatkan informasi yang cukup mengejutkan. Ternyata kereta api Bandung-Jakarta tanggal 10 Agustus 2014 untuk keberangkatan pukul 21.05 Wib tertunda keberangkatannya selama setengah jam karena ada perbaikan rel di km 80 arah ke Jakarta, dan kereta api baru berangkat pada pukul 21.35 Wib.

Majelis cukup merasa puas dengan informasi yang didapatkan dari administrator stasiun. Dalam perjalanan pulang mereka bertiga terus terlibat perdebatan. Hakim anggota dua bertanya kepada ketua majelis “Sesuai keterangan terdakwa dia sampai di stasiun pukul 20.45 Wib, sehingga ada jeda waktu 50 menit sampai kereta itu berangkat, apakah mungkin dalam waktu sesingkat itu terdakwa bisa pulang dulu ke rumah lalu membunuh korban, sedangkan waktu tempuh dari stasiun ke rumah sekitar 30 menit?” Setengah memotong pembicaraan, ketua majelis memberikan jawaban. “Jangan terkecoh… waktu tempuh 30 menit itu jika menggunakan mobil karena jalannya macet, tapi jika menggunakan sepeda motor atau ojek, maka tidak akan lebih dari 15 menit saja, sehingga jika terdakwa pulang ke rumah dulu dan kemudian menghabisi nyawa korban bukanlah hal yang mustahil.” 

Hakim anggota dua terlihat belum puas dengan jawaban tersebut “Baik Pak, hal itu boleh kita terima, tapi jika terdakwa menggunakan ojek untuk pulang ke rumahnya, maka ia harus menggunakan ojek yang sama agar bisa kembali ke stasiun dengan cepat mengingat di sekitar rumah korban tidak ada pangkalan ojek. Lalu bagaimana mungkin terdakwa membunuh korban di saat tukang ojek sedang menunggunya di luar?” mendapat pertanyaan tersebut ketua majelis justru tersenyum. “Begini, kalau yang datang ke rumahnya itu orang asing lalu melakukan pembunuhan terhadap korban, tentu itu mustahil karena belum apa-apa korban pasti sudah teriak, tapi jika yang datang itu suaminya tentu korban tidak akan berteriak, sehingga pembunuhan tanpa ada suara mungkin saja bisa dilakukan. Misalnya, dengan cara menunggu korban lengah lalu menjerat leher korban dari belakang dengan sekeras mungkin tanpa menimbulkan suara.” Mendengar penjelasan tersebut kedua hakim anggota saling menganggukkan kepala tanda ia setuju dengan penjelasan sang ketua majelis. 

Suasana ruangan menjadi hening sampai akhirnya ketua majelis mengajukan pertanyaan lagi kepada para anggotanya. “Bagaimana apakah sekarang kalian sudah mendapatkan keyakinan bahwa terdakwalah pelaku pembuhunan tersebut?”… Keduanya menjawab secara serempak. “Iya Pak kami telah yakin dan tidak ada keraguan lagi.”

*****

Satu minggu telah berlalu dan tibalah saatnya majelis akan menunaikan janjinya untuk membacakan putusan atas perkara pembunuhan yang melibatkan korban seorang perempuan. Tidak ada sedikitpun hambatan sejak awal dibukanya sidang hingga putusan itu dibacakan. Terdakwa terlihat mendengarkan dengan cermat, sedangkan para pengunjung sidang terlihat penasaran dengan akhir putusan terhadap kasus tersebut.

Putusan setebal 150 halaman dibacakan secara rinci dan teliti. Hampir satu jam waktu telah berlalu hingga kemudian amar putusan mulai dibacakan. Terdakwa mulai terlihat gelisah, dari sudut matanya terus mengalir butiran-butiran bening jatuh ke atas pangkuannya. 

Ketua majelis meminta terdakwa untuk berdiri. Satu per satu amar putusan dibacakan, isinya terdakwa dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana melakukan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga yang mengakibatkan matinya korban dan menjatuhkan pidana penjara selama 15 tahun. 

Terdakwa terkulai lemas, ia menangis terseguk-seguk seraya berulang-ulang mengucapkan kalimat bahwa ia bukanlah pelaku pembunuhan tersebut, sedangkan majelis hakim tetap bergeming dengan putusan yang dijatuhkannya. Mereka bertiga terlihat sangat yakin dan puas dengan apa yang telah diputuskan. 

Para pengunjung sidang dari pihak keluarga korban merasa senang dengan putusan itu. Di tengah hiruk pikuk ruangan itu terlihat seorang laki-laki muda dan perempuan paruh baya duduk di pojok belakang. Meraka saling berpegangan tangan. Wajah keduanya pucat diselimuti rasa was-was dan ketakutan yang mendalam.

***** 

Flash back…

Tanggal 20 Agustus 2014 pukul 16.30 korban kedatangan Ketua RT di lingkungan rumah korban, tujuannya untuk menegur korban karena menurut laporan dari warga sekitar, rumah korban sering digunakan untuk arisan berondong oleh komunitas tante-tante teman korban. Atas teguran tersebut korban merasa tersinggung dan marah. Pikirannya langsung tertuju kepada tetangga terdekatnya yaitu Ny Miranda yang telah melaporkan kepada Ketua RT karena rumah Ny Miranda berdempetan langsung dengan rumah korban dan juga sikap Ny Miranda yang terlihat agak usil dengan kehidupannya. 

Pada pukul 18.30 Wib datanglah suami korban kerumah untuk mengambil pakaian yang akan dibawanya ke Jakarta. Pada saat itu mulai terjadi percekcokan mulut antara terdakwa dengan korban karena masing-masing saling menuduh telah berbuat selingkuh. Percekcokan berlangsung semakin hebat sampai terdakwa pergi meninggalkan rumah pada pukul 19.45 Wib.

Setelah terdakwa pergi, amarah korban masih belum mereda. Tiba-tiba kurir laundry datang mengantar cucian milik korban dan korban menyuruh kurir tersebut menaruh cucian itu di kamar korban. Setelah kurir laundry pergi, telepon milik korban berbunyi dan ternyata Ny Warni menghubungi korban untuk menagih hutang berlian yang dibelinya beberapa bulan yang lalu. Telepon Ny Warni masuk pada saat yang tidak tepat, sehingga emosi korban menyala kembali dan terlibat pertengkaran antara korban dengan Ny Warni di telepon, tidak berselang lama Ny Warni memutus teleponnya secara sepihak. 

Amarah korban semakin memuncak akibat rentetan kejadian tersebut, kemudian ia pergi melabrak Ny. Miranda ke rumahnya dan langsung memaki-maki Ny. Miranda dengan kata-kata kasar karena dianggap telah usil dengan urusan pribadinya. Anak laki-laki Ny Miranda yang mendengarkan ibunya dimaki-maki tersulut amarahnya. Ia kemudian mengambil kayu pemukul kasti yang tergeletak di atas lemari dan keluar dari kamar. Tanpa basa basi anak Ny Miranda langsung memukul kepala korban yang sedang berdiri membelakanginya. 

Ny Miranda yang menyaksikan kejadian tersebut kaget bukan main, namun ia tidak sanggup melakukan apa-apa. Tubuh korban langsung terhuyung jatuh. Tidak selesai sampai di situ, anak Ny Miranda kemudian mencabut tali kain bertekstur seperti tambang pengikat gorden yang menggantung di pintu kamar. Tali tersebut diikatkan di leher korban yang sedang telungkup di atas lantai, karena dia sulit untuk menarik tali tersebut dalam kondisi korban sedang terbaring, maka tali yang sudah melingkar di leher korban itu ujung kirinya diletakan di samping telinga kanan korban lalu diinjak oleh kaki kanannya, sedangkan ujung tali pada bagian kanannya ditarik dengan menggunakan kedua tangannya. Saking kerasnya tarikan itu hingga kepala korban setengah terangkat ke atas dan menimbulkan luka yang melingkar. 

Leher sebelah kanan korban mengelupas kulitnya karena tali yang ditarik oleh anak itu adalah sumbu tali pada sebelah kanannya. Ny Miranda mengguncang-guncang bahu anaknya sambil berulang-ulang mengucapkan kalimat. “Sudah.. anakku.. sudah, jangan dilanjutkan” namun anak Ny Miranda seperti sedang kerasukan, ia sama sekali tidak menggubris perkataan ibunya. 

Setelah ia selesai menjerat leher korban dengan tali gorden hingga korban tidak bernafas lagi, lalu diangkatnya tubuh korban dengan kedua tangannya. Tangan kiri korban dilingkarkan di atas lehernya, dengan langkah tergopoh-gopoh anak itu membawa tubuh korban setengah diseret menuju ke rumahnya.

Malam itu suasana di depan rumah korban sangat sepi, tak seorang pun yang melintas. Akibat dari seretan tubuh korban yang lunglai, maka bagian atas jari-jari kaki korban tergerus oleh permukaan jalan hingga kulitnya mengelupas.

Sesampainya di rumah korban, anak Ny Miranda meletakkan tubuh korban di ruang tengah dengan posisi telungkup. Ia mencari-cari sesuatu di seputar ruangan untuk mengaburkan jejak. Terlihat ada sebuah tali tambang tergulung di bawah meja ruangan dapur. Anak itu dengan cepat mengambilnya dan menjatuhkannya ke dalam sumur untuk memberikan kesan bahwa korban mati dijerat oleh tambang tersebut.

Pada saat proses penyelidikan dilakukan, polisi terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa pelakunya adalah suami dari korban berdasarkan adanya konflik dan barang bukti tambang yang ditemukan di dalam sumur, sehingga tidak melakukan pengembangan penyelidikan untuk mencari barang-barang bukti lain. Seandainya Polisi melakukan penggeledahan di rumah Ny Miranda, maka akan ditemukan kayu pemukul kasti, tali pengikat gorden dan sepasang sandal korban yang disembunyikan di kamar pelaku. 

Benar, bahwa bentuk luka di leher korban akibat tarikan dari kanan ke kiri yang bisa dilakukan oleh seorang kidal. Namun, tidak memperhatikan luka lecet pada bagian atas jemari-jemari kaki korban yang sebenarnya bisa menjadi petunjuk bahwa tempat kejadian pembunuhan itu bukan di rumah korban karena luka seperti itu hampir dapat dipastikan akibat pergesekan dengan lantai yang kasar saat korban diseret.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

Related Articles
Aug 8, 2020, 9:17 PM - celina lovinri
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 4, 2020, 1:57 PM - Tsabitah Meylan Giafi
May 20, 2020, 1:41 PM - Adre Zaif Rachman
May 17, 2020, 12:50 AM - Fienencia
May 1, 2020, 10:51 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 30, 2020, 1:29 AM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 28, 2020, 12:33 PM - Darmoko Yuti Witanto
Apr 27, 2020, 11:06 PM - Darmoko Yuti Witanto
About Author
Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
Jan 8, 2020, 10:43 AM - Deni Riyandi
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma