5 Kesalah Pahaman Ketika Memaafkan

5 Kesalah Pahaman Ketika Memaafkan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi siang sore malam kapanpun anda pembaca tulisan saya ini. Nah hari ini, saya ingin berbagi tentang memaafkan. Sebelum saya bagikan tulisan saya, saya mau menceritakan dulu sedikit kenapa saya berbicara soal memaafkan.

Jadi ceritanya, saya pas bulan puasa kemaren mengikuti KURING atau kuliah daring (dalam jaringan), sebanyak 2 kali. Yang temanya adalah psikologi pemaafan. Jadi ada 2 penyelenggara yaitu dari Asosiasi Psikologi Islam Riau dan satunya adalah Pathfinder SAYogya. Nah keduanya menyelenggarakan kuring dengan tema psikologi pemaafan dengan pemateri yang sama yaitu pak Asep Haerul Gani. Namun, salah satunya berbayar. Jadi saya mengikuti keduanya dengan harapan berbeda materi antara penyelenggara yang satu dengan penyelenggara yang lainnya. Namun,,,, setelah mengikuti kedua materi tersebut, ternyata,,,, sama . Hehehe…..

Ya, saya jadi mendalami soal psikologi pemaafan. Dan banyak hal baru yang saya temui saat belajar psikologi pemaafan, terutama tentang memaafkan itu sendiri. Karena saya mempelajarinya, saya jadi tahu bahwa banyak yang keliru yang telah saya jalankan selama ini.

Nah dalam artikel ini saya akan membahas 5 kesalah pahaman tentang memaafkan yang terjadi di masyarakat kita. Apa saja itu? Yuk kita lanjutkan membaca. Saya akan tuliskan dalam bentuk per poin sehingga mudah dibaca.

1.       Memaafkan bukanlah melupakan kejadian

Nah, disini saya menuliskan bahwa memaafkan bukanlah melupakan kejadian. Kebanyakan di masyarakat, terutama yang sangat enggan dengan perasaan “tidak enak” kepada orang lain, biasanya cenderung lebih mudah untuk melupakan kejadian. Padahal… memaafkan bukanlah melupakan kejadian tersebut. Saking enggannya, saking tidak enaknya sama kelakuan orang lain, kadang masalah yang membuat emosi ini pun dibiarkan begitu saja. Dibiarkan dengan melupakan kejadian  Padahal ini salah. Memaafkan bukanlah melupakan kejadian. Lalu, bagaimana yang benar?

Memaafkan harus benar-benar melepas emosi bathin kita. Entah bagaimana caranya, bisa dengan menegurnya, bisa dengan menasehatinya, dan lain sebagainya. Bisa dengan melaporkan kepada pihak berwajib. Yang penting kita tidak melupakan kejadian tersebut. Kita bisa dibilang sudah memaafkan apabila kita masih ingat kejadian tersebut, namun emosi yang menyertai kita saat kejadian waktu lalu sudah menghilang. Kalau masih ada, berarti anda masih dibilang belum memaafkan. Yang namanya kejadian atau memori tentang sesuatu itu tidak bisa kita lupakan. Karena memori itu akan terus ada. Yang bisa kita ubah hanyalah emosi yang menyertai kita saat itu. Apakah sudah bisa netral atau belum.

2.       Memaafkan bukanlah membiarkan seseorang Kembali berbuat buruk kepada kita

Oke, yang kedua adalah memaafkan bukan berarti membiarkan Kembali berbuat buruk kepada kita. Ini kebanyakan orang salah paham. Kadang orang menyebutkan memaafkan ini berarti membiarkan orang lain yang telah berbuat buruk kepada kita, kita biarkan mereka berbuat buruk lagi kepada kita di lain waktu. Padahal tidak. Kita memaafkan mereka adalah untuk kita sendiri, namun soal hukum, tetaplah berjalan. Apabila seseorang mencuri, dan yang menjadi korban pencurian sudah memaafkan, bukan berarti urusan selesei. Hukum tetaplah berjalan. Misal hukuman bagi sang pencuri adalah potongan tangan. Maka, hukum tetaplah berjalan. Potong tangannya. Memaafkan adalah dengan bagian diri kita sendiri. Namun hukum tetaplah hukum.

3.       Memaafkan bukanlah memendam emosi

Nah ini mirip dengan yang bagian pertama. Memaafkan bukanlah memendam emosi. Kadang, orang lain itu bilang sudah memaafkan, tapi di dalam hatinya masih memendam amarah, memendam kebencian, mungkin kalo ada orang lain bilang lain di mulut, lain di hati. Hehehehe……….. Ada juga mereka yang memaafkan tapi memendam dan mengubur dalam dalam ke dalam bathin tersebut. Ibarat begini, emosi adalah baju kotor. Kita taruh di bak. Walaupun kita taruh di atasnya baju baru, baju bagus, baju wangi, namun,,,, baju kotor yang ada di paling bawah adalah ya baju yang paling kotor. Baju kotor tersebut tetap bau dan kotor, tidak bisa bersih. Kecuali kita mengangkan baju kotor tersebut. Dan mencucinya.

Nah, ini salahnya. Kalau emosi di pendam…. Suatu saat akan jadi bom waktu. Yang mana akan menyebabkan penyakit psikosomatis. Penyakit psikosomatis adalah penyakit yang disebabkan oleh masalah psikis. Contoh masalah psikis adalah memendam emosi terlalu lama. Nah ini dia yang salah. Kalau kita bisa melepas sih, gak masalah. Tapi kebanyakan orang sudah tau itu salah masih dilakukan. Hehehe….

Jadi, memaafkan bukanlah memendam emosi. Memaafkan berarti melepas emosi kita. Bagaimana cara melepas emosi kita? Gampang, tinggal kita memaafkan setulus hati. Atau jika masih bermasalah lakukan Teknik Teknik pelepasan emosi. Misal menulis di kertas lalu di buang atau di bakar.

4.       Memaafkan adalah bagian dari mengasihi diri sendiri

Ini yang penting. Memaafkan adalah bagian dari mengasihi diri sendiri. Yaps. Memaafkan adalah tentang bagaimana kita mengasihi diri kita. Kenapa diri kita? Kenapa bukan orang lain? Ya karena memang memaafkan itu adalah tentang bagaimana kita, saya tulis lagi, memaafkan itu adalah tentang bagaimana kita menerima diri kita dari apapun yang hadir dalam kehidupan kita. Kadang kita terjebak dengan pemahaman bahwa memaafkan itu adalah untuk orang yang bersalah kepada kita. Padahal tidak.

Kita bisa analogikan begini…. Anda marah dan sakit hati karena perilaku seseorang? Nah, coba deh, di siapkan karung berisi beras. Kemudian pukul karung tersebut sampai emosi anda benar benar tersalurkan….. Kira kira, apakah orang yang telah menyakiti diri anda merasakan sakit? Jelas tidak. DIa biasa biasa aja….hhehehe… Yang ada malah kitanya yang sakit kalau tidak memaafkan dia.

Jadi mari kita luruskan lagi, memaafkan adalah bagian dari mengasihi diri kita sendiri. Bukan orang lain…..

5.       Memaafkan adalah tentang pembebasan bathin

Nah ini yang terakhir. Sebenarnya ngga terakhir banget sih. Masih banyak hal yang bisa ditambahkan tentang memaafkan ini. Tapi disini saya hanya menuliskan 5 hal saja terkait pemaafan itu sendiri. Nah memaafkan yaitu tentang pembebasan bathin. Coba kita ingat Kembali kejadian yang telah menimpa diri kita masing masing. Tentunya yang melibatkan orang lain yang telah membuat masalah kepada kita. Kalau sudah ingat, kalau tidak dimaafkan, kira kira apa yang akan terjadi? Ya, bisa jadi kita merasa sesak, merasa dada kita sesak, penuh, sumpek. Merasa batin ini mau meledak. Karena belum memaafkan. Yaitu memang efek yang dirasakan kalau kita tidak bisa memaafkan.

Bagaimana jika kita sudah bisa memaafkan? Tentunya kita bisa lega. Batin kita nyaman. Itulah sebenarnya tentang memaafkan. Memaafkan adalah tentang pembebasan bathin dari ketidakmampuan / ketidak luwesan atau kesempitan. Kalau kita bisa sering memaafkan artinya kita harus bersyukur telah diberi keluasan bathin.

Lantas bagaimana jika kita sudah mencoba memaafkan namun kita tidak bisa melepas emosi kita? Masih aja jengkel sama orang yang telah berbuat salah kepada kita?

Nah kita analogikan lagi ya……. Ada kopi 1 gelas. Yang sudah dibuat dari kemaren pagi. Mungkin kalau diliat sekarang itu agak bening kan ya, karena kopinya numpuk di bawah. Itu ibarat emosi kita. Sekarang kita mau emosi kita lepas. Kita nasehati diri kita dengan menganalogikan 1 gelas air putih yang kita campurkan ke 1 gelas kopi. Kira kira, apakah kopinya langsung bening? Tidak! Mungkin masih agak hitam. Kita taruh lagi 1 gelas air putih. Masih sama,,, apalagi bawahnya sudah hampir mengerak. Jadi lama…. Trus coba sampai beberapa gelas (kemaren percobaan sampai 8 gelas baru hampir sama beningnya). Nah ini saja perlu sampai 8 gelas untuk menjernihkan air kopi. Bagaimana jika memang sudah lama sekali itu kopinya? Pasti makin susah kan? Sehingga kita perlu melatih diri kita sedari dini untuk memaafkan apapun yang hadir dalam hidup kita.

Sebelum kita lanjut, saya akan memberikan Teknik pemaafan yang sangat mudah yang bisa anda gunakan kapanpun dan dimanapun. Kenapa saya memberikan Teknik pemaafan ini? Karena memang sangat banyak sekali orang diluar sana yang susah sekali dalam memaafkan. Nah metode ini cocok sekali untuk anda yang susah sekali dalam memaafkan. Gak perlu banyak tulisan, saya akan langsung tuliskan di paragraph selanjutnya ya….

Jadi Teknik ini adalah Teknik pemaafan. Sebelum saya share tekniknya, anda semua perlu tau dulu beberapa hal. Di dalam diri kita itu banyak sekali ego. Dan bisa kita beri nama. Ada si Jenius, ada si Malas, ada si Pemberani, ada si Pemaaf, ada si Pendendam, ada si Kaya raya, ada si Jahat, dll. Semua ngumpul jadi 1 di tubuh kita. Dan mereka adalah bagian dari diri kita. Oke kita lanjut. Berarti kalau kita lagi dendam sama orang , ego manakah yang harus kita panggil? Yaps, ego si Pemaaf. Kita harus membuat si Pemaaf adalah ego yang dominan saat ini. Caranya?

Silahkan anda semua meditasi dulu, dengan cara Tarik nafas….. tahan…. Lalu buang nafas. Secara teratur…. Selama beberapa saat. Kemudian anda bisa bicara kepada salah satu ego anda. Yaitu si Pemaaf. Coba ajak bicara begini, “Wahai si Pemaaf dalam diriku,,,, hadir dan tunjukkan kehadiranmu dimana kau berada di tubuhku….”. Kita jangan berasumsi apapun, kita jangan banyak pikiran. Kita saat ini hanya cukup merasakan kehadiran dia (si pemaaf) dalam tubuh kita letaknya dimana. Caranya?

Jika ada rasa gatal, rasa cenat cenut, atau rasa hangat, atau malah dingin, atau apapun di salah satu daerah di tubuh kita. Maka dia berarti ada disana. Jika sudah terasa letaknya dimana, silahkan rasakan kehadirannya dan perbesar kehadirannya si pemaaf ini. Perlu diketahui, setiap orang berbeda beda dalam merasakan ini. Setiap orang tidak sama dalam merasakan sensasi kehadiran si pemaaf ini. Juga tempat dia hadir juga berbeda beda. Ada di kaki, di tangan, di dada, atau dimanapun. Yang jelas mereka hadir dengan sensasi dan tempat yang berbeda pada setiap orang.

Jika sudah? Nah jika sudah kita bisa berkomunikasi dengan mereka. Tidak bicara juga tidak apa-apa. Yang jelas kita harus memperbesar kehadiran si pemaaf ini. Tau artinya kan? Ketika si Pemaaf ini lebih mendominasi dalam diri kita, artinya kita benar sudah bisa menjadi pemaaf. Karena sejatinya kitalah pemegang kendali atas diri kita. Bukan si pendendam yang juga ada dalam diri kita. Kau cukup hadirnya si pemaaf dalam dirimu.

Oke sekian dulu artikel dari saya tentang kesalah pahaman dalam memaafkan. Semoga dalam artikel ini kita semua nantinya akan lebih mudah dalam memaafkan. Sehingga kita tidak membuat penyakit sendiri dalam diri kita. Oke itu aja dulu. Shalom….

Salam SESAT…..

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

About Author

Konsultan Penyembuhan Ajaib

Popular This Week
Mar 6, 2020, 8:09 AM - Shinta Kusuma
Nov 4, 2019, 3:28 PM - RackTicle Manager
Dec 18, 2019, 9:22 PM - Rianda Prayoga
May 23, 2020, 2:23 AM - Edin S. Djatikusuma
Jan 20, 2020, 2:24 PM - RackTicle Manager
Dec 24, 2019, 10:26 AM - Eka Kusumaningrum
Feb 7, 2020, 1:22 AM - Singgih Tri Widodo
Jan 8, 2020, 10:43 AM - Deni Riyandi
Apr 23, 2020, 3:26 PM - Singgih Tri Widodo
Recent Articles
Aug 15, 2020, 11:04 AM - Akhmad Fauzi
Aug 14, 2020, 12:49 PM - celina lovinri
Aug 11, 2020, 5:57 PM - Pone Kamaruddin
Aug 10, 2020, 7:34 AM - celina lovinri
Aug 8, 2020, 9:28 PM - Singgih Tri Widodo
Aug 5, 2020, 8:06 PM - Siti Mahmudah Solikatun Kasanah
Aug 5, 2020, 7:26 PM - Shinta Kusuma