5 Hewan Langka Khas Sumatera yang Sudah Tidak Terlihat Lagi Hidup di Hutan Nabundong Sumatera Utara.

5 Hewan Langka Khas Sumatera yang Sudah Tidak Terlihat Lagi Hidup di Hutan Nabundong Sumatera Utara.

Nabundong adalah sebuah nama hutan lindung di daerah Sumatera Utara yang masuk kewilayah Kabupaten Padang Lawas Utara. Nabundong berada tepat di jalur lintas Sumatera bagian utara antara Medan, Kabupaten Padang Lawas Utara menuju Riau dan Sumatera Barat. Yang berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Selatan.

Pada tahun 90an dahulu ketika itu author masih sekolah dibangku SD, hutan Nabundong itu masih sangat asri sekali. Hijau membentang dan memiliki kekayaan ragam hayati yang sangat banyak. Mulai dari pohon-pohonya yang beragam yang tumbuh menjulang dan juga kekayaan hewannya yang masih terbilang terjaga kelestariannya. Jauh dari aksi tangan-tangan jail yang ingin memperkaya diri.

Pada masa itu Hutan yang Asri itu masih terkenal dengan keangkerannya. Hingga saat ini pun sebenarnya beberapa orang masih mengatakan bahwa hutan Nabundong itu angker. Namun tentunya itu dahulu. Sekarang yang tinggal hanya cerita keangkerannya saja. Dan hanya sebatas cerita. Tidak lebih.

Tidak banyak dikala itu mobil yang berani melintasi dijalan lintas sumatera bagian utara yang melintas dikawasan hutan itu dimalam hari. Takut mendengar cerita keangkeran hutan Nabundong itu yang katanya banyak penunggunya. Baik penunggu makhluk halus maupun hewan-hewan yang yang menghuni hutan Nabundong itu. Biasanya dikala itu banyak mobil yang berhenti dikota Padang bolak ibu kota Kabupaten Padang Lawas Utara kalau sudah kemalaman lewat dari hutan Nabundong bagi mobil-mobil yang hendak menuju ke Riua atau Sumatera barat dari arah medan atau sebaliknya yang mau menuju Medan dari Riau atau Sumatera Barat, biasa berhenti di suatu desa bernama Palsabolas. Desa terakhir sebelum memasuki Kawasan hutan Nabundong. Atau ada juga mobil yang berani melintas, namun dengan beriring-iringan. Atau orang luar daerah Sumatera Utara yang belum pernah melintasi apalagi mendengar keangkeran hutan Nabundong itu. Itu pun biasanya mobil yang berani melintasi jalan lintas sumatera sebelah utara yang melewati Kawasan hutan Nabundong itu akan segera berbalik arah karena merasa gentar menghadapi gelapnya dan lainnya hawa disekitar hutan itu apabila kita berani menerobosnya sendiri dimalam hari.

Banyak cerita-cerita yang menyeramkan yang diluar nalar yang sering diceritakan masyarakat yang tinggal berdekatan dengan hutan Nabundong itu kepada pemilik-pemilik mobil yang sedang menunggu pagi datang untuk melintasi Kawasan Hutan Nabundong itu.

Namun bukan itu saja yang membuat para pengemudi tidak berani melintas dikawasan hutan Nabundong itu sendirian, bukan hanya dimalam hari saja, namun juga disiang hari. yaitu masih banyaknya hewan liar yang hidup dihutan itu pada waktu itu. Yang sering melintas dan menghalangi jalannya para pengemudi.

Dan dari semua jenis hewan liar yang pada masa itu bisa mengganggu dan membuat ciut para pengemudi yang ingin melintas dikawasan hutan Nabundong itu ialah. Harimau Sumatera. Ya pada masa itu masih ada Harimau Sumatera yang hidup dihutan Nabundong itu.

Baiklah disini author akan memberikan informasi 5 hewan apa saja yang dulu Author ingat hidup di dalam hutan Nabundong itu dan sering terlihat namun sekarang sudah tidak ada lagi atau terlihat lagi dikawasan hutan Nabundong itu.

1. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae)

Hewan yang habitat aslinya ada di pulau Sumatera, dan merupakan satu dari enam subspesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia itu, memang benar-benar dulunya hidup dihutan itu.

Author sendiri belum pernah melihat wujudnya secara langsung. Namun masih teringat diingatan Author suatu hari dipagi yang sangat dingin dihutan Nabundong yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tapanuli Selatan dipondok para pembuka ladang untuk dijadikan lahan kebun jeruk. Waktu itu Author yang masih kelas tiga SD dibawah ayah untuk menginap beberapa hari dipondok itu. Dari kejauhan Author bisa mendengar Auman suara siraja hutan dari kejauhan. 

Itu adalah pengalaman langsung Author yang masih Author ingat sampai sekarang. Betapa horornya dipagi itu berpikir kalau-kalau sang raja hutan datang mendekati pondok para pembuka ladang. Belum lagi cerita-cerita penduduk yang tinggal berdekatan dengan hutan Nabundong itu dan para pengemudi yang sering melintas dan berpapasan langsung dengan sang raja hutan. Menjadi cerita yang terdengar biasa kala itu ditahun 90an.

Namun semua itu sekarang hanya tinggal cerita. Sudah tidak pernah terlihat lagi belangnya si raja hutan dihutan yang kini sudah tidak lagi angker itu.

2. Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus)

Adalah Hewan subspesies dari gajah asia yang hanya berhabitat di Pulau Sumatra. Gajah sumatra berpostur lebih kecil daripada subspesies gajah india. Populasinya semakin menurun dan menjadi spesies yang sangat terancam.

Masih ingat Author pada masa itu Author diajak ayah kekota Padang Bolak tempat ayah menemui temannya disana untuk membahas tentang pekerjaan. Diwaktu itu kami kembali pulang dari kota Padang Bolak yang pada saat itu masih masuk kepada Kawasan Kabupaten Tapunuli Selatan. Belum memekarkan diri seperti sekarang, belum menjadi ibu kota dari Kabupaten Padang Lawas Utara menuju kekota Padang Sidempuan yang pada masa itu masih merupakan ibu kota dari Kabupaten Tapanuli Selatan belum memisahkan diri menjadi kota Madya sendiri seperti sekarang. Waktu itu siang menjalang sore kami pulang menggunakan bus sedang dan ketika bus yang kami tumpangi berada dikawasan hutan Nabundon itu. Author dengan sangat jelas melihat tiga ekor gajah dewasa dan satu ekor gajah anakan sedang merusak beberapa pohon untuk mereka makan dipingggir jalan lintas sumatera itu. Itu adalah pengalaman yang berharga, sekaligus mendebarkan yang pernah Author alami langsung diwaktu Author kecil dahulu.

Namun sama dengan cerita Harimau Sumatera yang dulu Author ingat pernah hidup dihutan Nabundong itu, kini nasib Gajah Sumatera yang hidup dikawasan hutan Nabundong itu juga sudah tidak pernah terdengar lagi. Sudah tidak pernah terlihat lagi gadingnya. Suatu hari disekitar bulan mei tahun 2018 Author pernah mengunjungi kebun karet seorang teman disuatu tempat atau daerah yang bernama Pagaran Tonga Kecamatan Simangambat Kabupaten Padang Lawas Utara yang berjarak puluhan kilo meter dari Hutan Nabundong, namun dahulu masih menyambung hutan itu kekawasan Hutan Nabundong yang sekarang dikawasan itu sudah berubah menjadi perkebunan sawit dan karet. Teman saya itu bercerita, dahulu sebelum tempat itu menjadi kebun sawit dan kebun karet. Masih hutan belantara, disana masih ditemukan banyak gajah yang berkeliaran. Ada satu tempat tepat ditengah-tengah hutan. Para penduduk menyebutnya waru merah. Karena didesa itu dulunya masih hutan, ada sebuah pohon waru merah yang sangat tinggi dan besar sekali. Tempat para gajah berkumpul. Pohon itu sudah ditebang sekarang karena katanya sangat angker. Banyak terlihat kuntilanak dan genderuwo dipohon itu. Namun bukan cerita tentang hantu yang ada dipohon waru merah itu yang Author tertarik. Tapi cerita kawanan gajah yang sering berkumpul disekitar pohon waru merah itu yang sudah tidak pernah terlihat lagi sampai sekarang yang membuat Author berpikir. Kemana kawanan Gajah Sumatera itu pergi? Author juga dibulan yang sama pergi kearea hutan dikawasan Bukit Tujuh Kecamatan Torgamba Kabupaten Padang Lawas Selatan yang berbatasan dengan Kecamatan Simangambat Kabupaten Padang Lawas Utara yang sekarang sudah beralih menjadi perkebunan sawit dan perkebunan eukaliptus milik salah satu perusahaan perkebunan Swasta. Disana didekat perumahan karyawannya ditengah-tengah hutan pohon Eukaliptus Author melihat ada tulang punggung gajah muda.

3. Beruang Madu (Helarctos malayanus)

Merupakan jenis paling kecil dari kedelapan jenis beruang yang ada di dunia. Beruang ini adalah fauna khas provinsi Bengkulu sekaligus dipakai sebagai simbol dari provinsi tersebut. Namun sebenarnya bukan hanya ada di Bengkulu, beruang ini menyebar hampir kesemua hutan yang ada dipulau Sumatera.

Hewan yang satu ini juga dahulu ditahun 90an masih sangat banyak sekali hidup dihutan Nabundong. Hutan lindung yang terkenal angker dulunya namun sekarang sudah gundul berganti menjadi lahan-lahan perumahan penduduk dan juga kebun-kebun karet. Cerita keberadaan beruang yang bertubuh kecil itu sering sekali terdengar dari mulut kemulut. Namun bukan hanya ceritanya saja. Keberadaannya juga dahulu bukan menjadi hal yang sangat aneh. Karena memang banyak warga yang melihat secara langsung penampakannya yang terkadang meneror para petani, namun juga para pengemudi yang melintas dihutan Nabundong. Namun sekarang lain lagi ceritanya. Hutan itu sudah tidak menarik lagi bagi kawanan beruang madu. Sehingga orang disana kalau kita bertanya tentang keberadaan beruang madu di hutan Nabundong, maka mereka akan menggaruk-garuk kepala atau bahkan tertawa karena tidak pernah lagi mendengar ada penampakan beruang madu dihutan yang dulunya sangat Angker itu. Namun dikebun karet teman Author dikawasan Kecamatan Simangambat Kabupaten Padang Lawas Utara yang berjarak berpuluh-puluh kilo meter dari hutan Nabundong yang dahulunya merupakan satu kesatuan hutan di Kabupaten Tapanuli Selatan Yang belum mekar seperti sekarang. Digubuk tempat Author dan teman Author itu menginap dimalam ketiga. Kami dikejutkan dengan kedatangan dua ekor beruang madu yang sedang mencari makan dimalam hari dan membuat suara ribut tepat dibawah gubuk kami menginap. Untung saja mereka tidak memanjat tangga kayu gubuk tempat kami menginap yang berjarak sekitar dua meter dari tanah untuk melihat apa yang ada didalamnya. Malam itu benar-benar menjadi malam yang menegangkan bagi Author. Malam yang akan sulit untuk dilupakan. Hal itu pula yang membuat Author memeiliki ide untuk menceritakan hewan-hewan apa saja yang dahulu hidup dihutan Nabundong namun sekarang sudah tidak terdengar dan terlihat lagi.

4. Siamang (Symphalangus syndactylus).

Kera hitam yang berlengan panjang, dan hidup dipepohonan. Pada umumnya, siamang sangat tangkas saat bergerak di atas pohon, sehingga tidak ada predator yang bisa menangkap mereka. Siamang merupakan spesies terancam, karena deforestasi habitatnya yang sangat cepat. Siamang tidak memliki ekor dan memiliki postur tubuh yang kurang tegak. Siamang berwarna hitam agak cokelat kemerahan. Kera ini memiliki anyaman antara jari kedua dan ketiga.

Siamang atau monyet hitam atau orang Mandailing suku Asli orang Tapunuli Selatan memanggilnya dengan sebutan Imbo. Sebenarnya monyet jenis ini masih banyak sekali tersebar dibeberapa hutan yang ada di Propinsi Sumatera ini. Dahulu diwaktu Author kecil. Dikota Padang Sidempuan ibu kota Tapanuli Selatan dimasa itu yang masih diapit gunung-gunung dan bukit-bukit yang masih berbentuk hutan yang sangat lebat, digunung dibelakang kampung Author tinggal sering sekali Author mendengar dan melihat gerombolan Monyet itu. Karena gerombolan siamang itu sangat mudah untuk dikenali dan sangat mudah mengetahui keberadaan mereka dari suara besar mereka yang bersahut-sahutan memenuhi seisi hutan. Seperti suara Tarzan namun lebih khas, yang langsung membuat kita bisa mengenali kalau itu mereka.

Dahulu ditahun 90an. Menemukan hewan ini sangatlah mudah dihutan Nabundong. Sepanjang jalan lintas Sumatera yang melintasi hutan itu kita akan selalu disugukan dangan suara khas kawanan itu. Bahkan tidak jarang mereka melintas disepanjang sisi jalan untuk mengganggu beberapa mobil yang melintas. Seperti yang terjadi dengan mobil bus dimasa Author kelas dua SMP ditahun 1997 yang baru pulang dari mengikuti acara lomba Marching band antar SMP se SUMUT. Kala itu dua mobil bus rombongan kami tiba pada subuh hari dihutan itu. Kebetulan mobil bus yang Author tumpangi berada didepan. Kami bisa melihat waktu itu sekawanan siamang sedang bermain kejar-kejaran didahan-dahan yang melintang disepanjang jalan yang seperti membentuk koridor yang menutupi jalan itu. Tiba-tiba saja seekor siamang terjatuh dari atas dahan tepat mengenai kaca depan busa kami didepan supir yang hampir-hampir saja membuat rombongan kami celaka. Karena supir bus yang terkejut membuat gerakan pengereman yang mendadak yang membuat jantung ini serasa copot saja. Untung saja bus kedua yang beriringan dengan bus kami masih memiliki jarak yang cukup sehingga bus kedua dibelakang kami tidak menabrak bus kami yang mengerem mendadak.

Tapi sekarang semua itu tinggal menjadi kenangan indah Author saja. Berkemah pun sekarang kita berminggu-minggu dihutan Nabundong itu. Belum tentu kita akan mendengar lagi suara kawanan siamang disana. Apa lagi melihat penampakan mereka.

Author hanya melihat kawan siamang itu dihutan perkebunan sawit disuatu daerah Simpang Bragas desa Sihopuk Baru kecamatan Halongonan Kabupaten Padang Lawas Utara yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Simangambat yang kebetulan des aitu berada ditepi jalan lintas Sumatera yang terus menyambung kejalan yang menuju kehutan Nabundong berjarak masih puluhan kilo meter dari hutan Nabundong namun dahulu masih merupakan satu kesatuan hutan yang sama dengan hutan Nabundong. Kala itu siang menjelang sore sekawanan Siamang terlihat menggantung diatas pepohonan kebut karet menunggu seorang petani pergi meninggalkan ladang papaya miliknya.

5.      Burang Rangkong

Burung Rangkong atau Rangkok atau Enggang atau dalam bahasa Inggrisnya disebut burung Hornbill. Adalah sejenis burung yang mempunyai paruh berbentuk tanduk sapi tetapi tanpa lingkaran. Biasanya paruhnya itu berwarna terang. Nama ilmiahnya "Buceros" merujuk pada bentuk paruh, dan memiliki arti "tanduk sapi" dalam Bahasa Yunani.

Sama seperti Siamang dahulu dihutan yang ada digunung dibelakang desa Author, Author sering melihat kawanan burung ini bermain diatas pohon-pohon hutan yang tumbuh menjulang tinggi. Tidak sulit untuk mengetahui kawanan itu adalah kawanan burung Rangkong. Dari bentuk paruh besar tubuhnya yang lebih besar dari tubuh burung elang juga dari suara khas berisik yang sering mereka perdengarkan. Khong! Khong! Hampir seperti itu suaranya. Hal itu juga mungkin kenapa burung itu didesa Author disebut burung Rangkong Atau Rangkok? Digunung dibelakang desa Author yang sekarang sudah berubah menjadi kebun karet, kebun salak dan kebun durian yang berjarak belasan kilo meter dari hutan Nabundong. Suara burung itu tidak pernah terdengar lagi. Apalagi penampakannya. Sementara itu dihutan Nabundong sendiri, ada yang bilang beberapa penduduk pernah melihatnya. Namun harus orang-orang yang super beruntunglah yang sekarang bisa melihat penampakan burung itu dihutan Nabundong.

Hanya saja disuatu siang yang cerah ketika Author pergi dibulan Mei tahun 2018 kehutan Eukaliptus milik sebuah perusahaan perkebunan swasta di dikawasan Bukit Tujuh Kecamatan Torgamba Kabupaten Padang Lawas Selatan yang berbatasan dengan Kecamatan Simangambat Kabupaten Padang Lawas Utara. Author yang super beruntung melihat seekor. Hanya seekor burung Rangkong diatas pohon kayu yang tinggi dikawasan sekitar aliran sungai yang sepuluh atau dua puluh meter dari aliran sungai pohon-pohon hutannya tidak boleh ditebang perusahaan perkebunan milik Swasta itu oleh pemerintah Propinsi Sumut. Author sempat memfilimkan burung langka itu, namun sayang HP yang Author pakai untuk merekam burung itu sudah dijual dan tidak ingat kalau Author pernah merekam penampakan burung Rangkong dihutan Industri yang jaraknya berpuluh-puluh kilo meter dari hutan Nabundong namun dulunya masih merupakan satu kesatuan hutan yang sama.

Bagi Author sendiri hal ini merupakan sebuah ironi. Hewan-hewan langka yang memiliki hak yang sama dengan kita untuk hidup didunia ini harus tergusur dari hutan-hutan tempat mereka dulunya tinggal mengalah dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan hidup manusia yang semakin banyak dan meningkat didunia ini. Hutan-hutan tempat mereka tinggal sudah berganti menjadi hutan-hutan industry dan perkebunan-perkebunan sawit, karet dan lain-lain demi perekonomian umat manusia yang sayangnya sangat serakah yang lupa dan tidak mau berbagi dengan mahkluk-mahkluk lainnya yang hidup didunia ini.

Masih ada memang sedikit hutan yang tersisa di Propinsi Sumatera ini. Namun pesatnya petumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk yang semakin banyak membuat hutan-hutan itu tergerus seinci demi seinci setiap tahunnya. Membuat hewan-hewan langka yang hidup didalamnya yang hampir punah dan akan punah yang seharusnya kita lindungi menjadi semakin sesak saja hidup mereka. Yang pada akhirnya menimbulkan komplik antara manusia dan hewan yang selalu dimenangkan oleh manusia.

Kalau masih ada sedikit hati kita, kalau masih ada orang diantara kita berharap agar hewan-hewan langkah itu tidak punah. Dan tinggal menjadi cerita pengantar tidur saja. Mari kita bersama-sama menyelamatkan hutan kita! Bukan hanya hutan Nabundong saja, hutan yang sudah tidak angker lagi itu, namun hutan-hutan yang ada yang masih tersisa di Propinsi Sumatera Utara ini. Ada baiknya Pemerintah baik pusat dan pemerintah daerah Sumatera Utara, bukan hanya Sumatera Utara, namun semua pemerintah Propinsi seluruh Indonesia. Untuk mencarikan solusi yang nyata bagi situasi ini. Perketat regulasi hutan dan kepemilikannya. Juga berikan hukuman yang berat bagi para pelaku kejahatan dihutan dan juga pemburu satwa liar dan langkah. Agar memberikan efek jera bagi para pelaku kejahatan dihutan itu.

Sedikit tambahan. Author punya kenang-kenangan dengan seorang teman yang tinggal didesa Bahal Portibi. Didesa tempat candi Bahal di desa Bahal Portibi Padang Bolak, Sibatu Loting, Kecamtan Barumun Tengah, Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara berdiri. Kebetulan desa itu dilewati oleh sungai Brumun. Sungai besar yang sangat terkenal didaerah Padang lawas sekitar. Waktu itu Author duduk dikelas 2 SMA ketika berkunjung disana. Author masih inga tapa yang dikatakan teman Author itu bahwa dulu ketika dia masih anak-anak. Masih SD, disungai barumun itu ada ikan lumba-lumba sungainya. Penduduk desa teman Author itu sering sekali melihat penampakan kawanan lumba-lumba sungai yang memang sangat jinak kepada manusia. Bahkan mau disentuh oleh manusia. Dan teman Author sendiri pernah menyentuhnya. Begitu kata teman Author itu. Author berpikir wow. Lumba-lumba sungai. Bukankah lumba-lumba sungai hanya hidup disungai Amazon dan sungai Yangtze di China. Entah teman Author itu berbohong atau tidak tapi Author sendiri selama berada didesa itu. Tidak berkesempatan melihat penampakan Lumba-lumba itu. Tapi kalau apa yang dikatakan teman Author itu benar, maka betapa meruginya bangsa ini yang bahkan tidak tahu kalau kita telah kehilangan satu hewan langka yang kita sendiri tidak tahu kalau hewan itu dulunya ada di Negara kita ini.

Maka dari itu, sebelum semua hewan yang dulunya pernah kita lihat wujudnya dan pernah kita dengar suaranya benar-benar hilang dari bumi dan Negara kita yang tercinta ini. Maka mari kita selamatkan hutan kita bersama! Selamat hutan kita maka selamat juga hewan-hewan langka yang hidup didalamnya.



It's Fun and Free to Support the Writers, Give Them a Cup of Coffee by Sharing Their Hard Work to Your Social Media. Let us Grow Together and Make more and more Creativities in Our Hands:


Comments

You must be Logged in to Post a Comment. OR Register Here for Only Less than 1 Minute!

About Author
Recent Articles
Mar 30, 2020, 2:11 PM - Shinta Kusuma
Mar 30, 2020, 2:01 PM - Indraz
Mar 30, 2020, 12:29 PM - novi kurniasih
Mar 30, 2020, 12:27 PM - novi kurniasih
Mar 26, 2020, 10:13 AM - Indraz
Mar 26, 2020, 9:54 AM - Risa Fitriana
Mar 26, 2020, 9:42 AM - Moh Khozah